Terungkap, Alasan Iran Berubah dari Sunni ke Syiah

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dikenal sebagai negara dengan penganut Islam Syiah terbesar di dunia. Sekitar 90% lebih penduduknya menganut mazhab Syiah Imamiyah. Namun dalam perjalanan sejarahnya, wilayah yang dahulu dikenal sebagai Persia ini tidak selalu bermazhab Syiah. Pada masa awal masuknya Islam, mayoritas masyarakat Iran justru mengikuti mazhab Sunni.

Islam masuk ke wilayah Persia pada tahun 636 M setelah pasukan Arab di bawah kekhalifahan Umar bin Khattab menaklukkan Kekaisaran Persia. Sejak saat itu, masyarakat Persia yang sebelumnya banyak menganut agama Zoroaster secara bertahap memeluk Islam. Dalam periode awal tersebut, mayoritas umat Islam di wilayah Persia mengikuti mazhab Sunni, sebagaimana yang dominan di dunia Islam saat itu.

Perubahan besar mulai terlihat pada masa kekuasaan bangsa Mongol di Persia pada abad ke-13. Salah satu penguasa Mongol di wilayah itu, Öljeitü, awalnya menganut berbagai keyakinan sebelum akhirnya masuk Islam. Mereka sempat mengikuti mazhab Sunni, tetapi kemudian beralih ke mazhab Syiah setelah mendapat pengaruh dari ulama Syiah terkemuka, Allamah Al-Hilli.

Menurut riset "Syiah dan Politik: Studi Republik Islam Iran" (2015), keputusan tersebut menjadi salah satu momentum penting yang membuka jalan bagi berkembangnya Syiah di wilayah Persia. Meski demikian, penyebaran Syiah secara luas baru benar-benar terjadi beberapa abad kemudian.

Perubahan paling besar terjadi pada awal abad ke-16 ketika Shah Ismail I mendirikan Dinasti Safawi pada tahun 1501. Dia menjadikan mazhab Syiah Imamiyah sebagai mazhab resmi negara. Kebijakan ini bukan hanya keputusan keagamaan, tetapi juga strategi politik untuk memperkuat identitas Persia dan membedakannya dari kekuatan besar Sunni di kawasan, terutama Kesultanan Ottoman.

Pemerintahan Safawi kemudian aktif menyebarkan ajaran Syiah kepada masyarakat melalui berbagai kebijakan negara, termasuk pendidikan agama, dakwah ulama, hingga kebijakan politik yang mendukung penyebaran mazhab tersebut. Dalam waktu sekitar dua abad, mayoritas masyarakat Persia pun beralih menjadi penganut Syiah.

Meskipun Dinasti Safawi kemudian runtuh pada abad ke-18 dan Iran mengalami berbagai pergantian kekuasaan, identitas Syiah tetap bertahan kuat dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Mazhab ini terus menjadi bagian penting dari struktur budaya dan politik Iran.

Pengaruh Syiah semakin menguat setelah terjadinya revolusi besar pada 1979 yang dipimpin oleh ulama Syiah, Ruhollah Khomeini. Revolusi tersebut menggulingkan pemerintahan monarki yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi dan mengubah Iran menjadi Republik Islam.

Sejak saat itu, Iran secara resmi menjadikan mazhab Syiah Imamiyah sebagai dasar ideologi negara. Hingga kini, ajaran Syiah tidak hanya menjadi keyakinan mayoritas masyarakat, tetapi juga memengaruhi sistem politik, hukum, dan struktur pemerintahan Iran.

(mfa/șef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |