Jakarta, CNBC Indonesia - Dentuman keras kembali terdengar di Lembah Bekaa, Lebanon timur, saat serangkaian serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai sekitar 50 lainnya.
Dilansir Reuters, Minggu (22/2/2026), serangan itu disebut menjadi salah satu yang paling mematikan di wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus memicu kekhawatiran baru atas rapuhnya gencatan senjata antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah.
Militer Israel menyatakan telah menargetkan lokasi-lokasi milik Hizbullah di kawasan Baalbek, yang terletak di bagian timur Lembah Bekaa. Dalam pernyataan resmi, militer Israel mengatakan pihaknya menyerang pusat-pusat komando Hizbullah di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu (21/2/2026), militer Israel menyebut telah "melumpuhkan beberapa teroris dari jaringan rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda ... yang baru-baru ini diidentifikasi beroperasi untuk mempercepat kesiapan organisasi dan proses pembangunan kekuatan, sambil merencanakan serangan tembakan ke arah Israel."
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya reda sejak kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 2024. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk mengakhiri lebih dari setahun baku tembak lintas perbatasan yang berpuncak pada gelombang serangan Israel yang secara signifikan melemahkan kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut.
Namun sejak itu, Israel dan Hizbullah saling menuduh melakukan pelanggaran.
Hizbullah pada Sabtu mengonfirmasi bahwa delapan pejuangnya tewas dalam serangan Jumat di kawasan Bekaa, termasuk seorang komandan bernama Hussein Mohammad Yaghi. Pernyataan itu tidak memerinci lokasi pasti tewasnya para anggota tersebut, tetapi menegaskan mereka gugur akibat serangan Israel.
Adapun sejak gencatan senjata 2024, pejabat AS dan Israel terus mendesak otoritas Lebanon untuk membatasi persenjataan Hizbullah. Di sisi lain, para pemimpin Lebanon memperingatkan bahwa perluasan serangan Israel berpotensi makin mengguncang stabilitas negara yang sudah terpuruk akibat krisis politik dan ekonomi berkepanjangan.
Gelombang serangan terbaru ini dinilai berisiko menguji komitmen kedua pihak terhadap kesepakatan yang ditengahi Washington. Situasi menjadi makin sensitif karena wilayah timur Lebanon relatif jarang mengalami serangan mematikan dalam beberapa pekan terakhir, sehingga eskalasi kali ini dipandang sebagai perkembangan signifikan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras serangan udara Israel semalam di wilayah Sidon dan sejumlah kota di Bekaa. Kantor kepresidenan menyebut serangan tersebut sebagai "kekerasan baru" terhadap kedaulatan Lebanon serta pelanggaran terhadap kewajiban yang diatur PBB.
Ia juga mendesak negara-negara yang mendukung stabilitas kawasan, termasuk AS, untuk menekan agar serangan segera dihentikan guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
(luc/luc)
Addsource on Google


















































