Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
16 June 2026 11:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara dunia ambruk pada awal pekan ini dan menjauh dari level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Koreksi tajam terjadi setelah pasar energi global mulai merespons meredanya risiko pasokan akibat kabar kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara kontrak Newcastle futures ditutup di US$137 per ton pada perdagangan Senin kemarin (15/6/2026). Harga tersebut anjlok 5,52% dibandingkan perdagangan sebelumnya di US$145 per ton.
Pelemahan ini membuat harga batu bara semakin menjauh dari level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir. Pada Senin pekan lalu (8/6/2026), harga batu bara sempat menyentuh US$150,35 per ton, level tertinggi sejak September 2023.
Jika dibandingkan dengan posisi tersebut, harga batu bara kini sudah terkoreksi sekitar 8,88%. Artinya, reli kuat yang sempat terjadi pada awal Juni mulai tertahan.
Tekanan terhadap harga batu bara datang dari meredanya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Kabar kesepakatan damai AS-Iran membuka peluang kembali normalnya jalur pelayaran energi di Selat Hormuz, salah satu titik paling penting dalam perdagangan minyak dan gas dunia.
Selama konflik berlangsung, gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk membuat sejumlah negara importir mencari alternatif bahan bakar. Batu bara ikut mendapat dorongan karena sebagian pembangkit listrik kembali mengandalkan komoditas ini untuk menjaga pasokan listrik, terutama ketika pasokan gas alam cair atau LNG terganggu.
Namun, ketika risiko geopolitik mulai mereda, tekanan pada pasar energi ikut berkurang. Harga minyak turun tajam, ekspektasi gangguan LNG mulai menurun, dan permintaan terhadap energi alternatif seperti batu bara mulai disesuaikan kembali oleh pasar.
Meski demikian, penurunan harga batu bara belum sepenuhnya menghapus faktor pendukungnya. Belahan bumi utara masih berada dalam periode musim panas, yang biasanya mendorong konsumsi listrik untuk pendingin ruangan. Kondisi ini tetap dapat menopang permintaan batu bara dari sektor pembangkit listrik, terutama di negara-negara Asia.
Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan pasokan dari Tanah Air. Sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia, kebijakan dan kelancaran ekspor dari Indonesia tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan harga batu bara global.
Pasar China dan RKAB Indonesia Jadi Penahan Koreksi
Di tengah tekanan harga global, pasar batu bara China masih menunjukkan sinyal yang tidak sepenuhnya lemah. Pasar impor batu bara termal China bergerak terbelah, dengan kargo pengiriman cepat atau prompt cargo masih tertekan, sementara pengiriman untuk Juli dan seterusnya justru dipandang lebih positif oleh pelaku pasar.
Tekanan jangka pendek terjadi karena pelabuhan selatan China masih mengalami kepadatan. Kedatangan kargo secara beruntun membuat pasokan di wilayah tersebut melimpah, sehingga harga pengiriman cepat ikut tertekan.
Namun, sebagian pelaku pasar memperkirakan kondisi ini hanya bersifat sementara. Kepadatan di pelabuhan selatan China diperkirakan mulai mereda pada akhir Juni, sehingga Juli berpotensi menjadi titik balik bagi harga batu bara.
Dari Indonesia, penambang batu bara juga masih belum banyak menurunkan harga. Batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR untuk pengiriman Juli-Agustus masih ditawarkan di kisaran US$70-73 per ton FOB. Kondisi ini menunjukkan penjual masih cukup percaya diri meski harga global sedang terkoreksi.
Pasar juga masih mencermati perkembangan kuota produksi RKAB Indonesia. Sejumlah pelaku pasar memperkirakan persetujuan formal terkait kuota produksi belum akan keluar dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam membaca arah pasokan batu bara Indonesia.
Faktor cuaca turut menjadi perhatian. El Nino berpotensi membawa kondisi kering berkepanjangan di Kalimantan, wilayah utama produksi batu bara termal Indonesia. Jika debit sungai turun tajam, pengangkutan batu bara menggunakan tongkang bisa terganggu, muatan berkurang, dan pasokan terlambat masuk pasar.
Di China, harga batu bara domestik juga masih tertahan kuat. Inspeksi keselamatan tambang di Shanxi masih ketat, sementara tim inspeksi juga mulai masuk ke Inner Mongolia. Kondisi ini berpotensi menahan produksi dan membuat penjual enggan memangkas harga terlalu dalam.
Harga batu bara domestik China juga masih stabil. Indeks CCI untuk batu bara 5.500 kcal/kg NAR berada di 865 yuan per ton FOB termasuk PPN, tidak berubah selama enam hari perdagangan beruntun. Sementara itu, indeks 5.000 kcal/kg NAR bertahan di 774 yuan per ton selama tujuh sesi, dan 4.500 kcal/kg NAR stabil di 675 yuan per ton selama delapan sesi.
Dengan demikian, meski sentimen damai AS-Iran menekan harga energi, pasar batu bara masih memiliki sejumlah penopang dari sisi pasokan. Perkembangan pelabuhan China, RKAB Indonesia, serta risiko El Nino di Kalimantan akan menjadi faktor penting bagi arah harga batu bara dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk saat ini, harga batu bara berada dalam fase koreksi setelah reli kuat pada awal Juni. Namun, selama permintaan listrik musiman masih tinggi dan pasokan dari negara utama belum sepenuhnya longgar, koreksi harga batu bara berpotensi tertahan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw)
Addsource on Google


















































