Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia dikejutkan oleh manuver politik Presiden AS Donald Trump pasca-penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Di tengah kekacauan serangan militer pada hari Sabtu (3/1/2026), Trump secara tak terduga memberikan dukungan kepada Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez (56), untuk dilantik sebagai presiden interim.
Keputusan ini merupakan pukulan bagi pemimpin oposisi Maria Corina Machado, pemenang Nobel Perdamaian yang sebelumnya sangat dekat dengan Trump, karena dianggap tidak memiliki cukup dukungan dan rasa hormat untuk memimpin Venezuela.
"Saya pikir dia (Rodriguez) cukup ramah. Kita tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih Venezuela tanpa memikirkan kebaikan rakyat Venezuela," ujar Trump seraya menambahkan bahwa Rodriguez telah berkomunikasi dengan Menlu AS Marco Rubio dan bersedia melakukan apa yang diperlukan untuk "membuat Venezuela hebat lagi."
Meski Trump mengklaim adanya kerja sama, Delcy Rodriguez justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang segera setelah pelantikannya. Dalam pidato nasional yang disiarkan televisi negara, Rodriguez dengan tegas mengecam aksi militer AS sebagai "agresi brutal" dan menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro.
"Hanya ada satu presiden di negara ini, dan namanya adalah Nicolas Maduro," tegas Rodriguez dengan berani, didampingi oleh pejabat sipil papan atas dan jajaran komandan militer tertinggi.
Akar Revolusioner dan Putri Martir
Lahir di Caracas pada 18 Mei 1969, Rodriguez merupakan putri dari Jorge Antonio Rodriguez, pendiri Liga Sosialis yang tewas disiksa dalam tahanan polisi pada tahun 1976. Kematian ayahnya menjadi tonggak sejarah bagi aktivis kiri Venezuela, termasuk Maduro.
Rodriguez adalah seorang pengacara lulusan Universitas Pusat Venezuela yang karier politiknya melejit dalam satu dekade terakhir sebagai garda terdepan "revolusi" sosialis yang diwariskan Hugo Chavez.
Selain menjabat sebagai Wakil Presiden, Rodriguez memegang posisi kunci sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Perminyakan sejak Agustus 2024. Ia dikenal karena menerapkan kebijakan ekonomi ortodoks untuk melawan hiperinflasi dan memiliki pengaruh besar di sektor swasta yang mulai menyusut.
Kedekatannya dengan tokoh-tokoh Wall Street dan industri minyak AS, seperti pendiri Blackwater Erik Prince dan utusan Trump, Richard Grenell, diduga menjadi alasan mengapa AS tertarik bernegosiasi dengannya.
"Profil tinggi dalam pemerintahan inilah yang kemungkinan besar membuat negosiasi tersebut menarik bagi Amerika Serikat," jelas jurnalis yang berbasis di Caracas, Sleither Fernandez.
Nicolas Maduro sendiri menjuluki Rodriguez sebagai "Macan" karena pembelaannya yang mati-matian terhadap pemerintah sosialis. Setelah penculikan Maduro, Rodriguez menyerukan persatuan rakyat Amerika Latin untuk melawan penggunaan kekuatan brutal yang dianggapnya sebagai preseden berbahaya bagi kedaulatan negara mana pun.
"Kami menyerukan kepada rakyat di tanah air yang besar untuk tetap bersatu karena apa yang dilakukan terhadap Venezuela dapat dilakukan terhadap siapa saja," seru Rodriguez dalam siaran VTV.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































