Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan di Selat Taiwan kembali memanas di awal tahun 2026. Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam pidato Tahun Baru bersumpah akan mempertahankan kedaulatan pulau demokratis tersebut setelah Beijing melancarkan latihan militer besar-besaran yang mengepung wilayah Taiwan.
Dalam latihan tersebut, Beijing mengerahkan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, hingga peluncuran rudal. Langkah ini disebut Taipei sebagai tindakan "provokasi tingkat tinggi".
"Posisi saya jelas: mempertahankan kedaulatan nasional dengan teguh, memperkuat pertahanan, dan membangun mekanisme pertahanan demokrasi yang kuat," tegas Lai dalam pidato televisinya, Kamis (1/1/2026).
Di sisi lain, Beijing melalui Kantor Urusan Taiwan mengecam pidato tersebut sebagai kebohongan dan omong kosong. Menurut ekonomi terbesar Asia itu, pidato ini merupakan provokasi.
"Lai terus memicu konfrontasi lintas selat dengan narasi demokrasi melawan otoriterisme," ujar Beijing.
Taiwan telah menanggapi tekanan yang meningkat dengan meningkatkan pengeluaran pertahanan untuk persenjataan yang lebih kecil dan lebih lincah agar militernya dapat melakukan perang asimetris melawan kekuatan China yang lebih kuat.
Namun, Taiwan berada di bawah tekanan AS untuk berbuat lebih banyak. Pemerintahan Lai bertujuan untuk meningkatkan anggaran pertahanan tahun 2026 menjadi lebih dari tiga persen dari produk domestik bruto dan meningkatkan pengeluaran menjadi lima persen dari PDB pada tahun 2030.
Di sisi lain, hal ini memicu perdebatan antara Partai Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan, dua penguasa parlemen yang saat ini kurang bersahabat dengan Partai Progresif Demokratik Lai.
Keduanya sangat marah setelah Perdana Menteri (PM) Cho Jung-tai, rekan separtai Lai, menolak untuk menandatangani amandemen yang didukung oposisi terhadap RUU pembagian pendapatan, sehingga mencegahnya berlaku. Kondisi ini ditakutkan akan memicu pembalasan politik dalam pembahasan pengeluaran pertahanan.
Lai secara terbuka mendukung keputusan Cho, yang semakin membuat marah partai-partai oposisi. Namun, ia menegaskan agar tetap bersatu.
"Saya berharap partai penguasa dan oposisi kita dapat bersatu," kata Lai.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]


















































