Ancaman Tarif Trump ke RI, PHK hingga Harga Makanan dan Minuman Naik

13 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia — Para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengaku prihatin atas langkah pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam menerapkan tarif impor resiprokal sebesar 32% untuk komoditas asal Indonesia.

Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman mengatakan bahwa Indonesia dan AS telah menjalin kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

"Indonesia dan AS telah menjalin kerjasama yang saling menguntungkan, AS merupakan pasar ekspor prioritas untuk beberapa produk unggulan makanan dan minuman dari Indonesia, sedangkan industri makanan dan minuman Indonesia mengimpor berbagai bahan baku industri dari AS," ujar Adhi dalam siaran pers, Sabtu (5/4/2025).

Adapun AS membutuhkan produk unggulan makanan dan minuman dari Indonesia seperti produk kopi, kelapa, kakao, minyak sawit, lemak nabati, produk perikanan dan turunannya. Sedangkan Indonesia membutuhkan bahan baku industri dari AS, seperti gandum, kedelai dan susu.

Menurutnya, menjaga stabilitas dan kelancaran hubungan perdagangan antara Indonesia dan AS adalah hal yang sangat penting bagi kedua negara. Gappmi mengidentifikasi beberapa dampak utama dari tarif ini.

Tarif impor akan meningkatkan biaya produksi industri nasional yang menggunakan bahan baku dari AS dan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional, serta meningkatkan harga jual produk di Indonesia

Lalu, tarif yang tinggi dapat menyebabkan penurunan volume ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke AS serta negara tujuan ekspor lainnya, yang berdampak negatif pada kinerja dan pertumbuhan industri nasional.

Terakhir, penurunan ekspor dapat mengancam lapangan kerja di sektor makanan dan minuman di Indonesia, di saat situasi ekonomi yang sedang lesu.

Oleh karena itu, GAPMMI mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah strategis untuk melakukan negosiasi diplomatik. Pemerintah Indonesia dapat melakukan negosiasi dengan pemerintah AS untuk mencari solusi yang lebih baik dan mengurangi dampak negatif tarif.

Selain itu pemerintah juga perlu menganalisa dampak penerapan tarif secara menyeluruh dan memberikan dukungan kebijakan kepada industri makanan dan minuman untuk mengatasi kenaikan biaya produksi dan menjaga daya saing.

Kemudian pemerintah Indonesia juga harus menciptakan stabilitas perekonomian nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gapmmi juga meminta pemerintah mendorong hilirisasi industri sektor agrobisnis dan substitusi impor bahan baku dengan bahan baku nasional pada jenis komoditas yang dimungkinkan.

Pemerintah Indonesia juga perlu mempertahankan kebijakan tinkat komponen dalam negeri (TKDN) sebagai respons kenaikan BMI Amerika. Kebijakan ini telah terbukti meningkatkan permintaan produk manufaktur dalam negeri terutama dari belanja pemerintah.

Kebijakan tersebut juga memberi jaminan kepastian investasi dan dapat menarik investasi baru ke Indonesia. Pasalnya banyak tenaga kerja Indonesia bekerja pada industri yang produknya dibeli setiap tahun oleh pemerintah. Pelonggaran kebijakan ini akan berakibat hilangnya lapangan kerja dan berkurangnya jaminan investasi di Indonesia.

Terakhir, Gapmmi meminta pemerintah mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS.


(mkh/mkh)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Segera Umumkan Tarif Untuk Mobil hingga Farmasi

Next Article Video: BI Beberkan 5 Indikator Ekonomi Dunia Bakal Meredup ke Depan

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |