RI Dikepung Kabar Buruk: Minyak dan Dolar Melonjak, Ekonomi China Suram

6 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup menguat pada perdagangan kemarin
  • Wall Street ambruk lagi setelah harga minyak melejit
  • Perang Iran, perkembangan di China dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar kemarin

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Bursa saham, rupiah hingga harga obligasi menguat.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 133,48 poin atau 1,76% ke level 7.710,54 pada perdagangan  Kamis (5/3/2026). Sebanyak 597 saham naik, 125 turun, dan 96 tidak bergerak.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 210 miliar pada perdagangan kemarin.

Nilai transaksi kemarin terbilang sepi dibandingkan hari sebelumnya, yakni Rp 17,9 triliun dengan volume sebanyak 34,5 miliar saham.

Mengutip Refinitiv, penguatan IHSG ditopang oleh saham perbankan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 21,32 poin indeks, diikuti Bank Mandiri (BMRI) sebesar 11,26 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 9,43 poin. Sejalan dengan itu, sektor finansial tercatat menguat 2,34%.

Di kawasan Asia, mayoritas pasar saham juga bergerak naik dengan penguatan dipimpin oleh indeks KOSPI di Korea Selatan. Indeks tersebut ditutup melonjak 9,63% setelah sempat menyentuh kenaikan hingga 12%, didorong lonjakan saham teknologi besar seperti SK Hynix dan Samsung Electronics yang naik lebih dari 10% dan 11%.

Penguatan ini terjadi sehari setelah KOSPI sempat anjlok 12%, sementara Presiden Lee Jae Myung menyerukan peluncuran paket stabilisasi pasar senilai 100 triliun won atau sekitar US$68 miliar guna meredam gejolak pasar di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/3/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp16.875/US$ atau terapresiasi 0,03%. Hal ini membalikkan posisi rupiah yang terkoreksi pada perdagangan sebelumnya, Rabu (4/3/2026), saat rupiah ditutup melemah 0,18% di level Rp16.880/US$.

Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan kemarin tidak lepas dari dinamika eksternal, terutama dari pergerakan DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

Dolar AS menguat pada Kamis setelah sempat mundur dari level tertinggi tiga bulan. Ketegangan perang di Timur Tengah terus mengguncang pasar global dan menjaga sentimen tetap rapuh, sehingga menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Namun, pasar tetap dibayangi ketidakpastian dari perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki hari keenam, setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel.

Dari pasar obigasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ditutup melandai ke 6,56% dari  Rabu yang ada di posisi 6,64%. Imbal hasil yang melandai menandai adanya kenaikan harga SBN karena investor tengah banyak membeli.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |