Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi bersama 13 negara lainnya resmi membentuk Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional demi mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Pembentukan koalisi ini dilakukan di tengah meningkatnya ancaman terhadap rute perdagangan dan pasokan energi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan aliansi tersebut dibentuk sebagai wadah memperkuat kerja sama pertahanan maritim kolektif. Riyadh menegaskan tujuan utama koalisi adalah menjaga kebebasan navigasi serta mengamankan jalur perdagangan internasional dan distribusi energi yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Mediterania.
"Pintu tetap terbuka bagi negara-negara lain untuk menyetujui piagam koalisi setelah menyelesaikan prosedur nasional mereka," demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (31/7/2026).
Selain Arab Saudi, negara yang telah bergabung dalam aliansi ini adalah Turkiye, Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Mesir, Pakistan, Djibouti, Somalia, Bangladesh, Yaman, Sudan, dan Komoro. Pertemuan pembentukan aliansi turut dihadiri perwakilan dari 43 negara, termasuk delegasi Uni Eropa. Namun, Uni Emirat Arab dan Oman belum menjadi bagian dari koalisi tersebut meski memiliki kepentingan keamanan yang sama di kawasan.
Menurut pemerintah Saudi, negara-negara peserta memiliki "keyakinan bahwa keamanan maritim adalah tanggung jawab bersama dan bahwa kerja sama serta koordinasi antarnegara merupakan landasan untuk menghadapi ancaman maritim umum dan lintas negara."
Riyadh juga menegaskan aliansi tersebut "murni bersifat defensif dan tidak menargetkan negara mana pun."
Pembentukan koalisi berlangsung ketika ketegangan di kawasan meningkat menyusul terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran. Di saat bersamaan, jalur Bab al-Mandeb-Laut Merah-Teluk Aden juga berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Aliansi ini akan berfokus pada pertukaran intelijen, berbagi informasi, penyusunan rencana operasi, hingga pelaksanaan latihan militer bersama dan operasi maritim. Namun, Arab Saudi belum mengungkapkan kontribusi kapal perang maupun pesawat yang akan disediakan masing-masing negara anggota.
Arab Saudi menjadi anggota pendiri sekaligus negara yang akan menjadi markas besar aliansi tersebut, meski lokasi pastinya belum diumumkan. Langkah ini juga diambil setelah kelompok Houthi memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi yang mengganggu pengiriman minyak melalui Laut Merah.
Sejak terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, Arab Saudi masih dapat mempertahankan sebagian besar ekspor minyaknya melalui pipa Timur-Barat menuju terminal Yanbu di pesisir Laut Merah. Meski demikian, seluruh pengiriman tetap harus melintasi Selat Bab al-Mandeb yang berada di antara Eritrea, Djibouti, dan Yaman, sehingga kawasan tersebut menjadi titik rawan terhadap serangan Houthi.
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena dilalui sekitar 10-12% perdagangan maritim global, termasuk jutaan barel minyak setiap hari. Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer di titik tersempit, gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia sekaligus menghambat arus perdagangan internasional.
(tfa)
[Gambas:Video CNBC]


















































