Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian besar trafik internet di Indonesia masih melalui Singapura. Indonesia ingin bisa mengurangi ketergantungan tersebut.
"Sejujurnya, 90% lalu lintas internet kita sekarang bergantung pada Singapura," kata Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (16/6/2026).
Ketergantungan ini karena posisi Singapura sebagai pusat digital utama di Asia Tenggara. Negara itu menjadi tempat jaringan kabel bawah laut utama, yakni infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi penting saat ini.
Platform infrastruktur kabel bawah laut independen GeoCables mencatat Indonesia memiliki 72 kabel bawah laut terdiri dari 42 kabel domestik dan 30 kabel internasional. Semua kabel bawah laut itu terhubung dengan Singapura.
Menurut Denny, Indonesia perlu membangun lebih banyak jalur digital alternatif. Dengan begitu tidak bergantung pada satu koridor karena bisa menimbulkan risiko dengan konsentrasi pada sumber daya tertentu.
Indonesia juga harus didukung dengan konektivitas yang memadai karena menjadi pusat digital di kawasan Asia Tenggara. Jadi bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia.
"Kita butuh keragaman dalam kabel bawah laut dan kabel darat (berbasis daratan), dan hal serupa untuk setiap pulau," ujarnya.
Sementara itu, asisten profesor dan koordinator program keamanan siber Monash University, Muhammad Erza Aminanto mengatakan ketergantungan Indonesia pada Singapura memang tidak bisa dihindari. Hal ini mengingat lokasi kedua negara yang memang berdekatan.
"Dari sudut pandang perusahaan yang membangun kabel serat optik bawah laut, jika ingin menjangkau Jakarta sebaiknya terhubung ke Singapura karena telah menjadi pusat internet global," kata Erza.
Namun sejumlah pengamat juga mengingatkan risiko ketergantungan pada Singapura. Misalnya, Erza mengatakan salah satunya risiko akan keamanan data.
Selain itu juga risiko adanya bencana alam dan kecelakaan. Ketua Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif Angga menjelaskan bencana alam bisa membuat adanya gangguan kabel yang berdampak pada konektivitas internet di Indonesia.
Erza mengakui bahwa mengurangi ketergantungan pada Singapura bukan hal yang mudah. Sebab wilayah Indonesia tidak memungkinkan memiliki stasiun pendaratan kabel yang berdekatan seperti Singapura dan membangun serta menghubungkan infrastruktur digital di seluruh kepulauan.
"Kita perlu lebih mandiri, namun tidak mudah karena investasinya sangat besar," dia menuturkan.
Di sisi lain, Arif mengungkapkan hanya sedikit perusahaannya yang bisa membangun infrastruktur kabel bawah laut. Sebab biaya yang harus dikeluarkan tinggi serta keahlian teknis khusus yang dibutuhkan.
"Dari segi bisnis, ini industri tingkat tinggi. Saya hanya tahu satu atau dua pemain yang tertarik buka rute baru," jelas Arif.
(npb/haa)
Addsource on Google


















































