Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda, Rupiah, sempat ambruk terhadap dolar AS pada pukul 09:32 WIB, Selasa (25/3/2025). Rupiah turun sebesar 0,54% di angka Rp 16.640/US$, berdasarkan data Refinitiv.
Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, posisi ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah, bahkan melewati titik terendahnya pada intraday 23 Maret 2020 yang menyentuh posisi Rp16.620/US$. Namun, level intraday ini belum melewati posisi 1998 yang sempat menyentuh level Rp16.800/US$ di intraday 17 Juni 1998.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah pelemahan rupiah kemarin. Dia pun melihat rupiah dan pasar saham RI telah kembali mengalami rebound.
Dia pun menilai faktor pelemahan rupiah dan pasar saham Tanah Air lebih dipengaruhi faktor sentimental eksternal.
"Kita sudah melihat tentu masih ada beberapa faktor sentimental luar. Kalau rupiah kan, naik turun biasa saja," papar Airlangga saat ditemui di Istana Negara, Rabu (26/3/2025).
Ketika disinggung perihal langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas rupiah, Airlangga mengungkapkan hal ini merupakan tugas Bank Indonesia.
"Ya ini kan (tugas) BI (menjaga) stabilitas rupiah," ujarnya.
Sementara itu, ketika ditanya soal rupiah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memilih diam dan berlalu pergi. Respons serupa juga ditunjukkan oleh Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu.
(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: APBN Februari Defisit, Airlangga Tegaskan Fiskal RI Tetap Aman
Next Article Video: 7 Menteri Prabowo Kumpul Konsolidasi Quick Win Program Ekonomi