Bukan Negara Arab, Iran Adalah Persia: Ini Sejarah dan Penjelasannya

3 hours ago 2

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

08 March 2026 02:45

Jakarta, CNBC IndonesiaBanyak orang mengenal negara Iran itu dengan dua nama berbeda: Persia dan Iran. Meski sering dianggap berbeda, keduanya sebenarnya merujuk pada wilayah yang sama, hanya berasal dari perspektif penamaan yang berbeda.

Secara historis, istilah Persia lebih populer di dunia Barat. Nama ini berasal dari kata Pars atau Persis, wilayah di Iran selatan yang menjadi pusat kekuasaan bangsa Persia pada masa kuno.

Bangsa Yunani kuno kemudian menggunakan istilah Persia untuk menyebut seluruh kekaisaran yang dipimpin bangsa tersebut, terutama ketika menulis tentang konflik Yunani-Persia sekitar 2.500 tahun lalu. Dari situlah nama Persia menjadi dikenal luas di dunia Barat.

Secara etnis dan sejarah, bangsa Persia merupakan bagian dari kelompok Indo-Iranian, cabang dari bangsa Indo-Eropa yang berasal dari wilayah Asia Tengah.

Kelompok ini diperkirakan bermigrasi ke dataran tinggi Iran sekitar 1000-700 sebelum Masehi, kemungkinan melalui wilayah Sogdiana dan Transoxiana. Migrasi tersebut terjadi dalam periode perpindahan besar populasi di Timur Dekat sekitar 1200-900 SM.

Dalam catatan peradaban kuno, mereka dikenal dengan nama Parsua, Parsu, atau Parsumash. Nama-nama ini kemudian berkembang menjadi Pars atau Persis, yang kini dikenal sebagai provinsi Fars di Iran modern.

Sebagian kelompok Persia awal menetap di Pegunungan Zagros bersama bangsa Medes, sementara kelompok lainnya bergerak ke selatan dan menetap di wilayah Persis. Kota Pasargadae (sekarang di Iran selatan) kemudian menjadi pusat awal kekuasaan Persia sebelum ekspansi kekaisaran memindahkan pusat pemerintahan ke Susa (sekarang Shush).

Peradaban Persia juga mewarisi dan menggabungkan unsur budaya dari peradaban Elam, sekaligus membawa bahasa dan identitas budaya mereka sendiri. Peradaban Elam adalah salah satu peradaban kuno tertua di Timur Tengah yang berkembang di wilayah Iran barat daya, jauh sebelum munculnya Kekaisaran Persia.

Asal-usul nama Iran

Sementara dunia Barat menggunakan nama Persia, masyarakat setempat sejak lama menyebut wilayah mereka sebagai Iran.

Istilah ini berasal dari kata Arya, yang secara umum berarti "orang yang terhormat" atau "bangsa Arya". Dalam perkembangan bahasa, istilah tersebut menjadi Iran atau Iran-Shahr, yang berarti "tanah bangsa Arya".

Penggunaan nama ini dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-3 M, ketika raja Dinasti Sassania, Ardashir I, menyebut dirinya sebagai penguasa dari "Eran dan An-Eran" dalam prasasti kerajaan.

Nama Iran juga muncul dalam berbagai sumber sejarah dan sastra Persia, termasuk karya epik klasik Shahnameh.

Persia ke Iran

Selama berabad-abad, dua nama ini digunakan secara berbeda. Penduduk lokal menggunakan nama Iran, sementara dunia Barat tetap menyebut wilayah tersebut sebagai Persia.

Perubahan resmi baru terjadi pada 21 Maret 1935, ketika Shah Reza Pahlavi meminta negara-negara lain menggunakan nama Iran dalam korespondensi diplomatik dan hubungan internasional.

Keputusan tersebut diambil yang bertujuan untuk menegaskan identitas nasional, menghubungkan negara modern dengan warisan sejarah kuno Iran, dan mendukung proyek modernisasi dan nasionalisme pada era pemerintahan Pahlevi

Meski demikian, pada 1959 pemerintah Iran menyatakan bahwa kedua istilah, Persia dan Iran, dapat digunakan. Namun dalam praktiknya, Iran menjadi nama resmi yang paling umum digunakan dalam konteks politik dan internasional hingga saat ini.

Secara sederhana, Persia lebih sering digunakan dalam konteks sejarah dan budaya, sementara Iran merupakan nama resmi negara modern.

Bukan Negara Arab

Meskipun terdapat sejumlah kelompok etnis minoritas lain di Iran seperti Azeri, Kurdi, Lur, Baluchi, dan Arab, etnis Persia secara historis merupakan kelompok dominan di negara itu.

Sebaliknya, bangsa Arab terutama mendiami Semenanjung Arab serta wilayah Afrika Utara dan Levant. Mayoritas penduduk di negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Yordania, Mesir, dan Suriah mengidentifikasi diri sebagai Arab. Bangsa Arab berbagi ciri budaya yang sama serta keterkaitan linguistik yang kuat karena penggunaan bahasa Arab.

Bahasa Persia (Farsi)

Perbedaan bahasa merupakan faktor penting lain yang memisahkan Iran dari negara-negara Arab. Bahasa resmi Iran adalah Persia atau Farsi, yang termasuk dalam cabang Indo-Iran dari rumpun bahasa Indo-Eropa.

Bahasa Persia memiliki sistem tulisan sendiri yang memang diadaptasi dari alfabet Arab, namun kosakata, tata bahasa, dan akar linguistiknya sepenuhnya berbeda dari bahasa Arab.

Sebaliknya, bahasa Arab merupakan bahasa Semit dan menjadi bahasa resmi di lebih dari 20 negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Secara struktur tata bahasa, sistem akar kata, hingga perkembangan historis, Farsi dan Arab memiliki perbedaan yang signifikan.

Meski Iran menggunakan aksara Arab yang telah dimodifikasi dan mayoritas penduduknya beragama Islam seperti banyak negara Arab, kesamaan tersebut tidak menjadikan Iran sebagai bagian dari bangsa Arab.

Meskipun bahasa Persia menyerap sejumlah kosakata Arab, terutama akibat pengaruh Islam, bahasa ini tetap merupakan bahasa yang berbeda dan tidak saling dipahami (mutually unintelligible) dengan bahasa Arab.

Perbedaan Sejarah

Sejarah Iran juga menjadi aspek kunci yang membedakannya dari negara-negara Arab. Kekaisaran Persia kuno, yang didirikan oleh Cyrus Agung pada tahun 550 SM, merupakan salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dan dikenal atas pencapaian budaya yang kaya serta sistem pemerintahan yang maju.

Bangsa Persia membangun peradaban yang khas, lengkap dengan arsitektur megah, seni, sastra, serta kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan filsafat.

Kekaisaran Akhemeniyah, Parthia, dan Sassania termasuk di antara kekaisaran Persia paling berpengaruh yang membentuk budaya dan identitas Iran.

Sebaliknya, sejarah bangsa Arab sangat terkait dengan munculnya Islam pada abad ke-7 M.

Nabi Muhammad mempersatukan suku-suku di Semenanjung Arab, yang kemudian mendorong ekspansi cepat Kekhalifahan Islam ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan wilayah lainnya. Hal ini melahirkan peradaban Arab-Islam yang luas dan berpengaruh terhadap banyak kawasan dan budaya, termasuk sebagian wilayah yang kini menjadi bagian dari Iran.

Secara geografis, Iran terletak di Asia Barat Daya, berdekatan dengan teluk Oman, teluk Persia, dan laut kaspia di antara Irak dan Pakistan. Selain itu, Iran berada di kawasan Timur Tengah dan sering disebut bersamaan dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Sejarah Iran

Iran berasal dari peradaban Persia yang sudah berusia ribuan tahun, jauh sebelum munculnya Negara Arab. Kekaisaran-kekaisaran besar seperti Achaemenid (abad ke-6 SM) menandai Iran sebagai pusat sejarah dan kebudayaan sebelum masa Islam.

Sementara itu, identitas budaya Arab berkembang terpisah di Semenanjung Arab dan baru menyebar luas setelah munculnya Islam pada abad ke-7 M.

Mayoritas penduduk Iran berasal dari etnis Persia, meskipun negara ini juga dihuni oleh berbagai kelompok etnis lain seperti Azeri, Kurdi, dan Arab dalam jumlah yang lebih kecil.

Berbeda dengan negara-negara Arab yang identitas kolektifnya sangat erat dengan bahasa Arab dan keanggotaan dalam Liga Arab, Iran tidak termasuk dalam blok politik dan budaya tersebut.

Anggapan bahwa Iran adalah negara Arab kerap muncul karena faktor agama. Mayoritas penduduk Iran memang beragama Islam, sama seperti banyak negara Arab di Timur Tengah.

Namun, agama tidak menentukan identitas etnis. Secara historis, bahasa, dan budaya, Iran berakar pada peradaban Persia, bukan Arab. Perbedaan ini menegaskan bahwa Islam dan identitas Arab adalah dua hal yang tidak dapat disamakan.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |