Ramadan Tinggal Hitungan Hari, Bos Ritel Kasih Kabar Ini

2 hours ago 1

Jakarta CNBC Indonesia - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia atau Aprindo menilai sektor ritel bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan simpul distribusi nasional yang berperan langsung dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Namun kini isu harga acuan pemerintah justru menjadi salah satu perhatian utama pelaku usaha.

Ketua Aprindo Solihin menegaskan bahwa ritel modern selama ini selalu berada di garis depan ketika pemerintah menetapkan kebijakan harga. Bahkan dalam kondisi mendadak sekalipun, pelaku usaha dituntut bergerak cepat.

"Kalau ada ketentuan harga tertentu, kita yang selalu dipanggil. Bahkan tengah malam pun besok pagi harganya harus sesuai, kita lakukan," ujarnya dalam peluncuran Friday Mubarak di Kuningan City, Jumat (13/2/2026).

Ia mencontohkan pengalaman saat penetapan harga eceran tertinggi minyak goreng yang diputuskan menjelang sahur, namun keesokan paginya harga sudah diterapkan di hampir seluruh jaringan ritel anggota asosiasi.

"Ritel sangat taat terhadap harga acuan maupun harga eceran tertinggi. Walaupun di beberapa tempat seperti Papua ada perbedaan waktu, kami tetap berupaya menyesuaikan," katanya.

Suasana salah satu gerai supermarket GS The Fresh di kawasan Jakarta. Kamis (8/5/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Suasana salah satu gerai supermarket GS The Fresh di kawasan Jakarta. Kamis (8/5/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Suasana salah satu gerai supermarket GS The Fresh di kawasan Jakarta. Kamis (8/5/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Namun, Solihin mengakui terdapat tantangan ketika harga beli dari pemasok justru lebih tinggi dibanding harga acuan pemerintah. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam pengawasan di lapangan.

"Contoh daging dan cabai, harga belinya di atas harga acuan. Mohon arahan dari pemerintah, karena kalau Satgas turun dan menjadikan itu tolok ukur, peritel bisa kena teguran," jelasnya.

Isu tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan pokok menjelang Ramadan. Di sisi lain, peritel tetap dituntut menjaga harga agar tidak memberatkan konsumen. Keseimbangan antara kepatuhan regulasi dan realitas pasar menjadi ujian tersendiri.

Solihin juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada konsumsi domestik, terutama pada kuartal pertama setiap tahun. Momentum Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi periode penjualan tertinggi.

Ia menggambarkan fenomena unik perilaku konsumsi masyarakat Indonesia yang justru meningkat saat frekuensi makan berkurang selama puasa. Hal ini menunjukkan pola belanja yang lebih didorong kebutuhan sosial dan tradisi.

"Sebagai APRINDO saya menegaskan sektor ritel tidak hanya mengikuti dinamika ekonomi, kita harus ikut menentukan arahnya," tegas Solihin.

(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |