Nilai Dagang RI-Korsel US$10,3 M, Bank Woori Saudara Perkuat Layanan

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) terus membuka peluang bisnis bagi industri perbankan. Terutama melalui layanan trade finance, pembiayaan ekspor-impor, dan transaksi valuta asing.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai perdagangan nonmigas Indonesia dan Korea Selatan mencapai sekitar US$10,3 miliar sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai tersebut terdiri atas ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan sekitar US$5,2 miliar dan impor sekitar US$5,1 miliar.

Besarnya arus perdagangan kedua negara menciptakan kebutuhan layanan keuangan yang semakin beragam. Pelaku usaha membutuhkan dukungan perbankan mulai dari penerbitan letter of credit (L/C), pembiayaan modal kerja, bank garansi, remitansi, hingga fasilitas lindung nilai untuk mengelola risiko kurs.

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menilai peningkatan perdagangan bilateral dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi bank yang memiliki jaringan dan pemahaman kuat terhadap ekosistem bisnis kedua negara.

"Peningkatan transaksi perdagangan Indonesia dan Korea Selatan akan mendorong kebutuhan terhadap pembiayaan ekspor-impor, penyelesaian transaksi lintas negara, serta layanan valuta asing. Bank yang memiliki konektivitas dan jaringan bisnis di kedua negara tentu mempunyai peluang lebih besar untuk menangkap potensi tersebut," ujar Aditya dikutip dari keterangannya, Seni (21/9/2026).

Aditya menambahkan bahwa peluang itu tidak terbatas pada pembiayaan perusahaan besar. Bank juga dapat masuk lebih dalam ke rantai pasok dengan membiayai pemasok, distributor, dan perusahaan lokal yang terhubung dengan korporasi Korea Selatan di Indonesia.

Salah satu bank yang berpeluang memanfaatkan momentum tersebut adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (Bank Woori Saudara/BWS). Keterkaitan BWS dengan Woori Bank Korea dapat menjadi modal untuk memperkuat layanan kepada perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia maupun perusahaan nasional yang memiliki aktivitas perdagangan dengan Korea Selatan.

Posisi BWS dalam pembiayaan valuta asing juga relatif kuat. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kredit dalam dolar Amerika Serikat mencapai sekitar Rp12,06 triliun per Juni 2026 atau sekitar 29,9% dari total kredit sebesar Rp40,34 triliun.

Portofolio kredit valas tersebut terutama berasal dari kredit modal kerja senilai Rp10,21 triliun dan kredit investasi Rp1,84 triliun. Sementara itu, kredit konsumsi dalam dolar AS tercatat sekitar Rp7,74 miliar.

Komposisi itu menunjukkan BWS memiliki basis pembiayaan valas yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha dalam perdagangan lintas negara. Selain pendapatan bunga, penguatan bisnis trade finance juga berpotensi meningkatkan fee based income melalui layanan L/C, bank garansi, remitansi, transaksi treasury, dan konversi valuta asing.

Peluang tersebut turut ditopang oleh Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), yang memberikan akses pasar lebih luas dan memfasilitasi perdagangan serta investasi kedua negara. Selain itu, kerja sama Bank Indonesia dan Bank of Korea dalam penggunaan mata uang lokal dapat mendukung efisiensi penyelesaian transaksi bilateral.

"Keunggulan jaringan perlu diterjemahkan menjadi layanan yang terintegrasi, mulai dari pembiayaan, pembayaran, transaksi valas, hingga pengelolaan risiko. Dengan pendekatan tersebut, bank tidak hanya membiayai satu transaksi, tetapi dapat masuk ke seluruh ekosistem perdagangan nasabah," katanya.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |