Jakarta, CNBC Indonesia - Lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai menunjukkan pergerakan. Namun, kondisinya masih jauh dari normal, di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta kebijakan blokade maritim yang diberlakukan Presiden Donald Trump, sejak Senin.
Berdasarkan data LSEG, mengutip CNBC International Kamis (16/4/2026), setidaknya sembilan kapal tanker minyak telah melintasi Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Pergerakan ini menjadi sinyal awal bahwa jalur vital tersebut belum sepenuhnya lumpuh, meski risikonya masih tinggi.
Salah satu kapal tanker berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC), RHN, terpantau memasuki selat dari Teluk Oman pada Rabu. Kapal ini mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah. Dengan asumsi harga minyak US$80 per barel, nilai muatannya mencapai sekitar US$160 juta atau setara Rp2,72 triliun (kurs Rp17.000/US$).
VLCC lainnya, Alicia, juga tercatat melintasi selat menuju Teluk Persia sehari sebelumnya. Secara total, sedikitnya empat kapal tanker berbagai ukuran keluar-masuk Selat Hormuz pada hari tersebut.
Namun demikian, volume lalu lintas masih anjlok tajam. Pada Selasa, jumlah kapal tanker yang melintas tercatat 90% lebih rendah dibandingkan kondisi normal pada 27 Februari, sehari sebelum serangan militer AS dan Israel ke Iran.
Penurunan drastis ini terjadi seiring meningkatnya ancaman keamanan, termasuk potensi serangan balasan dari Iran. Bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata pada 7 April, lalu lintas kapal belum pulih signifikan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik terus memanas. AS dilaporkan menerapkan blokade terhadap lalu lintas maritim yang keluar-masuk pelabuhan Iran setelah negosiasi damai gagal. Sementara itu, Iran bersikeras bahwa mereka tetap memegang kendali atas jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu choke point energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini sebelum konflik pecah. Gangguan di kawasan ini disebut-sebut sebagai salah satu disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Dengan kondisi saat ini, kapal-kapal memang masih bisa melintas, tetapi dalam jumlah sangat terbatas dan dengan risiko tinggi. Pasar global pun terus memantau perkembangan situasi, mengingat setiap gangguan tambahan berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.
Trump Umumkan "Buka Permanen" Selat Hormuz?
Sementara itu, Trump mengatakan dia "membuka Selat Hormuz secara permanen". Dirinya mengklaim dia melakukan langkah itu untuk China dan dunia, di mana Trump juga mengatakan Beijing telah setuju "untuk tidak mengirim senjata ke Iran".
Awalnya Trump mengumumkan blokade jalur air vital itu pada hari Minggu setelah pembicaraan yang dimediasi Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan damai dengan Iran, di mana Selasa, Komando Pusat AS melaporkan bahwa kapal perang Amerika telah secara efektif memblokir semua perdagangan Iran melalui selat tersebut.
Namun, pada hari Rabu, Trump menyatakan dalam sebuah unggahan Truth Social bahwa "China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen". Ia menambahkan bahwa "saya melakukan ini untuk mereka juga- dan untuk Dunia".
Trump kemudian menyatakan bahwa Beijing telah "setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran". Bahwa, kata Trump, Presiden China Xi Jinping "akan memberi saya pelukan hangat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu".Sejak perang Iran pecah usai serangan ke Teheran oleh AS dan Israel, Trump kerap memberi sinyal yang berbeda-beda. Saat ini regulator bursa saham AS sedang menyelidiki kemungkinan transaksi aneh jelang pernyataan-pernyataan Trump untuk perang Iran.
(tfa/sef)
Addsource on Google


















































