Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan Senin (13/4/2026) di zona merah dengan depresiasi sebesar 0,06% ke level Rp17.095/US$. Meski masih melemah, posisi ini menunjukkan rupiah tetap bertahan di bawah level psikologis Rp17.100/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh Rp17.135/US$, namun tekanan tersebut perlahan mereda hingga akhirnya ditutup lebih rendah dari level tersebut.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,26% ke level 98,906.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya penguatan dolar AS di pasar global.
Kondisi ini terjadi ketika investor kembali memburu aset aman setelah pembicaraan panjang antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan damai. Akibatnya, pasar kembali dibayangi ketidakpastian yang kini sudah berlangsung hingga pekan ketujuh.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu juga menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan energi harian dunia dan yang secara efektif telah ditutup Iran sejak perang pecah pada akhir Februari.
Langkah tersebut mendorong harga minyak naik lebih dari 30% dan memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi global. Pada akhirnya, penguatan dolar AS di pasar global membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
Meski begitu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual menilai secara fundamental rupiah masih cukup baik. Ia menilai, jika dibandingkan dengan mata uang lain, kekuatan relatif rupiah justru menunjukkan perbaikan.
"Saya cuma mau menunjukkan dari sisi fundamental strength rupiah cukup baik. Biasanya ekonom menghitungnya relative strength dibanding mata uang lain - membaik," katanya dalam Central Banking Forum 2026 bertema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global di Jakarta, Senin (13/4/2026).
David juga menyoroti inflasi Indonesia yang masih relatif terkendali. Menurut dia, meski sempat meningkat pada Februari dan Maret, tekanan inflasi di dalam negeri perlahan mulai menurun.
Karena itu, ia menilai rupiah sebenarnya memiliki ruang untuk menguat. Adapun pelemahan yang terjadi saat ini, menurutnya, lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan investor jangka pendek.
"Pergerakan rupiah dominan memang relatif lebih digerakkan oleh investor portofolio," paparnya.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]


















































