Pakar Ungkap 4 Mitos Bagi Penderita Diabetes

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kadar gula darah demi kesehatan jangka panjang kini semakin meningkat seiring dengan kemudahan akses informasi.

Namun, di tengah banjirnya konten kesehatan, muncul berbagai misinformasi yang menyesatkan para penderita diabetes maupun individu yang ingin menjaga pola hidup sehat.

Dua pakar edukasi diabetes bersertifikat memberikan klarifikasi tegas untuk mematahkan mitos-mitos populer yang selama ini dianggap sebagai kebenaran medis. Berikut adalah bedah mitos tersebut dikutip Eating Well, Minggu (5/4/2026):

Mitos 1: Penderita Diabetes Tidak Boleh Makan Buah

Pakar diet sekaligus edukator diabetes, Kaitlin Hippley, M.Ed., RDN, LD, CDCES, mengungkapkan bahwa dirinya sangat sering mendengar anggapan bahwa buah harus dihindari karena terlalu tinggi gula bagi pengelola gula darah. Padahal, fakta ilmiah menunjukkan hal yang sebaliknya mengenai manfaat buah utuh bagi tubuh.

"Kenyataannya, buah utuh mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang membantu memperlambat seberapa cepat gula diserap oleh tubuh," kata Hippley dalam laporannya yang dikutip pada Minggu, (05/04/2026).

Sebuah meta-analisis dari 19 uji klinis acak menunjukkan bahwa mengonsumsi buah segar atau kering secara signifikan justru menurunkan kadar gula darah puasa pada pasien diabetes. Hippley menyarankan agar buah tetap dikonsumsi dalam porsi seimbang dan dipadukan dengan protein atau lemak sehat, seperti apel dengan selai kacang atau beri dengan Greek yogurt.

Mitos 2: Harus Menjalani Diet Rendah Karbohidrat

Anggapan bahwa semua jenis karbohidrat bersifat "buruk" bagi gula darah dibantah keras oleh pakar diet Erin Palinski-Wade, RD, CDCES. Menurutnya, penderita diabetes tidak perlu merasa tertekan untuk menghilangkan seluruh asupan karbohidrat dari piring makan mereka.

"Anda tidak perlu mengikuti diet rendah karbohidrat atau tanpa karbohidrat untuk mengelola kadar gula darah," ujar Palinski-Wade menjelaskan.

Palinski-Wade menekankan bahwa fokus utama seharusnya pada jenis dan jumlah yang dikonsumsi. Karbohidrat berserat tinggi seperti kacang-kacangan dan biji-bijian utuh yang dipadukan dengan gerakan fisik setelah makan justru efektif untuk meredam lonjakan glukosa.

Hippley menambahkan bahwa pembagian porsi karbohidrat secara merata sepanjang hari sangat kruisial. Ia menyarankan pola makan yang konsisten, misalnya dengan mengonsumsi oatmeal di pagi hari dan salad sayuran saat makan siang untuk menjaga stabilitas energi.

Mitos 3: Label "Bebas Gula" Berarti Aman untuk Gula Darah

Banyak orang percaya bahwa label "sugar-free" pada makanan kemasan menjamin keamanan produk terhadap lonjakan glukosa darah. Namun, Hippley memperingatkan bahwa label pemasaran tersebut seringkali mengecoh konsumen yang tidak teliti membaca kandungan nutrisi secara utuh.

"Produk-produk tersebut masih bisa mengandung karbohidrat yang meningkatkan kadar glukosa dalam tubuh," tutur Hippley memberi peringatan.

Ia menyarankan konsumen untuk tetap memeriksa total karbohidrat, serat, dan protein pada label nutrisi. Hal ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam rasa aman palsu saat mengonsumsi produk olahan yang diklaim nol gula namun tetap memiliki beban glikemik tinggi.

Mitos 4: Tidak Boleh Lagi Menyantap Hidangan Penutup

Penderita diabetes seringkali merasa sedih karena menganggap mereka harus berhenti makan dessert selamanya. Padahal, pengelolaan gula darah bukanlah tentang pembatasan ketat yang menyiksa diri, melainkan tentang pengaturan komposisi yang tepat.

"Mengelola gula darah adalah tentang keseimbangan, bukan pembatasan. Hidangan penutup dapat masuk ke dalam rencana diet ramah gula darah jika Anda memperhatikan ukuran porsi, frekuensi, dan keseimbangan secara keseluruhan," ucap Hippley.

Ia mencontohkan alternatif sehat seperti membuat "es krim" dari pisang beku atau menggunakan yogurt Yunani sebagai pengganti krim kental. Dengan kreativitas, rasa manis tetap bisa dinikmati tanpa membahayakan kondisi kesehatan.

Strategi Lain untuk Menjaga Gula Darah Tetap Stabil

Selain memahami mitos di atas, Palinski-Wade dan Hippley membagikan beberapa tips praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Hidrasi dan Gerak:Minum air putih yang cukup membantu mengencerkan kadar gula dalam darah. Jalan kaki singkat selama 10 menit setelah makan juga terbukti ampuh menjaga stabilitas glukosa.
  • Konsumsi Alpukat: Mengganti lemak jenuh atau karbohidrat olahan dengan alpukat dapat membantu mengontrol gula darah karena kandungan serat dan lemak sehatnya yang tinggi.
  • Tambahkan Kacang-kacangan: Memasukkan lentil, buncis, atau kacang arab ke dalam sup atau salad dapat meningkatkan asupan serat dan memperlambat pencernaan karbohidrat.
  • Tidur Teratur: Kurang tidur di bawah tujuh jam atau jadwal tidur yang berantakan berhubungan langsung dengan kenaikan kadar gula darah
  • Manajemen Stres: Stres kronis dapat meningkatkan kadar gula darah dengan memengaruhi hormon seperti kortisol," kata Hippley. Teknik pernapasan dalam atau yoga sangat disarankan untuk melawan efek ini.

(tps/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |