Inflasi Eropa-AS Memanas, Badai Kenaikan Suku Bunga Mengintai

1 hour ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

08 September 2026 16:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan inflasi kembali meningkat di berbagai negara, mendorong banyak bank sentral memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Namun, langkah untuk meredam kenaikan harga tersebut juga membawa risiko perlambatan ekonomi hingga resesi.

Perubahan arah kebijakan moneter ini mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Bank sentral Selandia Baru menjadi yang paling baru dengan menaikkan suku bunga acuannya pada 2 September 2026. Sementara itu, bank sentral Australia telah mengambil langkah serupa sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini.

Bank of Japan (BOJ) juga menaikkan suku bunga pada Juni, disusul Bank of Korea pada Juli dan Agustus. Berikutnya, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga depositonya menjadi 2,5% pada besok, Rabu (10/9/2026).

Amerika Serikat (AS) juga berpotensi mengikuti langkah tersebut. Pelaku pasar mulai memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Di luar kelompok negara maju, Indonesia juga telah bergerak agresif dalam memperketat kebijakan moneter.

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan dengan total 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang 2026. Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjaga stabilitas harga, tetapi juga menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Rangkaian kenaikan suku bunga di berbagai negara menunjukkan bahwa perang melawan inflasi belum benar-benar berakhir. Kondisinya memang masih jauh lebih baik dibandingkan lonjakan harga pada 2022, tetapi arah pergerakannya belakangan ini kembali menimbulkan kekhawatiran.

Inflasi Negara Maju Kembali Naik

Berdasarkan perhitungan The Economist yang menggunakan data OECD, rata-rata inflasi tahunan di negara maju tidak lagi bergerak turun menuju target 2%. Dalam beberapa bulan terakhir, inflasi justru kembali meningkat secara perlahan.

Inflasi zona euro mencapai 3,3% secara tahunan pada Agustus 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Swiss masih mencatat inflasi relatif rendah sebesar 0,8%. Namun, angka tersebut merupakan posisi tertinggi dalam dua tahun.

Tekanan yang lebih berat terjadi di Lithuania. Inflasi negara tersebut mendekati 6%, hampir dua kali lipat dibandingkan 3,1% pada Januari 2026.

Inflasi rata-rata negara majuInflasi rata-rata negara maju Foto: The Economist

Kenaikan harga tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap krisis biaya hidup. Harga barang dan jasa mulai meningkat lagi ketika daya beli belum sepenuhnya pulih dari gelombang inflasi sebelumnya.

Perang Timur Tengah Mengerek Harga Energi

Energi menjadi penyebab utama kembalinya tekanan inflasi. Perang di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas alam.

Di Eropa, harga gas alam kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum perang Iran. Harganya masih berpotensi meningkat karena negara-negara Eropa harus mengisi kembali fasilitas penyimpanan gas menjelang musim dingin.

Kondisi tersebut membuat inflasi energi di zona euro menembus dua digit.

Tekanan serupa dirasakan di Amerika Serikat. Konsumen kini harus membayar sedikit di atas US$4 untuk satu galon bensin, naik dari kurang dari US$3 pada awal tahun.

Kenaikan harga energi dapat dengan cepat merembet ke berbagai barang dan jasa. Biaya transportasi, produksi, dan distribusi menjadi lebih mahal, kemudian diteruskan ke harga yang dibayar konsumen.

Masalahnya Bukan Cuma Harga BBM

Tekanan inflasi kali ini tidak hanya berasal dari minyak, gas, atau bahan pangan.

Perhitungan The Economist menunjukkan rata-rata inflasi inti di negara maju juga masih tinggi. Inflasi inti tidak memasukkan komponen energi dan pangan karena harganya cenderung lebih mudah berubah.

Tingginya inflasi inti menunjukkan bahwa tekanan harga telah menyebar ke lebih banyak sektor, mulai dari jasa dan biaya sewa hingga upah. Kondisi semacam ini biasanya lebih sulit ditangani bank sentral karena tidak otomatis mereda ketika harga energi turun.

Bank sentral pun menghadapi pilihan sulit. Suku bunga perlu dinaikkan untuk menahan permintaan dan meredam kenaikan harga. Namun, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat menekan konsumsi, investasi, pasar perumahan, serta pertumbuhan ekonomi.

rata-rata suku bunga negara majurata-rata suku bunga negara maju Foto: The Economist

Era Suku Bunga Tinggi Belum Berakhir

Sejumlah bank sentral sebelumnya sempat berharap inflasi dapat kembali ke target tanpa membuat perekonomian jatuh ke dalam resesi. Kondisi tersebut dikenal sebagai soft landing atau pendaratan lunak.

Beberapa negara nyaris mencapainya. Inflasi berhasil turun cukup tajam, sementara pasar tenaga kerja dan aktivitas ekonomi masih bertahan.

Namun, kenaikan harga energi dan masih tingginya inflasi inti kembali memaksa bank sentral memperketat kebijakan. Peluang kenaikan suku bunga di berbagai negara pun kembali terbuka.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menurunkan inflasi belum tentu bertahan lama. Dunia mungkin sempat mendekati soft landing, tetapi perang melawan kenaikan harga ternyata belum berakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |