Jakarta, CNBC Indonesia - Inpex Masela Ltd mengungkapkan telah menggelontorkan dana sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 33,64 triliun untuk pengembangan proyek gas raksasa Blok Masela. Padahal, proyek strategis tersebut hingga kini masih dalam tahap persiapan menuju konstruksi.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Project Director Inpex Masela Jarrad Blinco saat menjawab pertanyaan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026). "2 miliar (US$)," ujar Jarrad menjawab pertanyaan Purbaya terkait dana yang telah dikeluarkan.
Adapun, secara keseluruhan, proyek LNG Abadi Masela diperkirakan membutuhkan investasi hampir US$ 21 miliar atau sekitar Rp 352 triliun.
Merespons angka tersebut, Purbaya menyebut uang yang sudah dikeluarkan oleh Inpex bukanlah jumlah kecil. Karena itu, ia pun memastikan bahwa pemerintah akan mengawal proyek ini dengan menghilangkan sejumlah hambatan.
"Anda tidak ingin menyerah, kan? Karena katakanlah beberapa masalah yang Anda hadapi. Tapi kali ini, saya memastikan bahwa kami akan menghilangkan semua hambatan untuk Anda," kata Purbaya.
Jarrad lalu menyambut positif dukungan yang akan diberikan oleh pemerintah Indonesia dalam mengawal proyek Blok Masela. "Bagus sekali. Terima kasih. Terima kasih atas dukungan Anda," katanya.
Sebagaimana diketahui, Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.
Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.
(ven)
Addsource on Google


















































