Jakarta -
Sejumlah pembesar partai mempertanyakan posisi PDIP terhadap pemerintah. Selama ini, PDIP menyebut diri mereka sebagai partai penyeimbang penguasa. Namun begitu, beberapa pihak meminta agar partai berlambang banteng tersebut lebih menegaskan sikap mereka.
Mencuatnya kembali diskursus ini adalah ketika Jazilul Fawaid meminta PDIP bersikap tegas terkait posisinya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ketua Fraksi PKB DPR tersebut mengatakan jika sikap yang tidak jelas bisa menimbulkan kesan membingungkan. Jazilul mengungkapkan hal ini tatkala menjawab pertanyaan wartawan soal dugaan keikutsertaan salah satu kader PDIP dalam aksi demo beberapa hari lalu.
"Saya harap, mengambil sikap yang tegas saja. Kalau di oposisi, oposisi. Jangan abu-abu. Karena, kami semua sedang berjuang keras untuk mewujudkan apa yang menjadi janji Pak Presiden. Semua program-program sudah ditata," kata Jazilul seperti dikutip detikNews, Kamis (18/6).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah berbagai polemik yang muncul usai pernyataan tersebut, Muhammad Sarmuji juga ikut angkat bicara. Mulanya dirinya Sekjen Partai Golkar tersebut mengikuti klaim PDIP yang ingin dilihat sebagai penyeimbang. Namun dirinya juga mempertanyakan bagaimana peran penyeimbang yang selama ini digaungkan.
"Yang jelas sampai sekarang PDIP tidak masuk di pemerintahan. Kalau praktek penyeimbang itu soal lain. Selama ini entah apa yang diseimbangkan? Nanti rakyat yang menilai," ujar Sarmuji dikutip dari detikNews, Jumat (19/6).
"Istilah penyeimbang saja sebenarnya sudah bisa dibaca bagi yang mau membaca. Tidak perlu memaksa supaya jelas. Kita hormati saja," imbuh dia.
Sejumlah pihak kemudian melihat bagaimana mesranya hubungan antara pucuk pimpinan pemerintah dengan Ketum PDIP yang terlihat bergandengan tangan usai upacara hari lahir Pancasila awal Juni lalu.
Kedekatan ini jelas tidak memperlihatkan sikap konfrontatif di antara keduanya. Dalam situasi seperti ini, siapa yang diuntungkan? Mengapa sejumlah pihak kembali ramai soal posisi PDIP terhadap pemerintah? Ikuti ulasannya dalam detikSore!
Beralih ke berita daerah, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Magelang membongkar kasus kredit fiktif BPR Magelang sebesar Rp 4 Miliar. Dalam kasus ini, Kejari Kota Magelang menetapkan Kabag Marketing BPR Magelang berinisial S (45) dan debitur berinisial HI (47) sebagai tersangka. Keduanya saat ini langsung ditahan.
Diketahui kasus ini sudah berlangsung sejak bulan Juni tahun 2023. Pada saat itu pencairan kredit dilakukan oleh pihak BPR Bank Magelang sebesar Rp 4 Miliar dengan jangka pelunasan selama setahun. Namun, debitur belum mengangsur pinjaman pokok, baru sebatas mengangsur bunga sekitar 2 sampai 3 kali. Proses berikutnya terjadi kredit macet. Kemudian agunannya berupa 14 sertifikat atas nama orang lain.
Lalu, seperti apa kelanjutan dari kasus ini? Pasal apa yang diberikan kepada tersangka? Simak laporan jurnalis detikJateng selengkapnya!
Jelang matahari terbenam nanti, detikSore akan mengundang seorang ilmuwan perempuan berprestasi yang memiliki ketertarikan meneliti spesies keong darat. Hal ini bermula ketika Ayu Savitri melihat lendir bekicot digunakan untuk membantu menghentikan pendarahan luka. Ketertarikan tersebut membawanya menekuni bidang biologi hingga meraih gelar doktor dan menjadi peneliti keong darat. Sejak 2019, dirinya telah menemukan 23 spesies keong darat baru di Indonesia.
Tak hanya meneliti, Ayu juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keong darat endemik Indonesia. Menurutnya, minimnya pemahaman masyarakat membuat habitat spesies asli Indonesia rentan terancam. Karena itu, Ayu terus mendorong upaya pelestarian keanekaragaman hayati melalui penelitian dan edukasi.
Lantas, apa yang membuat keong menjadi hewan yang spesial untuk diteliti? Bagaimana proses penelitian yang dilakukan hingga menemukan 23 spesies baru di Indonesia? temukan jawaban selengkapnya bersama Ayu Savitri dalam segmen Sunsetalk.
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"
(vys/gub)


















































