Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (3/7/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona hijau dengan menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah dalam tiga perdagangan beruntun sebelumnya.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.935-Rp17.965/US$. Penguatan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi tadi, seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,13% ke posisi 100,725.
Penguatan rupiah hari ini terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni melemahnya dolar AS di pasar global.
Greenback melemah pada sore ini, melanjutkan koreksi tajam pada perdagangan sebelumnya. DXY sebelumnya ditutup turun 0,53%, seiring meredanya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Pelemahan dolar AS menunjukkan tekanan jual terhadap aset berdenominasi greenback mulai meningkat. Kondisi ini membuat ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.
Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Pertumbuhan lapangan kerja AS pada Juni tercatat melambat lebih dalam dari perkiraan, sementara kenaikan payroll untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Sepanjang Juni, ekonomi AS hanya menambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000 pekerjaan.
Data tenaga kerja yang lebih lemah membuat pasar kembali menimbang ulang peluang kenaikan suku bunga The Fed pada sisa tahun ini. Hal ini pada akhirnya menekan dolar AS dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pergerakan rupiah saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan, bukan semata sebagai cerminan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
"Menurut saya, kita mulai melihat sinyal yang positif. Investor asing telah kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah kebijakan yang dilakukan otoritas, terutama dalam pengelolaan likuiditas serta upaya mengembalikan mekanisme pembentukan harga yang lebih sehat di pasar obligasi," ujar Fakhrul.
Menurut Fakhrul, proses stabilisasi rupiah tidak terjadi secara instan. Pasar obligasi menjadi salah satu faktor penting karena menjadi pintu masuk utama bagi aliran modal portofolio asing.
"Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar. Untuk menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi," kata Fakhrul.
Dia menambahkan, Indonesia saat ini sudah bergerak dari fase tekanan menuju fase stabilisasi. Namun, proses tersebut masih membutuhkan konsistensi kebijakan agar aliran modal asing ke pasar obligasi pemerintah bisa semakin kuat.
(evw/evw)
Addsource on Google


















































