Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyoroti fenomena terkait bertambahnya orang miskin di Indonesia meskipun ekonomi tumbuh.
Luhut menilai kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan harga-harga. Dia pun mengatakan, DEN telah melakukan perhitungan terkait persoalan tersebut.
"Ya itu terjadi bisa mungkin karena kenaikan harga. Kita ada datanya, saya nggak ingat. Dewan Ekonomi sudah menghitung mengenai itu," papar Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, kemarin, Rabu (24/6/2026).
Oleh karena itu, dia berharap pemerintah dapat memastikan berbagai program berjalan lebih efisien, tanpa ada kebocoran.
"Kalau ekonomi itu akan tumbuh, bagus. Kita kan harus perhatikan efisiensi. Efisiensi juga tadi target semua yang kita kerjakan," ujarnya.
Dia pun menyoroti mengenai bonus demografi Indonesia. Menurut Luhut, Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk memanfaatkan bonus demografi. Dia yakin periode bonus demografi akan berakhir dalam 10 tahun ke depan.
"Kemudian kita juga harus betul-betul menyadari semua bersama bahwa bonus demografi itu akan habis 10 tahun dari sekarang. Jadi kalau kita tidak bekerja dengan baik, maka 2045 itu nanti sulit tercapai," tegasnya.
Dia menilai target Indonesia Emas 2045 masih dapat dicapai, asalkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu bekerja secara kompak. Selain itu, dia menuturkan pemanfaatan teknologi dalam sistem pemerintahan dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi korupsi.
"Tapi kalau kita semua kompak, itu saya kira nggak ada masalah. Apalagi dengan government technology ini, akan pasti mengurangi korupsi, dan teknologi ini dibuat oleh anak-anak Indonesia," tegas Luhut.
Presiden Prabowo Subianto bicara mengenai anomali pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dia melihat pertumbuhan yang terjadi tidak sejalan dengan meningkatnya kesejahterahan rakyat.
Hal ini diungkapkan saat penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
"Bahwa selama 7 tahun belakangan ini dikatakan bahwa ekonomi kita tumbuh 5% tiap tahun. 7 tahun kali 5 berarti 35%, logikanya selama 7 tahun Indonesia tambah kaya 30% atau 35%," kata Prabowo.
Namun dia mengaku kaget ketika dua bulan menjabat dari Presiden RI mendapatkan data yang berlawanan dari peningkatan kesejahterahan masyarakat. Justru masyarakat miskin malah bertambah.
"Tapi kenyataannya, itu yang saya katakan saya merasa ditohok waktu saya jadi presiden. Ini data muncul katakanlah 2 bulan setelah jadi presiden. Kenyataannya bahwa setelah 7 tahun tumbuh 5%, masak penduduk miskin bertambah? negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini kan sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah tadinya dari lepas kemiskinan turun," kata Prabowo.
"Katanya negara tambah kaya 35%, kok rakyat miskin tambah, kemudian kelas menengah berkurang? Dan ini juga yang harus kita waspadai, bahwa yang tambah kaya hanya segelintir orang," katanya.
Menurutnya, perlu evaluasi terhadap sistem ekonomi yang berjalan saat ini. Apalagi jika angka kemiskinan meningkat dan kelas menengah malah turun. Artinya bisa saja pertumbuhan ekonomi selama 7 tahun itu hanya dinikmati oleh segelintir masyarakat saja.
(haa/haa)
Addsource on Google


















































