Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Beberapa waktu belakangan, penulis kerap bepergian ke berbagai destinasi wisata di Indonesia, sebuah kebiasaan yang menjadi titik balik reflektif mendalam. Sebagai traveler yang sejak kecil menjelajahi dunia, penulis dulu jarang nikmati keindahan negeri sendiri.
Belakangan apresiasi terhadap Indonesia tumbuh pesat. Siapa sangka, wisata lokal menghasilkan emisi karbon lebih rendah, mendukung masyarakat setempat, sekaligus memacu produk domestik bruto (PDB) nasional.
Pengalaman bepergian ini bukan sekadar liburan, melainkan mata air awal penulisan ini dalam membedah paradoks pariwisata kita: wisata bisa jadi pilar ketiga keberlanjutan, ekonomi, sosial, lingkungan, jika dikelola benar.
Wisata meningkatkan PDB, tapi dampak lingkungannya merusak. Destinasi seperti Bali dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur) yang diwarnai overtourism mengalami erosi pantai, kerusakan terumbu karang, dan sumber daya alam menipis. Penulis yakin implementasi kebijakan wisata lokal yang tepat bisa memacu ekonomi sekaligus menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
Praktik baik sudah ada. Stasiun pengisian ulang botol air minum telah tersedia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Badung. Hal tersebut mendukung reuse daripada plastik sekali pakai.
Penulis menyarankan agar praktik tersebut diperluas ke stasiun kereta, terminal bus, dan pelabuhan. Selama bepergian dua bulan terakhir, penulis menginap di resor yang mana ada penanaman sayur dan buah sendiri, mengurangi emisi GHG transportasi.
Sheraton Belitung Resort misalnya memperoleh Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN pada Mei 2024. Mereka merupakan resor pertama Bangka Belitung di mana sebagian besar energinya berasal dari sumber terbarukan. Mereka menggunakan pasir berpori penyerap air hujan untuk lantai, sebuah langkah yang berkontribusi mengurangi kebutuhan pembersih kimia.
Selain itu, Dialoog Banyuwangi telah menerapkan inisiatif farm-to-table melalui kebun organiknya sendiri, di mana sayur dan rempah segar langsung dipanen untuk restoran. Langkah tersebut mengurangi jejak karbon transportasi makanan dan mendukung pertanian lokal berkelanjutan.
Sayangnya implementasi masih minim. Hanya segelintir resor yang menerapkan langkah tersebut. Stasiun refill belum merata. Pemerintah wajib mendorong resor dan Airbnb memisahkan sampah tamu, beri insentif pajak bagi yang membangun desain bersertifikat berkelanjutan serta transisi ke energi terbarukan.
Pemerintah juga wajib mewajibkan analisis siklus hidup (life-cycle analysis) pada operasional mereka untuk meminimalkan limbah dan emisi. Selain itu, kolaborasi dengan agen travel bagikan "sustainable travel kit" seperti reusable cotton pads, gelas tahan lama, kurangi plastik sekali pakai dan sikat gigi disposable.
Luncurkan program "Refill Cup Favoritmu" diskon minuman bagi wisatawan yang membawa gelas sendiri di setiap stasiun transportasi umum. Pemerintah juga harus mewajibkan industri hotel dan Airbnb merilis laporan dampak transparan setiap tahun.
Pemerintah jangan melewatkan momentum emas ini! Kebijakan tegas wisata berkelanjutan bukan beban, melainkan investasi cerdas memacu PDB, menciptakan lapangan kerja lokal, dan menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.
Penulis memiliki keyakinan penuh kalau Indonesia bisa menjadi destinasi wisata hijau dunia jika bergerak dari sekarang. Pembaca CNBC Indonesia, saatnya mendukung revolusi ini!


















































