Tanggapan APUDSI Soal Situasi Venezuela Terhadap Kondisi Ekonomi Desa

1 day ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) aktif memantau perkembangan situasi geopolitik global saat ini, seiring konflik yang melibatkan Venezuela dan Amerika Serikat (AS).

Peristiwa tersebut memang terjadi jauh dari Indonesia. Namun, APUDSI menyadari bahwa dalam dunia yang saling terhubung seperti hari ini, tidak ada lagi peristiwa besar yang benar-benar berdiri sendiri dan tidak memberi pengaruh pada belahan dunia lainnya.

Ketua Umum Majelis Kesejahteraan Nasional Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (MKN APUDSI) Maulidan Isbar mengatakan apa yang terjadi di Venezuela bukan sekadar isu politik internasional. Konflik tersebut telah menjadi bagian dari rangkaian peristiwa ekonomi global yang cepat atau lambat akan mempengaruhi stabilitas harga energi, biaya logistik, dan kelancaran rantai pasok.

"Dampak dari peristiwa ini tidak hanya akan berhenti di angka-angka makro, tetapi juga berpotensi untuk dirasakan hingga ke tingkat paling dasar: ke desa-desa, ke usaha kecil, ke koperasi, ke BUMDes, dan ke pelaku ekonomi rakyat yang setiap hari menjaga roda ekonomi Indonesia untuk terus berputar," ujar Maulidan dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).

Dia menegaskan tujuan APUDSI sederhana yakni agar pelaku usaha desa, investor, pemuda penggerak ekonomi desa, serta para pemangku kebijakan tidak gegabah dalam mengambil keputusan di tengah suasana yang dipenuhi ketidakpastian, emosi, atau informasi yang belum terverifikasi, seperti yang sedang terjadi saat ini.

Dulu: Fondasi Global yang Sudah Rentan

APUDSI pun menilai, sebelum peristiwa ini terjadi perekonomian global sejatinya sudah berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya stabil. Pasar energi dunia memasuki 2026 dengan berbagai tekanan.

Di satu sisi, lanjut dia, ada potensi kelebihan pasokan untuk memenuhi kebutuhan energi dunia hari ini, namun di sisi lain pasar tetap sangat peka terhadap risiko geopolitik, sehingga kelebihan pasokan ini berisiko tidak terkelola dengan optimal yang mengakibatkan ketakutan pasar akan terhambatnya pasokan energi dan menjadi mimpi buruk yang akhirnya menjelma kenyataan yang sama menakutkan.

"Dalam konteks ini, Venezuela selalu menjadi faktor penting. Negara di kawasan Amerika Selatan ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun selama bertahun-tahun tidak mampu memanfaatkan potensi tersebut secara optimal. Keterbatasan investasi, persoalan tata kelola, dan ketidakstabilan politik, membuat Venezuela lebih sering hadir sebagai "potensi masa depan", dibandingkan sebagai sumber pasokan nyata," jelasnya.

Bagi Indonesia, kondisi ini bukanlah sesuatu yang tidak relevan. Struktur biaya logistik nasional masih sangat dipengaruhi oleh harga energi dunia. Setiap perubahan besar di pasar minyak dunia memiliki dampak berantai yang di ujungnya akan terasa oleh pelaku usaha desa, mulai dari ongkos transportasi, harga barang, hingga daya beli masyarakat. Pada akhirnya, desa-desa menjadi salah satu titik yang paling cepat merasakan dampak dari kurang optimalnya pengelolaan sumber daya tersebut.

Sekarang: Ketidakpastian dan Riuh Informasi

Menurutnya, perkembangan situasi di Venezuela dapat menambah lapisan ketidakpastian baru di tengah ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian ini tidak hanya berkaitan dengan pasokan energi secara fisik, melainkan juga dengan persepsi risiko yang langsung mempengaruhi pasar, pelaku usaha, dan investor.

Pada saat yang sama, ruang publik juga dipenuhi oleh arus informasi yang sangat deras terkait isu peristiwa ini. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. "Narasi yang dipotong, visual yang tidak terverifikasi, hingga propaganda politik dapat dengan mudah membentuk opini dan mendorong reaksi spontan siapapun yang tidak berhati-hati dalam menilik berita yang dikonsumsi," pungkas Maulidan.

Dalam kondisi seperti ini, APUDSI menilai pernyataan atau keputusan yang diambil tanpa ketenangan dan tanpa pijakan data justru berisiko memperbesar dampak negatif. Bagi pelaku usaha desa, fase ini menuntut kewaspadaan. Volatilitas harga energi dan logistik dapat memengaruhi biaya produksi, distribusi, serta arus kas terutama bagi usaha-usaha yang bekerja dengan margin tipis dan ruang kesalahan yang terbatas.

"Dan sebagaimana yang APUDSI yakini, sikap apapun yang diambil dari ujung terjauh desa di Indonesia hari ini, juga bisa memberi dampak pada eskalasi situasi yang terjadi di belahan bumi lainnya," terang Maulidan.

Nanti: Dampak ke Ekonomi Desa dan Pilihan Sikap

Dia menilai di masa mendatang, dampak peristiwa ini terhadap ekonomi desa sangat bergantung pada arah perkembangan global dan cara dunia merespons. Apabila ketegangan mereda, pasar pada akhirnya akan kembali pada kenyataan bahwa pemulihan sektor energi di Venezuela bukanlah proses yang instan. Dalam hal ini, proses pemulihan tersebut membutuhkan stabilitas, kepastian hukum, dan investasi jangka panjang.

Dalam skenario ini, gejolak yang terjadi hari ini kemungkinan besar hanya bersifat sementara. Di samping itu, keterkaitan pengelolaan energi di Venezuela serta dampaknya terhadap perkembangan ekonomi berbasis pasokan energi di dunia akan kembali pada prosesnya semula.

Namun, apabila ketidakpastian berlangsung lebih lama, risiko kenaikan biaya logistik dan tekanan harga barang akan semakin nyata. Dampaknya, akan terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari pelaku usaha desa, yakni ongkos angkut yang meningkat, bahan baku yang lebih mahal, serta daya beli masyarakat yang tertekan.

Di sisi lain, dalam jangka menengah, apabila stabilitas tercapai dan pasokan energi global meningkat, maka peluang bagi penurunan biaya distribusi akibat turunnya harga minyak dunia mungkin bisa tercapai. Kondisi ini dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha desa untuk memperkuat efisiensi, meningkatkan skala usaha, dan memperluas pasar secara lebih berkelanjutan.

Oleh sebab itu, peristiwa global seperti ini tidak dapat disikapi secara hitam-putih. Hal yang menentukan apa yang akan terjadi ke depannya bukan hanya apa yang saat ini sedang terjadi di luar negeri, tetapi bagaimana seluruh pihak terkait membaca data dan menyiapkan langkah-langkah selanjutnya dengan kepala dingin, dan sikap yang tegas namun tetap ramah.

"Tegas bukan karena terprovokasi, tapi tegas karena memahami dengan sebenar-benarnya apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini," jelasnya.

Untuk itu, APUDSI mengajak seluruh pelaku usaha desa, investor, pemuda penggerak ekonomi desa, serta para pemangku kebijakan untuk senantiasa menjadikan data yang akurat dan ketenangan berpikir sebagai landasan utama dalam mengambil keputusan.

Maulidan bilang, ajakan ini tidak hanya berlaku untuk keputusan usaha, tetapi juga untuk keputusan-keputusan yang berkaitan dengan ragam peristiwa, terutama yang berkaitan dengan issue-issue kemanusiaan: baik itu dalam menyampaikan pernyataan, memberikan dukungan, atau merespons isu global.

Menurutnya, di dunia yang semakin terhubung, sekecil apa pun reaksi kita-termasuk kata-kata yang kita ucapkan-dapat memengaruhi arah peristiwa dalam skala yang lebih luas, yang pada akhirnya, akan kembali berdampak pada ekonomi lokal kita sendiri.

Lebih jauh, APUDSI meyakini, bahwa pelaku usaha desa Indonesia mampu bersikap dewasa secara ekonomi, dan bermartabat secara kemanusiaan. Pada dasarnya, para pelaku usaha desa mampu berpijak pada data, tidak tergesa-gesa dalam bereaksi, tidak mudah terseret hoaks, serta tetap menjaga nurani dalam setiap langkah.

Dengan begitu, APUDSI akan terus menjalankan fungsi penerangan ekonomi, menyajikan pembacaan global yang bertanggung jawab, dan berdiri bersama pelaku usaha desa dalam menjaga keberlanjutan ekonomi lokal sebagai fondasi ketahanan nasional.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |