Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
31 July 2026 15:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali menekan China mengenai pasokan logam tanah jarang atau LTJ.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump pada Kamis (30/7/2026) menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan pembatasan ekspor limbah industri dan limbah elektronik yang mengandung mineral kritis.
Langkah ini bertujuan menjaga pasokan logam tanah jarang, lithium, tungsten, dan material baterai bekas di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan AS pada China.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, setelah bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng pada Kamis (30/7/2026), mengatakan Washington mengharapkan Beijing memenuhi sepenuhnya komitmen terkait LTJ dan pembelian produk pertanian AS. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer turut menghadiri pertemuan tersebut.
Desakan itu merujuk pada kesepakatan sebelumnya yang mencakup upaya mengatasi kelangkaan yttrium, scandium, neodymium dan indium, sekaligus pembatasan ekspor teknologi serta peralatan pengolahan LTJ. China juga berkomitmen membeli sedikitnya US$17 miliar produk pertanian AS per tahun hingga 2028.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menghadiri sidang Subkomite Alokasi Anggaran Senat untuk Layanan Keuangan dan Pemerintahan Umum mengenai permintaan anggaran Presiden Trump untuk tahun fiskal 2027 di Capitol Hill di Washington, D.C., AS, 22 April 2026. (REUTERS/Annabelle Gordon)
Bisa Jadi Sentimen Dua Arah
Jika China memperlancar ekspor, kelangkaan bahan baku di AS dapat mereda dan premi harga LTJ non-China berpotensi turun. Kondisi ini bisa menjadi sentimen jangka pendek bagi produsen AS karena produk China umumnya lebih murah.
Sebaliknya, jika Beijing tidak memenuhi komitmennya, urgensi membangun rantai pasok domestik akan meningkat. Pemerintah AS berpeluang memperbesar pendanaan, kontrak pembelian, jaminan harga dan dukungan pembiayaan bagi perusahaan LTJ lokal.
10 Emiten LTJ AS dengan Market Cap Terbesar
Berikut emiten publik yang memiliki tambang, fasilitas pemisahan, pemurnian atau produksi magnet di AS. Kapitalisasi pasar merupakan angka yang ditampilkan berdasarkan data dari Refinitiv pada posisi penutupan perdagangan pasar Kamis (30/7/2026).
MP, USAR dan Energy Fuels Paling Terdampak
MP Materials menjadi emiten dengan paparan paling nyata karena telah menambang di Mountain Pass, memproduksi NdPr oxide serta membangun rantai produksi magnet NdFeB di Texas.
Perubahan pasokan dan harga dari China dapat langsung memengaruhi harga jual serta keekonomian operasinya. Namun, kontrak jangka panjang dan dukungan pemerintah memberi MP perlindungan yang tidak dimiliki banyak pemain kecil.
USA Rare Earth mempunyai sensitivitas kebijakan tinggi. Perusahaan mengumumkan rencana kemitraan dengan pemerintah AS yang dapat memberikan akses terhadap pendanaan hingga US$1,6 miliar, terdiri dari US$277 juta pendanaan langsung dan pinjaman US$1,3 miliar.
Fasilitas magnet Stillwater mulai memasuki tahapan produksi, tetapi tambang Round Top baru ditargetkan berproduksi komersial pada 2028. Hal ini membuat valuasinya masih sangat bergantung pada keberhasilan pembangunan proyek dan dukungan pemerintah.
Energy Fuels berada di posisi lebih matang dibandingkan sebagian besar pengembang. White Mesa Mill telah memproduksi NdPr oxide, sedangkan pemisahan unsur tanah jarang berat masih dikembangkan.
Perusahaan berpotensi diuntungkan apabila AS mempercepat substitusi produk China, tetapi juga menghadapi tekanan apabila pasokan murah dari China kembali membanjiri pasar.
Emiten berkapitalisasi lebih kecil seperti NioCorp, REalloys, Rare Element Resources dan Ucore mempunyai risiko lebih tinggi. Sebagian besar masih membutuhkan pendanaan, pembangunan fasilitas, peningkatan kapasitas dan kualifikasi produk.
Namun, kelompok ini juga berpotensi memperoleh manfaat besar jika Washington memperluas kontrak pertahanan, pinjaman lunak atau jaminan harga bagi produsen domestik.
Produksi China Jauh Tinggalkan AS
Logam tanah jarang telah menjelma menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia pada 2026.
Mineral ini merupakan bahan baku utama berbagai teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, semikonduktor, hingga sistem pertahanan canggih seperti radar, rudal, satelit, dan jet tempur.
Meningkatnya kebutuhan dunia terhadap energi bersih dan teknologi tinggi membuat permintaan REE terus melonjak, sementara pasokannya masih sangat terkonsentrasi di China yang menguasai sebagian besar produksi dan pengolahan global. Kondisi ini menjadikan REE tidak lagi sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik yang diperebutkan negara-negara besar.
Ketergantungan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan terhadap pasokan LTJ dari China mendorong berbagai negara untuk berlomba mengamankan sumber pasokan baru. Investasi tambang, kerja sama mineral kritis, hingga kebijakan hilirisasi terus digencarkan demi mengurangi risiko gangguan rantai pasok
China tidak hanya memiliki tambang, tetapi juga membangun ekosistem dari pendidikan, penelitian, pemisahan, pemurnian hingga produksi magnet.
Data menunjukkan produksi LTJ China mencapai 240 kiloton, jauh melampaui AS yang hanya 43 kiloton. Australia memproduksi 16,8 kiloton, sedangkan kategori negara lain mencapai 38,9 kiloton.
Dominasi tersebut memperlihatkan bahwa memiliki deposit saja tidak cukup. Titik kendali sebenarnya berada pada teknologi pemisahan, pemurnian, metalisasi, produksi paduan dan pembuatan magnet permanen.
China juga memiliki lebih dari 40 laboratorium khusus LTJ serta sedikitnya 11 universitas dan politeknik yang menerima lebih dari 500 mahasiswa setiap tahun. Integrasi tambang, tenaga ahli dan industri membuat posisi Beijing sulit ditandingi.
LTJ menjadi sangat strategis karena digunakan dalam radar, sonar, jet tempur, rudal berpemandu, drone dan motor berperforma tinggi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


















































