Rupiah dan IHSG Hari Ini Hadapi Ujian Berat dari AS, Ada Apa Lagi?

5 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia tertekan tajam pada perdagangan Rabu, IHSG anjlok lebih dari 3%, rupiah melemah empat hari beruntun, sementara yield SBN 10 tahun turun
  • Wall Street berakhir beragam di tengah aksi jual saham teknologi
  • Pelaku pasar pada hari ini diperkirakan masih akan mencermati hasil review MSCI, serta rilis inflasi PCE dan klaim pengangguran Amerika Serikat.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air bergerak tidak kompak pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terkoreksi tajam, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara Surat Berharga Negara (SBN) berhasil menguat.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG anjlok dalam pada perdagangan Rabu kemarin, setelah MSCI mempertahankan pasar modal Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang atau Emerging Market, tetapi masih memberikan sejumlah catatan.

Pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG anjlok 3,56% atau turun 217 poin ke level 5.883,88. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.171 hingga 5.876.

Nilai transaksi pada perdagangan Rabu mencapai Rp15,15 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 26,94 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi.

Investor asing pun masih terus melakukan aksi jual dengan total keseluruhan outflow mencapai Rp1,17 triliun.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 98 saham menguat, 611 saham melemah, dan 104 saham bergerak stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual terjadi cukup luas di pasar saham domestik.

Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan berakhir di zona merah. Koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, energi, dan kesehatan.

Saham-saham blue chip berkapitalisasi besar hingga saham yang terafiliasi dengan kelompok bisnis konglomerat juga kompak melemah signifikan.

Secara spesifik, saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), BBRI, BBCA, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), BMRI, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah MSCI merilis hasil MSCI 2026 Market Classification Review. Indonesia memang tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Market, tetapi MSCI masih menyoroti sejumlah isu, terutama terkait transparansi kepemilikan saham, free float, dan dugaan perdagangan terkoordinasi.

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan Rabu kemarin dengan koreksi terhadap dolar AS. Tekanan terjadi di tengah tren penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$. Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda belum mampu keluar dari tekanan dan sudah melemah selama empat hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan Rabu, rupiah bergerak di rentang Rp17.900-Rp17.955/US$. Pergerakan tersebut membuat rupiah kembali panas karena semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.

Menguatnya dolar AS di pasar global masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Penguatan greenback membuat ruang gerak mata uang negara lain, termasuk rupiah, semakin terbatas.

Dolar AS terus menguat hingga berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Penguatan tersebut terjadi seiring penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang dinilai semakin hawkish.

Rapat kebijakan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, dibaca pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli naik menjadi 36,3%, dari sebelumnya 8,5% sepekan lalu.

Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada rapat September naik menjadi 69,1%, dari sebelumnya 29,1% sepekan sebelumnya.

Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun melemah 0,71% ke level 7,167% pada perdagangan Rabu.

Penurunan yield menunjukkan harga SBN sedang naik. Kondisi ini biasanya mencerminkan adanya aksi beli di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |