Tetangga RI Jadi Basis Senjata Baru AS, Trump Siapkan Kekuatan Tempur

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) berencana menjadikan Australia sebagai basis penyimpanan persenjataan baru di kawasan Indo-Pasifik. Langkah ini dilakukan di tengah rivalitas AS-China dan upaya Presiden Donald Trump memperkuat kesiapan militer Washington di kawasan dekat Indonesia tersebut.

Rencana itu terungkap dalam dokumen tender Angkatan Laut AS yang menunjukkan alokasi dana sebesar US$30 juta atau sekitar Rp531 miliar (kurs Rp17.700/US$) untuk membangun gudang logistik dan fasilitas pendukung di negara bagian Victoria, Australia.

"Kegiatan Korps Marinir di Australia mendukung keberlanjutan global terintegrasi dengan menjaga peralatan dan perlengkapan yang siap pakai untuk operasi dan latihan di seluruh Indo-Pasifik," kata juru bicara Pasukan Pasifik Korps Marinir AS, seperti dikutip Arab News, Rabu (17/6/2026).

Fasilitas tersebut akan menjadi lokasi penyimpanan permanen pertama bagi persediaan tempur Korps Marinir AS di Australia. Persenjataan dan peralatan militer itu akan ditempatkan terlebih dahulu di Melbourne sebelum dipindahkan ke gudang baru di pangkalan militer Bandiana, Victoria. Kapasitas penuh fasilitas tersebut ditargetkan tercapai pada 2028.

Pengembangan gudang senjata ini menjadi bagian dari strategi AS memperluas jaringan logistik dan dukungan tempur di Asia-Pasifik. Sebelumnya, Korps Marinir AS telah mengoperasikan sistem penyimpanan peralatan militer di berbagai wilayah dunia sejak era Perang Dingin, termasuk di Norwegia dan armada kapal logistik yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis.

Dokumen tender juga menyebut Angkatan Laut AS akan menggandeng kontraktor pertahanan global untuk merekrut sekitar 110 tenaga ahli, mulai dari insinyur, mekanik, hingga spesialis keselamatan. Mereka akan bertugas mengelola stok peralatan tempur yang mencakup berbagai jenis senjata dan perlengkapan militer.

Meski Australia tidak mengizinkan keberadaan pangkalan militer asing permanen di wilayahnya, kerja sama pertahanan Canberra dan Washington terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini sekitar 2.000 personel Marinir AS secara bergiliran menjalani latihan selama enam bulan setiap tahun di Darwin, Australia Utara.

Di saat yang sama, Pentagon meminta Kongres AS menyetujui anggaran sebesar US$500 juta (sekitar Rp8,15 triliun) untuk memperkuat penempatan peralatan militer dan cadangan bahan bakar di kawasan Indo-Pasifik pada tahun depan.

Sejumlah analis menilai pemilihan Australia sebagai lokasi penyimpanan persenjataan bukan tanpa alasan. Posisi geografis negara tersebut dinilai relatif lebih aman dan berada di luar jangkauan sebagian besar sistem rudal China dibandingkan sejumlah pangkalan AS lainnya di kawasan.

Laporan terbaru Lowy Institute bahkan memperingatkan bahwa wilayah utara Australia berpotensi menjadi sasaran rudal balistik China yang ditempatkan di pos-pos militer Beijing di Laut China Selatan. Karena itu, lokasi di Victoria yang berada di bagian tenggara Australia dianggap menawarkan tingkat perlindungan yang lebih tinggi.

Direktur Program Keamanan Internasional Lowy Institute, Sam Roggeveen, mengatakan ancaman rudal menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penempatan fasilitas tersebut. Menurutnya, gudang senjata itu akan menjadi target yang jelas bagi China setelah beroperasi.

Selain itu, ia juga menilai peningkatan kehadiran militer AS di Australia menandai perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan Canberra yang semakin selaras dengan strategi Washington di Indo-Pasifik.

Sementara itu, Profesor Keamanan Internasional Australian National University, John Blaxland, menyebut langkah tersebut menunjukkan semakin pentingnya posisi Australia dalam persaingan pengaruh antara AS dan China.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |