Warga RI Ramai Check-in Hotel Tapi Pengusaha Resah Gelisah-Bilang Gini

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai kenaikan okupansi hotel sepanjang semester I-2026 belum menjadi sinyal bahwa industri perhotelan telah pulih sepenuhnya. Meski tingkat keterisian kamar atau okupansi mengalami peningkatan pada periode libur Lebaran dan libur sekolah, pelaku usaha hotel masih menghadapi tantangan besar karena pendapatan belum ikut membaik.

Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran mengatakan kenaikan okupansi pada kuartal II-2026 terutama ditopang oleh momentum libur sekolah. Di sejumlah daerah tujuan wisata, okupansi bahkan meningkat sekitar 20%-30% dibandingkan hari-hari biasa.

Namun, menurutnya, kenaikan tersebut hanya bersifat musiman dan belum mencerminkan perbaikan fundamental industri.

"Jadi jawabannya, apakah sudah pulih? Ya belum pulih sebenarnya gitu loh. Pasti belum pulih dan sekarang justru menghadapi tantangan baru kan, dengan adanya perang Iran tersebut yang justru meningkatkan biaya operasional, dan juga cost of traveling yang berdampak kepada pasar," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan kondisi pasca-pandemi Covid-19, performa industri hotel memang sempat terus membaik dari 2021 hingga 2024. Namun tren tersebut berbalik pada 2025 setelah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah menekan aktivitas korporasi, khususnya kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Menurut Maulana, hingga Mei 2026 rata-rata okupansi hotel nasional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) masih berada di level 46,96%. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata okupansi pada 2024 yang mencapai 52,50%.

"Sekarang kalau saya bicara ke 2026, kita masih bicara dalam tataran membandingkan tahun 2025 naik atau tidak. Nah jadi kalau dibilang pasca Covid, kita berharap nanti 2026 ini harusnya bisa lebih tinggi daripada tahun 2024. 2024 tuh year on year (yoy) kan 52,50% kan," ujarnya.

"Nah tapi kalau kita lihat dari catatan kita, data BPS yang kita pakai ya, itu sepanjang sampai Mei (2026) itu kita rata-rata year on year sampai bulan Mei saja, ini masih 46,96% Jadi masih di bawah tahun 2024," lanjut dia.

Selain okupansi yang belum sepenuhnya pulih, PHRI juga menyoroti kondisi pendapatan hotel yang masih tertekan. Maulana mengatakan tingginya tingkat hunian belum tentu diikuti kenaikan pendapatan, karena hotel masih harus bersaing melalui pemberian diskon untuk menarik tamu.

Menurutnya, sejak pandemi Covid-19, hotel semakin sulit menikmati periode high season yang biasanya menjadi momentum menaikkan tarif kamar.

"Jadi kalau konsumsi rumah tangga kan dia bayar sekian, tapi dapat layanannya lebih kecil. Kan kalau di hotel itu mungkin dia bisa dapat okupansinya tinggi, tapi secara revenue dia tidak dapat sesuai dengan ratenya pada saat seharusnya high season tersebut," jelas Maulana.

"Jadi kalau kita bicara performance based on occupancy, kita dia bisa aja bicara okupansi di hotel saya tuh 80%, tapi apakah ratenya juga mengikuti dengan terjadi peningkatan rate atau ratenya justru masih menggunakan harga terbaik saat itu? Kan gitu maksudnya ya kira-kira. Karena untuk mendapatkan okupansi tinggi, itupun dia masih berebut dengan kompetitor sekitarnya, karena marketnya nggak terlalu banyak," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |