Siap-Siap! 10 'Bom Waktu' Kepung RI Pekan Ini, Inflasi-Pidato The Fed

4 days ago 3
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pekan lalu, IHSG melemah sementara rupiah menguat
  • Wall Street melemah di tengah kekhawatiran baru mengenai perang Iran
  • Data manufaktur dan inflasi dalam negeri serta beragam data luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini dan satu pekan ke depan.

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada akhir pekan lalu. IHSG melemah sementara rupiah menguat tipis.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026), terkoreksi 1,72% atau 103 poin ke level 5.896,13 setelah sempat dibuka menguat dan menyentuh level tertinggi 6.045.

Tekanan jual mendominasi pasar dengan 562 saham turun, hanya 123 saham naik, sementara nilai transaksi mencapai Rp12,73 triliun.

Pelemahan terdalam terjadi pada sektor utilitas, barang baku, konsumer non-primer, serta properti.

Sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membebani pasar. Data terbaru menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada Mei 2026 meningkat menjadi 4,1% secara tahunan, tertinggi sejak April 2023, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal I direvisi naik menjadi 2,1% dan klaim pengangguran turun menjadi 215.000.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati keputusan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli-30 September 2026.

Di sisi lain, pemerintah memastikan penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan tetap ditargetkan pada awal Juli 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan dan perluasan akses pendanaan di pasar keuangan China.

Beralih ke pasar valas, mata uang Garuda berhasil berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,06% ke posisi Rp17.905/US$, setelah pada awal perdagangan sempat melemah ke Rp17.950/US$ dan bahkan menyentuh level terendah harian Rp17.985/US$. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,08% ke level 101,340 pada pukul 15.00 WIB.

Serupa dengan IHSG, sentimen pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pelaku pasar mencermati inflasi PCE Amerika Serikat yang naik menjadi 4,1% secara tahunan pada Mei 2026, mencerminkan tekanan harga yang masih tinggi di tengah kenaikan biaya energi.

Dari dalam negeri, pemerintah melanjutkan rencana penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) ditutup di 7,182%. Imbal hasil ini merupakan yang tertinggi sejak 11 Juni 2026. Indeks hasil yang naik menandai SBN tengah dijual investor sehingga harganya turun dan imbal hasil naik.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |