Bima Arya Ajak Mahasiswa Jadi Generasi Kosmopolitan Berkarakter Kuat

8 hours ago 1

Jakarta -

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya untuk tumbuh menjadi generasi kosmopolitan yang memiliki wawasan global, mental aktivis, serta kecintaan kuat terhadap Indonesia. Menurutnya, generasi kosmopolitan bukan hanya generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan global.

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Talkshow Orientasi Dinamika Kampus (ORDIK) di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/9).

Generasi kosmopolitan diharapkan mampu mengembangkan kapasitas dan karya di tingkat global tanpa meninggalkan karakter serta kecintaan terhadap Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa juga perlu memiliki mental aktivis untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari jati diri.

"Insyaallah mental kalian adalah mental aktivis. Punya karya global dan hati nasionalis," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).

Bima menambahkan, semangat tersebut sejalan dengan nilai fastabiqul khairat yang menjadi salah satu prinsip penting dalam Muhammadiyah. Semangat berlomba-lomba dalam kebaikan bukan hanya mendorong seseorang untuk memberi manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas diri sekaligus membawa dampak positif bagi lingkungan.

Karena itu, Bima mengajak mahasiswa baru untuk bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah sekaligus memanfaatkan lingkungan tersebut sebagai ruang untuk terus bertumbuh.

Ia menilai Muhammadiyah memiliki ekosistem pendidikan, sosial, dan pengabdian yang luas sehingga dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan diri dan memperluas kontribusi.

Selain kapasitas dan wawasan global, Bima menekankan pentingnya karakter sebagai fondasi keberhasilan. Ia menyebut tidak hanya kompetensi yang dibutuhkan untuk membawa seseorang menuju puncak kesuksesan, tetapi karakter juga diperlukan agar seseorang mampu mempertahankan pencapaian tersebut.

"Yang membawa Anda ke puncak itu kompetensi. Tapi membuat Anda bertahan di puncak itu karakter," tegasnya.

Bima menjelaskan karakter tercermin dari ketekunan, kemampuan memanfaatkan waktu, kemauan mendengarkan orang lain, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, karakter tersebut tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui proses panjang yang kerap tidak terlihat di balik pencapaian seseorang.

Bima mengibaratkan kesuksesan bagaikan fenomena gunung es. Masyarakat sering kali hanya melihat keberhasilan yang tampak, seperti kekayaan, popularitas, atau pengaruh seseorang. Padahal, di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang yang dibangun melalui kesabaran, disiplin, kemauan mendengar, doa, serta kemampuan menghadapi tantangan.

Dalam perjalanan tersebut, Bima juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan peran orang-orang di sekitar. Dukungan dan doa dari orang lain dapat membantu seseorang mencapai keberhasilan sekaligus menjaga agar tidak mudah terjatuh ketika menghadapi tantangan.

Karena itu, Bima mengajak mahasiswa untuk memperluas pertemanan sekaligus menjaga silaturahmi. Ia memperkenalkan konsep Circle of Esteem, yaitu lingkungan persahabatan yang terdiri atas orang-orang yang saling mendorong, menolong, mendoakan, menguatkan, dan mengingatkan.

Bima berpesan agar mahasiswa tetap berada dalam lingkungan yang kondusif bagi perkembangan diri. Mahasiswa dapat berteman dengan siapa saja dan menekuni bidang apa pun, tetapi perlu membangun lingkaran terdekat yang dapat memberikan pengaruh positif dalam perjalanan menjadi pemimpin.

"Berteman bisa dengan siapa saja. Tapi bersahabat harus dengan yang saling memberikan maslahat," pungkasnya.

Tonton juga video "Wamendagri Tegur Pemprov Kaltim yang Viral Langgar Prinsip Efisiensi"

(ega/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |