Jakarta -
Kementerian Kebudayaan RI (Kemenbud) melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni mengumumkan 'Penghargaan Kompetisi Skenario SINEMA 2026' yang berlangsung di Plaza Insan Berprestasi, Kemenbud, Jakarta.
Mengusung tema 'Kisah Kita, Kekuatan Bangsa', acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Film Nasional ke-76. Program SINEMA merupakan kompetisi penulisan skenario yang bertujuan untuk mendorong pengembangan karya berbasis sejarah Indonesia, dengan menghadirkan berbagai perspektif kepahlawanan dalam bentuk narasi yang relevan dan kontekstual bagi masyarakat.
Menbud Fadli Zon memberikan apresiasi kepada para finalis dan pemenang SINEMA 2026. Fadli menegaskan program ini merupakan manifestasi nyata dari upaya pemerintah dalam membangun ekosistem kedaulatan narasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah derasnya arus konten global, film harus kita tempatkan sebagai infrastruktur budaya yang kokoh. Melalui proses seleksi dan penilaian oleh dewan juri yang terdiri dari praktisi dan akademisi perfilman serta sejarah, kompetisi SINEMA hadir dalam memfasilitasi penulisan naskah yang kuat secara historis, namun tetap luas secara naratif," ucap Fadli, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Fadli juga menyebutkan ekosistem sinema yang kuat akan menjembatani kekuatan megadiversity Nusantara dengan kemajuan ekonomi berbasis budaya.
Untuk itu, Kemenbud berupaya terus memastikan memori kolektif bangsa berupa film tidak tergerus oleh waktu, salah satunya dengan memfasilitasi para sineas untuk mengembangkan naskah film biopik dan sejarah.
"Naskah skenario menjadi sangat vital dalam melahirkan suatu film yang mendapat apresiasi penting dalam masyarakat. Ke depan, pemerintah juga akan mendorong penulisan skenario film anak guna memastikan ketersediaan bank naskah sekaligus talenta penulis skenario yang bagus dan berkualitas," jelas Fadli.
Fadli turut berharap anugerah SINEMA 2026 dapat mendorong para pegiat industri film dalam mengembangkan narasi historis serta menjadi ruang kreatif yang melahirkan film sejarah berkualitas sekaligus naskah unggulan sebagai infrastruktur budaya yang kokoh.
"Kita harap ke depannya ada karya-karya dari sineas-sineas lain. Kompetisi ini diharapkan jadi satu stimulus atau trigger, terutama bagi penulis-penulis skenario film pemula," kata Fadli.
"Mudah-mudahan, SINEMA 2026 akan mendapat apresiasi yang lebih banyak lagi, baik di panggung nasional maupun internasional, dan menjadi bagian dari ekonomi budaya bahwa film dan budaya menjadi salah satu bagian yang penting dalam kebudayaan," tambahnya.
Meneguhkan pernyataan Fadli, Direktur Film, Musik dan Seni Irini Dewi Wanti, menyebutkan ada banyak ruang kreatif yang dikembangkan untuk penguatan narasi kepahlawanan dan kebangsaan, salah satunya melalui Kompetisi Penulisan Skenario SINEMA.
"Program SINEMA bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan juga menjadi momentum reflektif bahwa perfilman Indonesia terus bergerak maju sebagai salah satu pilar strategis dalam pemajuan kebudayaan Indonesia," tutur Irini.
Dalam pelaksanaannya, SINEMA 2026 berhasil menjaring ratusan karya dari berbagai daerah di Indonesia, dengan dominasi partisipan dari generasi muda.
Hal ini menunjukan tingginya minat masyarakat terhadap pengembangan cerita sejarah melalui medium film. Dengan melibatkan juri yang kompeten dan profesional di bidangnya, kompetisi ini diharapkan mampu menjaring karya terbaik untuk mengangkat narasi kepahlawanan melalui film, memperkuat identitas nasional, serta menghadirkan cerita yang relevan dan inspiratif.
Adapun para pemenang Kompetisi Penulisan Skenario SINEMA 2026, yakni untuk kategori film pendek juara 1 diraih oleh Gerbong Maut karya Dhony Fachri Wibawa (DI Yogyakarta); juara 2 Tuang Yosep karya Mariemon Simon Setiawan (Nusa Tenggara Timur); dan juara 3 Bayangan Dalam Asa karya Herlambang Irdiansyah.
Sementara pada kategori film panjang juara 1 diraih oleh Kapalselam Kalibayam karya Tito Imanda (Jawa Tengah); juara 2 dimenangkan oleh Pertaruhan Sunyi karya Suharso (Jawa Tengah), serta juara 3 Mardijker: Panggung Kematian karya Satria Sunanda (Kalimantan Selatan).
Pada kesempatan yang sama, turut diperkenalkan Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029, Fauzan Zidni. Pengenalan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kelembagaan perfilman nasional serta mendorong kolaborasi yang lebih terintegrasi antara pemerintah dan pemangku kepentingan industri film.
Kehadiran kepengurusan baru BPI diharapkan dapat memperkuat peran organisasi dalam mendukung pengembangan ekosistem perfilman Indonesia, termasuk dalam aspek produksi, distribusi, hingga perluasan akses pasar bagi karya-karya nasional.
Kompetisi penulisan skenario SINEMA 2026 menjadi salah satu langkah konkret Kemenbud dalam memperkuat fondasi cerita film nasional yang berakar pada sejarah dan nilai kepahlawanan, sekaligus membuka ruang bagi generasi baru kreator untuk berkontribusi dalam membangun narasi kebangsaan melalui medium yang relevan.
Sejalan dengan itu, pengenalan kepengurusan baru BPI periode 2026-2029 diharapkan mampu memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan, sehingga ekosistem perfilman Indonesia semakin solid, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam menghadirkan karya-karya berkualitas di tingkat nasional maupun global.
Turut hadir dalam acara ini, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Inspektur Jenderal (Irjen) Fryda Lucyana; Staf Ahli Menteri bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkitri; Staf Khusus (Stafsus) Menteri bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Direktur Film, Musik dan Seni, Irini Dewi Wanti; Ketua Lembaga Sensor Film RI (LSF) Naswardi; Ketua BPI Fauzan Zidni; serta insan perfilman.
Lihat juga Video: Mahkamah Agung Umumkan Hasil Lomba Foto Peradilan 2025
(hnu/ega)


















































