Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara makin ambruk. Pada perdagangan Rabu (24/6/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 129,05 per ton. Harganya jatuh 1,94%.
Harga penutupan kemarin menjadi yang terendah sejak 22 April 2026 atau dua bulan terakhir.
Pelemahan harga batu bara dipicu oleh kabar buruk dari India.
India akan meningkatkan penggunaan batu bara domestik hingga lebih dari 50% di pembangkit listrik yang semula dirancang menggunakan batu bara impor.
Dikutip dari Reuters, langkah ini dilakukan seiring upaya negara importir batu bara termal terbesar kedua di dunia tersebut untuk menekan biaya impor yang mahal.
Kebijakan India ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia yang merupakan pemasok utama. Pasalnya, permintaan ke Indonesia bisa turun.
India telah menggunakan batu bara domestik untuk mengoperasikan pembangkit listrik berkapasitas 5,7 gigawatt (GW) dari total 18,7 GW pembangkit berbasis batu bara impor sepanjang tahun ini.
Saat ini juga tengah dilakukan uji coba untuk memperluas penggunaan batu bara domestik ke tambahan kapasitas 4,3 GW.
Selama ini, pembangkit listrik berbasis batu bara impor mengandalkan pasokan dari Indonesia, Afrika Selatan, Rusia, dan negara lainnya.
Data dari perusahaan perdagangan batu bara India, iEnergy Natural Resources, menunjukkan impor batu bara dari Indonesia dan Afrika Selatan pada periode Januari-April turun masing-masing sekitar 21% dan 68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan produksi listrik dari energi terbarukan membuat pasokan batu bara domestik lebih longgar.
Kondisi ini memungkinkan lebih banyak batu bara lokal dialihkan ke pembangkit listrik di wilayah pesisir yang sebelumnya dibangun khusus untuk menggunakan batu bara impor.
Selama bertahun-tahun, India berupaya mengurangi impor batu bara untuk pembangkit listrik. Namun, upaya tersebut terkendala karena pembangkit berbasis batu bara impor dirancang menggunakan batu bara berkualitas lebih tinggi sehingga kesulitan mengolah batu bara domestik yang kualitasnya lebih rendah.
Seorang pejabat pemerintah mengatakan operator pembangkit secara bertahap telah memodifikasi unit pembangkit agar mampu menggunakan lebih banyak batu bara lokal yang memiliki kandungan abu lebih tinggi.
Menurut sejumlah sumber, perusahaan listrik kini mengombinasikan batu bara impor dan domestik untuk mengoptimalkan operasi. Bahkan, beberapa pembangkit kini telah menggunakan hingga 70% batu bara domestik.
"Kementerian Batu Bara telah menawarkan pengiriman langsung ke pembangkit berbasis batu bara impor, sehingga kebutuhan kualitas dan kuantitas dapat dipenuhi tanpa kendala," kata seorang pejabat lainnya, dikutip dari Reuters.
Seorang pejabat ketiga mengatakan pembangkit berbasis batu bara impor telah memesan sekitar 16 juta metrik ton batu bara domestik untuk memenuhi kebutuhannya.
Ketiga pejabat tersebut meminta identitas mereka tidak disebutkan karena tidak memiliki kewenangan berbicara kepada media.
Data Grid-India menunjukkan pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara di India naik 10% pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak Mei 2024, seiring perusahaan utilitas meningkatkan produksi listrik untuk memenuhi permintaan.
Sementara itu, konsultan komoditas BigMint pekan lalu melaporkan impor batu bara termal India pada periode Januari-Mei turun ke level terendah dalam empat tahun, yakni sekitar 65 juta metrik ton.
Hal ini didorong peningkatan produksi batu bara domestik dan bertambahnya pembangkitan listrik dari energi terbarukan.
Sentimen di pasar batu bara kokas China juga mulai memburuk karena pelaku pasar melihat pasokan domestik perlahan pulih setelah penutupan tambang akibat kecelakaan di Shanxi.
Meski demikian, harga tidak mengalami penurunan tajam karena pasar masih menghadapi kekurangan pasokan batu bara kokas berkualitas tinggi. Produksi belum kembali ke level sebelum kecelakaan tambang pada akhir Mei.
Hingga pertengahan Juni, sekitar 63-64% kapasitas tambang yang sempat ditutup telah kembali beroperasi, tetapi tingkat utilisasi diperkirakan hanya mencapai 70-80%, jauh di bawah kondisi normal yang sempat melampaui 100%.
Pelaku industri memperkirakan defisit pasokan batu bara kokas premium mencapai sekitar 20-30 juta ton, sehingga produsen baja China tetap meningkatkan impor dari Australia, Kanada, dan pemasok lainnya.
Di sisi lain, prospek permintaan baja masih lemah. Margin keuntungan pabrik baja tertekan sehingga pembeli enggan melakukan pembelian agresif, membuat sentimen pasar menjadi negatif.
Akibat tarik-menarik antara pemulihan pasokan dan kekurangan batu bara berkualitas tinggi, harga kontrak berjangka coking coal cenderung melemah dari puncaknya awal Juni, tetapi belum mengalami penurunan luas atau berkepanjangan.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































