RI Baru Mau Garap Harta Karun Langka, Tetangga Sudah Punya Pabriknya

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) menyoroti ketertinggalan Indonesia dalam hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan pemain global lainnya. Meskipun memiliki potensi cadangan yang melimpah, Indonesia saat ini masih berada pada tahap eksplorasi awal dan belum memiliki fasilitas pengolahan mineral kritis tersebut dalam skala ekonomi.

Chairman IMI Irwandy Arif menjelaskan, pengembangan industri LTJ di Tanah Air masih menghadapi kendala dalam penguasaan teknologi pemrosesan. Ia menyebutkan sejumlah negara seperti Malaysia, India, hingga China jauh lebih maju dengan mengoperasikan pabrik pemurnian terintegrasi yang menjadi tulang punggung rantai pasok dunia.

"Jadi kalau kita bicara Logam Tanah Jarang di Indonesia ini sebenarnya belum ada yang pengalaman, Pak. Jadi kita masih pada tahap awal," ucapnya dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Irwandy memaparkan bahwa beberapa negara di kawasan regional sudah memiliki industri pengolahan LTJ yang menjadi tolok ukur (benchmark) teknologi. Sebagai contoh, perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths (sebelumnya bernama Lynas Corporation), telah lama mengoperasikan fasilitas pemurnian di Pahang, Malaysia, guna mengolah konsentrat lantanit dari tambang Mount Weld Australia.

"Lynas Corporation yang dari Australia yang punya pabrik di Malaysia, ini salah satu yang pernah dirintis diupayakan untuk kerja sama dengan Timah tapi kemudian belum berhasil. Itu sebenarnya kita lihat ini lokasinya di Pahang, Malaysia," jelasnya.

Selain Malaysia, India juga telah memiliki industri pengolahan mandiri melalui Indian Rare Earths yang mengolah monasit menggunakan teknologi caustic cracking. Di tingkat global, dominasi mutlak masih dipegang oleh China yang mengendalikan sekitar 91% proses pemurnian dan pemisahan logam tanah jarang di dunia.

"68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang dunia dari Tiongkok. Lebih 90% persisnya kurang lebih 91% itu proses pemurnian dan pemisahan global dikuasai oleh mereka juga. Timur Tengah memiliki minyak tetapi Tiongkok memiliki logam tanah jarang," paparnya.

Berdasarkan catatannya, PT Timah Tbk sebenarnya telah berupaya melakukan rintisan kerja sama dengan sedikitnya enam perusahaan internasional dari Inggris, Malaysia, hingga Kanada sejak tahun 2018. Namun, berbagai penjajakan tersebut hingga kini belum membuahkan kesepakatan final untuk membangun fasilitas pengolahan monasit guna mendapatkan logam tanah jarang, uranium, dan torium.

"Saya ceritakan rintisan-rintisan kerja sama yang dilakukan oleh PT Timah itu dengan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia untuk mengolah monasit di sana untuk mendapatkan logam tanah jarang, uranium, sama torium itu ada enam kalau enggak salah tetapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang," tutur Irwandy.

Saat ini, tantangan utama Indonesia adalah mengejar keterbatasan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri agar nilai ekonomi mineral tersebut dapat dimaksimalkan. Pemerintah telah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perminas sebagai langkah strategis untuk mempercepat riset dan penguasaan teknologi pengolahan LTJ nasional.

"Nilai ekonomi mineral belum dapat dimaksimalkan karena belum mempunyai teknologi hilirisasi yang memadai. Ini yang tantangan utamanya. Tetapi di samping tantangan utama ada peluang strategis yaitu penguasaan teknologi pemrosesan LTJ yang risetnya sedang dilakukan oleh BIM atas penugasan dari Presiden," tandasnya.

(ven/wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |