The Fed Sudah Mengerek Suku Bunga, Apakah BI Rate Ikutan Naik?

3 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

17 September 2026 15:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuannya. Keputusan ini sejalan dengan proyeksi pelaku pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk yang pertama kali sejak Juli 2023. 

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026 memutuskan untuk menaikkan Fed Fund Rates nya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%. 

Seluruh anggota FOMC sepakat dengan keputusan tersebut, dengan hasil pemungutan suara berakhir 12-0, tanpa satu pun anggota yang menolak. 

The Fed mengambil langkah ini karena inflasi AS masih tinggi dan belum bergerak cepat menuju target The Fed di 2%. 

"Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat menuju target Komite sebesar 2%," tulis The Fed dalam pernyataan resminya.

Keputusan tersebut sekaligus mengubah arah kebijakan moneter AS. Sepanjang 2024 dan 2025, The Fed rajin memangkas bunga hingga batas atasnya turun dari 5,50% menjadi 3,75%.

Namun, tekanan inflasi yang belum benar-benar reda membuat The Fed kembali menginjak rem. Suku bunga pun dinaikkan untuk yang pertama kalinya di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Kenaikan ini mesti kita cermati, lantaran pergerakan suku bunga AS dapat mempengaruhi pergerakan dolar, arus modal asing, pasar obligasi, hingga ke nilai tukar rupiah. 

Arah The Fed juga sering dikaitkan dengan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Ketika bunga AS naik, BI dinilai perlu menjaga jarak suku bunga supaya aset berdenominasi rupiah tetap menarik bagi investor. 

Namun, seberapa kuat hubungan setiap perubahan suku bunga AS dengan Bi rate? 

BI Rate vs Fed Funds Rate

Jika melihat perjalanan sejak 2018, ada masa ketika BI baru bergerak beberapa bulan setelah The Fed. Namun, ada pula saat BI mengambil langkah lebih dahulu karena tekanan terhadap rupiah maupun inflasi sudah lebih mendesak.

Contoh pertama terlihat di 2018. Pada awal tahun, BI Rate masih berada di level 4,25%, sementara batas atas Fed Funds Rate telah mencapai 1,50%.

The Fed kemudian mulai menaikkan bunga pada Maret 2018. BI belum langsung mengikuti dan baru menaikkan bunga pada Mei, dari 4,25% menjadi 4,75%.

Setelah itu, BI menaikkan suku bunga dengan lebih agresif.

BI Rate dinaikkan menjadi 5,25% pada Juni, 5,50% pada Agustus, 5,75% pada September, dan akhirnya 6,00% pada November.

Sepanjang 2018, BI menaikkan bunga sebanyak 175 basis poin. Langkah agresif itu dibutuhkan untuk menahan tekanan terhadap rupiah dan menjaga agar dana asing tidak terus keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Pada akhir 2018, batas atas Fed Funds Rate mencapai 2,50%. Sementara BI Rate berada di level 6,00%, sehingga jarak keduanya mencapai 350 bps. 

BI menaikkan suku bunga sebagai langkah pre-emptive, front-loading,dan ahead of the curve menjaga daya saing pasar keuangan domestik di tengah guncangan eksternal.

BI menaikkan suku bunga secara agresif karena saat itu tren bunga tinggi terjadi di dunia, terutama setelah The Fed mengerek suku bunga empat kali pada 2018 yakni pada Maret, Juni, September dan Desember.

BI Lebih Dulu Turunkan Bunga

Cerita berbeda terjadi pada 2019, ketika arah bank sentral mulai berbalik menjadi "dovish".

BI lebih dulu memangkas bunga sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada 18 Juli 2019. The Fed pun baru mengambil langkah serupa pada 31 Juli atau sekitar 13 hari kemudian.

BI lebih dahulu memulai siklus penurunan bunga pada periode kali ini. Setelah pemangkasan pertama, BI kembali menurunkan suku bunga secara bertahap hingga mencapai 5,00% pada Oktober 2019.

The Fed juga terus memangkas bunga. Batas atas Fed Funds Rate yang semula berada di level 2,50% turun menjadi 1,75% pada Oktober.

Meski sama-sama melonggarkan kebijakan, BI tetap menjaga jarak bunga yang lebar. Selisih BI Rate dan batas atas Fed Funds Rate bertahan di kisaran 3,25-3,50 bps.

Jarak tersebut memberi BI ruang untuk membantu perekonomian melalui penurunan bunga tanpa mengurangi daya tarik aset rupiah secara berlebihan.

Pandemi Membuat The Fed Bergerak Lebih Cepat

Memasuki 2020, pandemi Covid-19 mengubah keadaan dalam waktu singkat. Aktivitas ekonomi terhenti secara tiba-tiba dan membuat pasar keuangan dunia dilanda kepanikan.

BI sebenarnya sudah memangkas bunga menjadi 4,75% pada 20 Februari 2020. Sekitar dua pekan kemudian, The Fed menggelar rapat darurat pada 3 Maret dan memangkas bunga sebesar 50 basis poin.

Tekanan ekonomi terus membesar, yang membuat The Fed kembali mengadakan rapat darurat pada 15 Maret dan menurunkan batas atas Fed Funds Rate hingga menjadi hanya 0,25%.

Berbeda halnya, BI tidak memangkas bunga sedalam itu dalam waktu singkat. BI memilih menurunkannya sedikit demi sedikit, dari 4,50% pada Maret menjadi 4,25% pada Juni, 4,00% pada Juli, dan 3,75% pada November.

Perbedaan kecepatan tersebut membuat jarak bunga kedua negara melebar. Pada Maret-Mei 2020, BI Rate berada 4,25 bps di atas batas atas Fed Funds Rate.

Itu menjadi salah satu momen spread terbesar. 

BI kemudian kembali memangkas bunga menjadi 3,50% pada Februari 2021. Level tersebut dipertahankan sampai pertengahan 2022, sementara The Fed tetap menjaga batas atas bunganya di level 0,25%.

Situasi kembali berubah pada 2022. Inflasi AS melonjak cukup tajam setelah kenaikan harga komoditas global akibat perang Ukrain dan Russia, yang memaksa The Fed untuk mengakhiri era suku bunga rendah.

The Fed mulai menaikkan bunga pada Maret 2022. Setelah itu, kenaikan berlangsung cukup agresif. Fed Funds Rate mencapai 1,00% pada Mei, 1,75% pada Juni, dan 2,50% pada Juli.

Pada saat yang sama, BI masih mempertahankan bunga di level 3,50%. BI pun baru menaikkan bunga menjadi 3,75% pada Agustus, sekitar lima bulan setelah langkah pertama The Fed.

Selama BI menunggu, jarak bunga kedua negara terus menyempit. Spread yang mencapai 3,25 bps pada awal 2022 tinggal 1 bps pada Juli.

BI kemudian mulai mengejar. Bunga dinaikkan menjadi 4,25% pada September, 4,75% pada Oktober, 5,25% pada November, dan 5,50% pada Desember.

Namun, The Fed juga masih menaikkan bunga. Batas atas Fed Funds Rate sudah mencapai 4,50% pada akhir 2022 sehingga spread dengan BI Rate tetap hanya 1 poin persentase.

Jarak keduanya semakin rapat pada 2023. Batas atas bunga The Fed mencapai 5,50% pada Juli, sedangkan BI Rate masih berada di level 5,75%.

Spread pun menyusut menjadi hanya tinggal 0,25 bps pada Juli-September 2023. Itu merupakan salah satu spread paling tipis.

BI akhirnya menaikkan bunga menjadi 6,00% pada Oktober 2023. Kenaikan tersebut membuat spread kembali melebar menjadi 0,50 bps.

BI dan The Fed Bergerak pada Hari yang Sama

Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat pada awal 2024. BI pun menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April, ketika The Fed masih mempertahankan batas atas bunga di level 5,50%.

Namun, arah kebijakan kembali berbalik beberapa bulan kemudian.

Pada 18 September 2024, BI memangkas bunga menjadi 6,00%. Beberapa jam setelah keputusan tersebut, The Fed juga menurunkan bunga.

Secara waktu, BI memang mengumumkan keputusan lebih dahulu. Namun, keduanya pada dasarnya bergerak hampir bersamaan karena rapat berlangsung pada hari yang sama dan hanya terpisah zona waktu.

Setelah itu, The Fed memangkas bunga lebih cepat. Batas atas Fed Funds Rate turun menjadi 4,50% pada Desember 2024, sementara BI Rate masih berada di level 6,00%.

Pelonggaran berlanjut sepanjang 2025. BI menurunkan bunga secara bertahap dari 6,00% menjadi 4,75%. The Fed juga memangkas batas atas bunganya dari 4,50% menjadi 3,75%.

Tahun 2026, BI Bergerak Jauh Lebih Awal

Perjalanan pada 2026 menjadi salah satu bagian paling menarik dalam hubungan kebijakan kedua bank sentral.

Saat The Fed masih mempertahankan bunga, BI sudah lebih dahulu mengambil langkah besar dengan menaikkan bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026.

Namun sayangnya, tekanan terhadap rupiah belum bisa mereda hingga tembus Rp18.000/US$ dan pelemahan terus berlanjut. BI kemudian mengadakan rapat di luar jadwal pada 9 Juni dan kembali menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

Hanya berselang sembilan hari, bunga kembali dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, BI telah menaikkan bunga sebanyak 100 basis poin. Langkah tersebut diambil ketika rupiah tertekan, harga energi melonjak, dan ketidakpastian global meningkat akibat perang di Timur Tengah.

The Fed pada saat itu belum melakukan penyesuaian apapun. Batas atas Fed Funds Rate masih dipertahankan di level 3,75% hingga Agustus.

Akibatnya, spread BI Rate dan batas atas Fed Funds Rate melebar dari 1 bps pada April menjadi 2 bps.

The Fed baru menaikkan bunga pada 16 September 2026. Setelah batas atas Fed Funds Rate naik menjadi 4,00%, jaraknya dengan BI Rate menyempit menjadi 1,75 poin persentase.

Dalam tahun ini , BI jelas bergerak lebih dahulu atau "ahead the curve". Kenaikan pertama BI terjadi hampir empat bulan sebelum The Fed, bahkan BI sudah menaikkan bunga 100 basis poin ketika The Fed baru memulai dengan kenaikan 25 basis poin.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |