Pawai Obor-Manten Lurah, Begini 10 Tradisi Merayakan 1 Muharram di RI

5 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 June 2026 08:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun Baru Islam diperingati setiap 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Di Indonesia, momen ini tidak hanya dirayakan sebagai pergantian tahun dalam Islam, tetapi juga lekat dengan berbagai tradisi budaya di daerah.

Bagi masyarakat Jawa, 1 Muharram juga dikenal sebagai 1 Suro. Karena itu, peringatannya sering diisi dengan doa bersama, ziarah, hingga ritual budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Setiap daerah memiliki cara berbeda dalam menyambut Tahun Baru Islam. Ada yang merayakannya dengan pawai obor, membuat makanan bersama, menggelar ziarah, hingga mengadakan arak-arakan adat.

Berikut 10 tradisi 1 Muharram yang dikenal di berbagai wilayah Indonesia:

1. Pawai Obor

Pawai obor menjadi salah satu tradisi yang paling banyak dijumpai saat malam 1 Muharram. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak-anak, remaja, hingga warga kampung dengan berjalan keliling lingkungan sambil membawa obor.

Sepanjang perjalanan, peserta pawai biasanya melantunkan selawat, takbir, dan doa. Kegiatan ini menjadi bentuk syiar Islam sekaligus cara masyarakat menyambut tahun baru Hijriah dengan penuh semangat.

Api obor yang menyala sering dimaknai sebagai simbol harapan baru, semangat hijrah, dan cahaya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

2. Bubur Suro

Bubur Suro banyak dijumpai di Jawa Barat dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Tradisi ini dilakukan dengan membuat bubur yang kemudian dibagikan kepada tetangga atau disantap bersama.

Bubur Suro biasanya terdiri dari bubur putih dan merah. Warna tersebut sering dimaknai sebagai simbol kehidupan manusia yang berisi suka dan duka.

Tradisi ini juga menjadi sarana untuk bersedekah dan mempererat hubungan antarwarga. Melalui makan bersama, masyarakat berharap tahun yang baru membawa keberkahan, keselamatan, dan kerukunan.

3. Ngadulag atau Lomba Tabuh Bedug

Di wilayah Sunda, khususnya Sukabumi, peringatan Tahun Baru Islam kerap diwarnai dengan tradisi Ngadulag. Tradisi ini berupa kegiatan menabuh bedug yang dilakukan secara meriah.

Dalam perkembangannya, Ngadulag sering dijadikan perlombaan antarwarga atau antarkelompok. Suara bedug yang ditabuh menjadi penanda datangnya tahun baru Islam.

Selain menjadi hiburan rakyat, tradisi ini juga memiliki makna religius. Bedug menjadi simbol panggilan untuk mengingat Allah dan memperkuat semangat beribadah.

4. Tapa Bisu

Tapa Bisu menjadi salah satu tradisi malam 1 Suro yang terkenal di Yogyakarta. Tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara.

Peserta biasanya terdiri dari abdi dalem dan masyarakat umum. Mereka berjalan dalam keheningan sebagai bentuk pengendalian diri, perenungan, dan doa.

Tapa Bisu bukan sekadar berjalan malam. Tradisi ini dimaknai sebagai momen untuk menenangkan diri, mengingat Sang Pencipta, serta mengevaluasi perjalanan hidup sebelum memasuki tahun yang baru.

5. Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta

Sekaten lebih dikenal sebagai tradisi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, tradisi ini juga sering dikaitkan dengan kuatnya perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa.

Sekaten biasanya digelar di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dalam tradisi ini, masyarakat dapat menyaksikan gamelan pusaka, pasar malam, hingga puncak acara berupa Grebeg Maulud.

Pada puncak acara, gunungan berisi hasil bumi diarak dan kemudian diperebutkan masyarakat. Tradisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana dakwah Islam dilakukan melalui pendekatan budaya sejak masa Walisongo.

6. Sedekah Gunung Merapi

Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, terutama di Desa Lencoh, Boyolali, memiliki tradisi Sedekah Gunung Merapi. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan.

Dalam tradisi tersebut, warga membawa sesaji seperti kepala kerbau dan hasil bumi. Sesaji itu kemudian dibawa ke kawasan gunung sebagai bagian dari ritual adat.

Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga simbol hubungan antara manusia dan alam. Mereka berharap dapat hidup selaras dengan alam serta terhindar dari bencana.

7. Ziarah Gunung Tidar

Di Magelang, Jawa Tengah, sebagian masyarakat menyambut Tahun Baru Islam dengan berziarah ke Gunung Tidar. Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Mereka biasanya berziarah ke makam tokoh-tokoh spiritual seperti Syekh Subakir, Kiai Sepanjang, dan Kiai Semar. Ziarah dilakukan untuk mendoakan para tokoh tersebut sekaligus memohon keberkahan.

Tradisi ini juga menjadi pengingat tentang sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Karena itu, ziarah Gunung Tidar tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memiliki makna sejarah.

8. Suran Manten Desa Traji

Desa Traji di Kecamatan Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, memiliki tradisi unik bernama Suran Manten. Tradisi ini dilakukan saat bulan Suro atau bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam dalam tradisi Jawa.

Dalam tradisi ini, kepala desa dan istrinya dirias seperti pengantin. Mereka kemudian diarak keliling desa menuju sejumlah sumber mata air yang dianggap memiliki nilai sakral.

Ritual ini menjadi simbol permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa. Selain itu, tradisi ini juga menunjukkan penghormatan masyarakat terhadap alam, terutama sumber air yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

9. Tradisi Tabuik atau Tabut

Tradisi Tabuik dikenal di Pariaman, Sumatera Barat, sedangkan Tabut dikenal di Bengkulu. Tradisi ini dilakukan untuk mengenang peristiwa Karbala, yaitu gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Peringatan ini biasanya dimulai sejak 1 Muharram dan mencapai puncaknya pada 10 Muharram atau hari Asyura. Dalam tradisi tersebut, masyarakat membuat bangunan menyerupai keranda besar dari bambu dan rotan.

Tabuik atau Tabut kemudian diarak ramai-ramai sebelum akhirnya dilarung ke laut. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap kezaliman.

10. Tradisi Nganggung

Di Bangka, khususnya Pangkalpinang, masyarakat memiliki tradisi Nganggung. Dalam tradisi ini, warga membawa dulang berisi makanan ke masjid atau tempat berkumpul.

Makanan tersebut kemudian disantap bersama-sama. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur atas rezeki yang diterima sekaligus cara mempererat silaturahmi antarwarga.

Nganggung juga menggambarkan kuatnya semangat kebersamaan dalam masyarakat. Semua warga, tanpa memandang usia dan status sosial, dapat ikut berkumpul dan berbagi makanan.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |