Impor Sulfur dari Arab Cs Terganggu, Ada Pengalihan dari Negara Lain?

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Gangguan pasokan sulfur dari kawasan Timur Tengah mulai mendorong pelaku industri nikel di Indonesia mencari sumber alternatif. Namun, upaya pengalihan impor tersebut dinilai tidak mudah dan penuh tantangan.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengungkapkan, sejumlah pelaku usaha saat ini mulai menjajaki pasokan sulfur dari negara lain di luar Timur Tengah sebagai langkah antisipasi.

"⁠⁠Akibat gangguan pasokan dan kelangkaan yang telah terjadi, beberapa pelaku usaha mulai mengusahakan sumber-sumber lain yang berasal dari negara-negara di luar Timur Tengah," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).

Meski demikian, ia menilai langkah tersebut tidak serta-merta dapat menggantikan pasokan utama. Pasalnya, negara alternatif memiliki kapasitas produksi yang lebih terbatas.

"Hal ini tidak mudah, karena jaraknya bisa lebih jauh dan jumlahnya tidak sebanyak yang diproduksi oleh negara-negara Timur Tengah penghasil minyak bumi dan gas alam. Disamping itu harga sulfur dunia saat ini telah mengalami kenaikan yang sangat meningkat," katanya.

Oleh sebab itu, beberapa perusahaan juga mulai mempertimbangkan impor dalam bentuk asam sulfat sebagai substitusi sulfur. Namun opsi ini juga menghadapi kendala, mulai dari kompleksitas logistik, kebutuhan penanganan khusus, hingga proses perizinan impor yang dinilai masih cukup rumit.

"⁠Diperlukan kebijakan pemerintah dalam hal untuk mempermudah pemberian izin import asam sulfat pada saat kondisi darurat seperti ini," katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mulai mewaspadai potensi gangguan pada rantai pasok sulfur yang dapat berdampak pada program hilirisasi nikel. Hal tersebut diketahui setelah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Dalam pertemuan tersebut, Luhut menyampaikan sejumlah perkembangan terkini, termasuk risiko dari konflik global yang berpotensi berkepanjangan terhadap sektor energi dan komoditas strategis.

Melalui unggahan di akun instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, ia menyampaikan bahwa dalam tiga bulan ke depan, pertumbuhan dan aktivitas ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.

Namun demikian, pemerintah telah menyiapkan skenario untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan guna menghadapi situasi global yang semakin memburuk.

"Terutama jika konflik global ini berlangsung lebih lama dari yang kita perkirakan. Salah satu yang kami cermati adalah lonjakan harga energi," terang Luhut, dikutip Kamis (23/4/2026).

Selain itu, pemerintah juga mencermati potensi gangguan rantai pasok komoditas penting lainnya, terutama sulfur. Luhut menilai, komoditas ini memiliki peran krusial dalam proses hilirisasi nikel serta pengembangan baterai kendaraan listrik di Indonesia.

"Selain energi, kami juga mencermati gangguan rantai pasok komoditas strategis lainnya; seperti sulfur yang krusial bagi hilirisasi nikel dan baterai kendaraan listrik," ujarnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |