Fenomena Warga China Ramai-Ramai Masuk Islam, Ada Apa?

4 hours ago 2
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini. Khusus terkait bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat bahwa Islam pernah berkembang sangat pesat di China pada masa pemerintahan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1398). Di bawah kepemimpinannya, banyak warga setempat yang tertarik dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Pada masa itu, Islam tidak lagi sekadar menjadi agama bagi kelompok kecil saja. Perkembangannya membuat Islam mulai memiliki pengaruh besar dan menempati posisi penting dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara sosial maupun politik di China.

Riset berjudul Islam in Imperial China (2019) mencatat, awal Dinasti Ming menjadi salah satu periode paling kondusif bagi pertumbuhan komunitas Muslim di negeri tersebut. Pada masa ini jumlah orang yang memeluk Islam meningkat cukup signifikan.

Penyebaran Islam terjadi melalui berbagai jalur sosial. Dakwah dilakukan secara personal dan menjangkau komunitas-komunitas lokal. Mulai dari kampung, klan keluarga, hingga jaringan perdagangan. Interaksi sosial inilah yang membuat Islam semakin dikenal luas dan menarik minat banyak orang.

Selain faktor sosial, dukungan negara juga ikut mempercepat perkembangan Islam. Pemerintah Dinasti Ming mendorong pembangunan masjid serta pusat pembelajaran agama. Para ulama dan cendekiawan Muslim pun mendapat ruang untuk berkembang di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, komunitas Muslim juga mulai terlibat dalam struktur pemerintahan kekaisaran. Banyak di antara mereka yang direkrut untuk mengisi berbagai posisi penting, seperti administrasi negara, militer, hingga lingkungan istana.

Bahkan, dalam praktiknya, sejumlah tokoh Muslim dipercaya memegang jabatan strategis seperti penasihat kekaisaran, utusan diplomatik, kasim istana, hingga gubernur wilayah. Keterlibatan ini membuat komunitas Muslim semakin berpengaruh dalam kehidupan politik dan sosial pada masa tersebut.

Jejak penerimaan terhadap budaya Islam bahkan terlihat pada artefak kekaisaran. Beberapa benda istana dari era Dinasti Ming diketahui memiliki hiasan kaligrafi Arab dan Persia, yang menunjukkan adanya pengaruh tradisi Islam dalam lingkungan kerajaan.

Meski demikian, dukungan terhadap Islam juga berjalan beriringan dengan pemaksaan proses asimilasi budaya. Komunitas Muslim di China perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal.

Riset berjudul Islam in Imperial China: Sinicization of Minority Muslims and Synthesis of Chinese Philosophy and Islamic Tradition (2019) menyebut bahwa proses ini dikenal sebagai sinisasi, yakni adaptasi budaya yang membuat sebagian identitas kultural Muslim Hui berbaur dengan tradisi Tionghoa.

Salah satu bukti paling menarik dari hubungan dekat antara kekaisaran Ming dan Islam adalah puisi pujian terhadap Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Hundred-Word Eulogy. Teks tersebut sering dikaitkan dengan masa pemerintahan Zhu Yuanzhang dan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok bijak yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Menurut riset Praising the Prophet Muhammad in China, keberadaan puisi ini menunjukkan bahwa Zhu Yuanzhang memiliki pemahaman terhadap ajaran Islam, meskipun ia sendiri tidak menjadi pemeluk agama tersebut.

Pujian tersebut juga menandakan bahwa pada masa itu Islam dipandang sebagai kekuatan moral dan spiritual yang memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat China.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |