Tanda Kiamat Ditemukan di Flores, Manusia Lenyap Tanpa Bekas

1 day ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekelompok peneliti Australia menemukan penyebab manusia Flores lenyap. Bangsa hobbit dari Flores ternyata ramai-ramai meninggalkan tempat tinggal mereka akibat "kiamat" perubahan iklim.

Manusia dari Flores dikenal dengan nama ilmiah Homo floresiensis. Bangsa manusia purba ini disebut sebagai hobbit karena ukuran tubuhnya yang kecil setinggi anak-anak manusia.

Fosil Homo floresiensis ditemukan di gua bernama Liang Bua di Flores. Gua tersebut diyakini sebagai lokasi tempat tinggal manusia Flores selama 140.000 tahun.

Peneliti dari University of Wollongong, Australia mengungkap bukti kuat yang mengaitkan hilangnya manusia Flores dengan "kiamat" perubahan iklim. Temuan mereka dipublikasikan dalam artikel di Communications Earth & Environment.

Dalam riset tersebut, peneliti menganalisis sinyal kimia yang terawetkan di stalagmit gua Liang Bua bersama bukti isotop fosil gigi spesies gajah kerdil (Stegodon florensis insularis), salah satu makanan utama manusia Flores.

Hasil analisis menunjukkan pergeseran kondisi lingkungan menjadi kering sekitar 76.000 tahun lalu. Kondisi makin parah di periode antara 61.000 hingga 55.000 tahun yang lalu. Pada saat yang sama, Homo floresiensis hilang dari wilayah di ujung selatan RI tersebut.

Kesimpulan para peneliti, persediaan air yang menipis dan kompetisi perebutan makanan yang makin keras mendorong para hobbit hengkang dari Liang Bua. Fenomena ini pada ujungnya ikut berkontribusi terhadap punahnya spesies tersebut.

Teori soal penyebab kepunahan manusia Flores menggambarkan dampak luar biasa dari perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup spesies makhluk hidup.

"Ekosistem di sekitar Liang Bua secara tiba-tiba menjadi kering pada saat Homo floresiensis hilang. Tingkat di musim kemarau jatuh dan sungai mengering, menimbulkan bencana bagi hobbit dan mangsa mereka," kata Mike Gagan, penulis utama dalam penelitian tersebut.

Para peneliti mendapatkan data soal curah hujan dari masa puluhan ribu tahun lalu dari lapisan stalagmit. Adapun analisis fosil gigi menggambarkan ketergantungan gajah pygmy atas air sungai. Populasi gajah pygmy anjlok sekitar 61.000 tahun lalu.

"Air tawar permukaan, Stegodon, dan Homo floresiensis semuanya hilang pada saat bersamaan, menunjukkan efek tekanan ekologi yang berlipat-lipat," kata Gert van den Berg.

Gagan menambahkan bahwa ada kemungkinan manusia modern atau Homo sapien ikut berperan dalam kepunahan manusia Flores.

"Ada kemungkinan ketika hobbit berpindah untuk mencari air dan makanan, mereka bertemu manusia modern," kata Gagan.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |