Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga cabai rawit merah yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh kelangkaan stok di tingkat produksi. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid menegaskan, pasokan cabai sebenarnya tersedia di lahan para petani, namun terkendala faktor cuaca sehingga panen tidak bisa dilakukan secara optimal.
"Untuk kenaikan harga cabai rawit merah ini, pertama adalah pertanamannya ada, cuma karena musim hujan, dia nggak bisa dipanen. Jadi jumlahnya sedikit yang dipanen, yang daerah-daerah tertentu, nah itu menyebabkan harga jadi naik," kata Abdul kepada CNBC Indonesia, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, secara harga di tingkat petani, cabai rawit merah justru masih tergolong murah. Saat ini, harga di petani berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram (kg). Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga di pasar dinilai masih dalam batas wajar.
"Tapi kalau harga sekitar rata-rata seperti itu, itu untuk cabai rawit merah, itu dikatakan normal. Karena harga di petani sekarang murah. Murah sekitar Rp35.000 sampai Rp40.000 per kg, sekitar-sekitar itu," jelasnya.
Menurut Abdul, harga cabai rawit merah di kisaran Rp40.000 hingga Rp60.000 per kg merupakan rentang normal. Bahkan, harga hingga Rp65.000 per kg di tingkat konsumen pun masih dapat dikategorikan wajar.
"Jadi harga ini, saya kira kalau sampai Rp65.000 per kg, kalau saya selalu mengatakan harganya itu sekitar antara Rp40.000 sampai Rp60.000 per kg, itu normal. Kalau masih Rp65.000, bahkan kalau untuk cabai rawit merah, itu normal, masih normal," tukas dia.
Ia juga menyoroti adanya perbedaan harga yang cukup jauh antara di tingkat petani, pedagang lokal, hingga harga di pasar. "Harga ini memang berbeda jauh dari petani, pedagang lokal, dan ke pasar. Biasa, Nataru ini kesannya, kalau saya sebut psikologi harga," ujar Abdul.
Foto: Pantauan harga pangan jelang Nataru di Pasar Rumput, Jakarta, Jumat (19/12/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Pantauan harga pangan jelang Nataru di Pasar Rumput, Jakarta, Jumat (19/12/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Ia mengungkapkan, AACI bahkan telah menyampaikan dalam rapat bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada awal Desember bahwa harga cabai diperkirakan tidak akan melonjak tajam karena stok di tingkat pertanaman cukup banyak.
"Kita pernah rapat di Kemendag di awal Desember, kita katakan nggak akan mahal. Karena memang jumlah panennya banyak. Stoknya di pertanaman banyak. Jadi itu," terang dia.
Ke depan, Abdul menilai perlu adanya pemetaan yang lebih jelas terkait pola tanam di setiap daerah. Pasalnya, saat ini terjadi peningkatan signifikan penanaman cabai rawit merah, seiring tingginya harga komoditas tersebut pada tahun sebelumnya.
"Sekarang ini penambahan tanam cabai rawit itu tinggi. Dia mengambil penanaman.. karena tahun lalu mahal untuk cabai rawit, maka yang cabai merah keriting itu dikurangi petani, mereka ganti ke cabai rawit merah. Itu yang kadang-kadang kita agak sulit mengantisipasinya," jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat membangun sistem yang lebih terintegrasi, mulai dari distribusi, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), hingga pemasaran, agar harga cabai lebih stabil dan menguntungkan semua pihak.
"Harapannya memang, pemerintah supaya harga cabai standar ini, kalau kita bisa bikin satu sistem distribusi yang bagus, lantas GAP yang bagus, lantas di pemasaran yang juga bagus, sehingga pertama, konsumen itu dapat harga yang mungkin bisa tetap, kedua, kualitasnya bagus, dan petani juga berbudidayanya bisa efisien," tuturnya.
Selama ini, fluktuasi harga cabai sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Ketika kondisi cuaca buruk, harga cenderung melonjak, sementara saat musim baik harga bisa turun tajam.
"Selama ini kan sangat tergantung dengan musim. Kalau musimnya jelek, harganya mahal. Kalau musimnya bagus, harganya murah. Nah, itu yang harus kita coba perbaiki. Saya yakin itu bisa, kedepannya bisa kita perbaiki," tandas Abdul.
Perlu diketahui, cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas pangan yang memberi andil terhadap tekanan inflasi pada Desember 2025. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga cabai rawit merah mencatat kenaikan yang cukup tinggi, dari rata-rata Rp56.873/kg pada tahun 2024, menjadi Rp65.753/kg pada 2025 atau naik 15,61%.
Kenaikan harga komoditas pangan bergejolak, termasuk cabai rawit, turut mendorong inflasi bulanan dan tahunan di akhir tahun, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]


















































