Jakarta, CNBC Indonesia - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melihat adanya perubahan tren perjalanan masyarakat Indonesia sepanjang 2026. Di tengah isu daya beli yang menjadi sorotan, masyarakat justru dinilai lebih banyak memilih berwisata di dalam negeri dibandingkan ke luar negeri.
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran mengatakan indikasi tersebut terlihat dari laporan ASEAN Hotel and Restaurant Association (AHRA), yang menunjukkan jumlah wisatawan Indonesia ke sejumlah negara tetangga mengalami penurunan pada Januari-April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia mengungkapkan, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia pada Januari-April 2026 turun 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan yang lebih dalam juga terjadi pada perjalanan ke Singapura yang mencapai 9,9%, sementara jumlah wisatawan Indonesia ke Thailand juga mengalami penurunan.
"Data pada rapat koordinasi dengan ASEAN Hotel and Restaurant Association, di setiap negara ya itu dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, itu orang Indonesia yang ke luar negeri menurut mereka tuh menurun," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Jumat (31/7/2026).
Menurut dia, berkurangnya jumlah wisatawan Indonesia ke luar negeri diduga dipengaruhi oleh kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat biaya perjalanan ke luar negeri menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mengalihkan rencana liburannya ke destinasi wisata domestik.
"Kalau kita perhatikan di sini, kenapa kemarin pas libur anak sekolah itu juga bisa berpotensi meningkat, mungkin orang lebih banyak traveling domestik karena ada tekanan masalah kurs ya, nilai dolar yang meningkat. Itu juga menjadi salah satu patokannya," ujarnya.
PHRI mencatat, pergeseran tersebut ikut menopang peningkatan okupansi hotel pada kuartal II-2026. Selama periode libur sekolah, tingkat hunian hotel di sejumlah destinasi wisata meningkat sekitar 20%-30% dibandingkan okupansi reguler.
Meski demikian, Maulana mengingatkan bahwa kenaikan okupansi tersebut belum mencerminkan pemulihan industri perhotelan secara menyeluruh. Menurutnya, peningkatan tersebut masih ditopang momentum libur panjang, sementara pasar korporasi, khususnya kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), masih belum kembali normal akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
"Iya ada membaik pada saat musim liburnya. Jadi gini, kuartal I-2026 terbantu karena ada libur lebaran. Terus kuartal II-2026, Juninya juga terbantu cukup besar pada saat libur sekolah kan ya. Tapi seharusnya kuartal III-2026 itu di-support paling besar itu dari aktivitas MICE, cuman kan karena efisiensi, aktivitas MICE-nya nggak terlalu besar. Gitu," pungkas dia.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































