Ternyata Ada Loh Perusahaan yang Pendapatannya 0-Minus, Ini Daftarnya

21 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Ternyata ada perusahaan yang kegiatan usaha-nya tak menghasilkan pendapatan sama sekali. Malah sebagian ada yang mencatat minus.

Pendapatan yang minus ini artinya lebih besar pasar dibanding tiang, alias lebih banyak beban yang dikeluarkan dibandingkan keuntungan dari kegiatan bisnis dilakukan.

Hal itu tentu tidak sehat untuk kelangsungan bisnis perusahaan, dan bisa berujung bangkrut. Karena dari pendapatan saja tidak punya, bahkan sudah minus, ujungnya perusahaan akan membengkak.

Kami merekap ada lima perusahaan yang mendapatkan notasi khusus dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan perlu diantisipasi pelaku pasar

1. POOL

Sudah mau lima tahun, sejak 10 Juni 2020 saham emiten PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL) ini posisinya digembok BEI alias di suspend dan terancam kena delisting.

Alasan dibailk suspensi itu karena ada tiga entitas usaha yang berhenti operasi dan tidak mampu memenuhi Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD), serta terlibat permasalahan hukum dalam pengelolaan dana Investor Jiwasraya dan ASABRI.

Akibat itu, pada akhir 2021 perusahaan menelan kerugian pada pendapatan sebesar Rp58 miliar. Top line minus ini juga pernah terjadi pada tahun sebelumnya, yakni pada 2019 dengan nilai lebih fantastis mencapai Rp310 miliar, sementara pada 2016 lebih buncit Rp16 miliar.

Kabar terbaru dari perusahaan guna memulihkan kondisi itu pada awal 2025, perusahaan telah menjual PT Asuransi Jiwa Advista pada Maret 2021 dan PT POOL Advista Sekuritas pada November 2023. Sementara itu, PT POOL Advista Aset Manajemen masih tetap beroperasi.

Meski ada aksi pemulihan, tetapi sejak akhir 2021 sampai saat ini, perusahaan belum melaporkan kinerja keuangan yang artinya kondisi rawan delisting ini masih harus diantisipasi.

2. PEGE

Perusahaan sekuritas PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE) yang mengalami minus pada pendapatan selama empat tahun beruntun.

Pada 2021 top line mengalami minus Rp95 miliar. Tahun berikutnya minus itu membengkak jadi Rp102 miliar. Sementara pada dua tahun setelahnya, minus itu menyusut, pada 2023 susut jadi Rp71 miliar, dan pada 2024 susut lagi jadi Rp24 miliar.

Sayangnya, yang namanya top line sudah minus, posisi bottom line, tetap berada di posisi merugi. Pada akhir tahun lalu, perusahaan masih menelan kerugian sampai Rp34 miliar.

Adapun sahamnya, dalam lima tahun terakhir sudah jeblok 46,50% menjadi Rp107 per lembar hingga akhir perdagangan akhir Maret 2025 lalu.

3. JKSW

Saham perusahaan yang bergerak di industri baja, PT Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) telah disuspensi oleh BEI sejak 2 Mei 2019.

Alasan utama suspensi ini adalah karena perusahaan tidak membukukan pendapatan pada kuartal 1/2019 dan terus mengalami kerugian, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kelangsungan usahanya.

Dari sisi top line, perusahaan sudah tidak mencatat pendapatan alias nol sejak 2020. Hanya 2021 saja ada pemasukan Rp1 miliar, tetapi tiga tahun kemudian sampai akhir 2024 tak ada lagi pendapatan yang masuk.

Akhirnya pada tahun lalu, perusahaan ini mencatat kerugian yang membengkak jadi Rp4 miliar.

Selain itu, BEI mempertimbangkan delisting saham JKSW karena masa suspensi yang telah mencapai 36 bulan pada Mei 2022 . Pada akhir tahun lalu, BEI pun memnutuskan untuk menghapus pencatatan saham JKSW efektif per 21 Juli 2025 .

Sebagai tindak lanjut, JKSW berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham publik mulai 30 Januari hingga 31 Juli 2025 dengan harga Rp59 per saham

4. OCAP

Perusahaan T Onix Capital Tbk (OCAP) tercatat sejak 2021 tidak memiliki pendapatan sama sekali alias Rp0.

Sejak tidak menghasilkan pendapatan, rugi emiten yang berkode OCAP ini pun mencatatkan rugi sebesar Rp31,68 miliar pada 2022, naik lebih dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Dari tahun ke tahun sampai akhir 2024 perusahaan masih tak punya pendapatan yang membuat rugi berkelanjutan, meskipun nilainya menyusut.

Pada 2023 rugi menjadi Rp6 miliar, tetapi pada 2024 membengkak dua kali lipat jadi Rp12 miilar.
OCAP sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan bidang bisnis, manajemen, dan administrasi dan berdiri pada 30 Oktober 2003.

Diketahui pada Desember 2021, anak usahanya PT Onix Sekuritas dibubarkan seiring pencabutan izin oleh OJK. Padahal Onix Sekuritas merupakan tulang punggung perusahaan.

5. PALM

Selanjutnya, ada PT Provident Agro Tbk (PALM) yang tercatat tidak mendapat pemasukan selama 2022 - 2023.

Adapun sampai akhir tahun lalu, laporan keuangan belum diumumkan sampai saat ini.

Meski begitu, ada sedikit anomali dari kinerja 2022 yang mencatat nol pemasukan, tetapi masih memiliki laba.

Laba itu dihasilkan paling banyak dari keuntungan neto atas investasi pada saham dan ekuitas lainnya senilai Rp285,90 miliar, akhirnya setelah dipotong atas beban-beban yang tersisa hanya laba sebanyak Rp239,55 miliar.

Meski begitu, laba belum mampu menopang bisnis perusahaan pada tahun berikutnya dan pendapatan masih nol. Alhasil, rugi membengkak lebih dari 13 kali jadi Rp3,3 triliun.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(tsn/tsn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |