Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
05 March 2026 15:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik global dan eskalasi militer antarnegara kerap menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran serta aksi jual secara masif di kalangan pelaku pasar modal.
Pasca pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 lalu di Iran, indeks S&P500 merespons dengan naik sebesar 0,04% pada pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), yang mencerminkan tidak terlalu khawatirnya investor.
Meskipun mengalami sedikit kenaikan, indeks mulai menunjukkan penurunan pada pada Selasa (3/3/2026) dengan melemah sebesar 0,94%, sejalan dengan pola historis di mana pasar sedikit mengalami sell-off.
Walaupun pada penutupan kemarin Rabu (4/3/2026) indeks ditutup menguat sebesar 0,78% mencerminkan ketenangan investor di tengah dinamika geopolitik yang sedang terjadi saat ini..
Secara psikologis, investor institusional maupun ritel cenderung merelokasi portofolio mereka ke instrumen safe haven pada masa-masa awal terjadinya krisis.
Kendati demikian, tinjauan mendalam terhadap data historis sejak tahun 1979 justru menunjukkan bahwa indeks S&P 500, yang menjadi acuan utama pasar saham Amerika Serikat sekaligus barometer global, memiliki data historis kemampuan bertahan dan pemulihan yang sangat konsisten.
Berdasarkan data kuantitatif, dampak pecahnya suatu konflik terhadap bursa saham umumnya bersifat sementara dan jarang mendisrupsi tren pertumbuhan jangka panjang. Berikut adalah ringkasan pergerakan persentase S&P 500 terhitung dari tanggal dimulainya berbagai konflik global:
Volatilitas Terbatas pada Fase Awal Krisis
Merujuk pada metrik di atas, pergerakan indeks S&P 500 dalam rentang waktu satu minggu hingga satu bulan pasca meletusnya konflik menunjukkan hasil yang fluktuatif namun masih cukup moderat. Indeks S&P merupakan bagian dari bursa Wall Street.
Reaksi negatif paling signifikan terjadi saat invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990 atau Perang Teluk, di mana indeks melemah -4,4% pada minggu pertama dan terkoreksi lebih dalam hingga -9,3% pada bulan pertama.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh guncangan pasokan minyak global yang memicu lonjakan harga energi secara drastis pada masa itu, sehingga langsung mengancam profit margin korporasi.
Sebaliknya, pada beberapa kasus modern seperti aneksasi Krimea (2014) atau invasi Rusia ke Ukraina (2022), pasar justru tidak mencatatkan koreksi pada minggu pertama.
Hal ini mengindikasikan bahwa kepanikan awal di bursa saham sering kali lebih didorong oleh sentimen ketidakpastian (noise) jangka pendek daripada perubahan fundamental ekonomi yang riil.
Dominasi Faktor Makroekonomi pada Jangka Panjang
Tren kinerja pasar menunjukkan pola yang jauh lebih terarah dan stabil ketika diamati dalam rentang waktu 12 bulan setelah konflik dimulai. Dari delapan peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah modern, enam di antaranya sukses mencetak imbal hasil positif dalam satu tahun.
Konflik Perang Gaza (Oktober 2023) mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan S&P 500 sebesar 32,2%, yang kemudian diikuti oleh invasi AS ke Irak (2003) sebesar 27,0%.
Penurunan tajam justru terjadi pada periode invasi AS ke Afghanistan (2001) dengan koreksi -26,7% dalam 12 bulan. Namun, jika dibedah lebih lanjut, pelemahan ini secara fundamental didorong oleh dot-com bubble dan resesi ekonomi yang menekan valuasi saham di AS, bukan semata-mata karena dampak invasi militer.
Demikian pula dengan penurunan -6,1% pasca invasi Rusia ke Ukraina (2022), yang secara kronologis terjadi bertepatan dengan siklus pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve guna menekan laju inflasi pasca pandemi.
Fokus pada Fundamental dan Valuasi
Mencermati data historis tersebut, sejarah mengkonfirmasi satu prinsip krusial dalam dinamika pasar modal yaitu letupan konflik geopolitik sangat jarang menjadi katalis tunggal yang merubah arah tren jangka panjang.
Perhatian pasar pada akhirnya akan selalu kembali berfokus pada prospek pertumbuhan laba emiten, ketersediaan likuiditas di pasar, dan arah kebijakan suku bunga bank sentral ketika merespon kejadian-kejadian yang ada.
Kondisi fundamental inilah yang terbukti memiliki pengaruh jauh lebih dominan dalam membentuk valuasi dan pergerakan indeks saham dibandingkan fluktuasi sementara akibat sentimen geopolitik.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google


















































