Jakarta -
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menegaskan Indonesia merupakan bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa, baik dari sisi kuantitas maupun kedalaman sejarahnya. Ia menyampaikan bahwa saat ini terdapat 2.727 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dengan potensi puluhan ribu lainnya yang terus dalam proses registrasi dan verifikasi.
"Kita memiliki warisan budaya takbenda dan juga cagar budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Budaya kita bukan hanya kaya, tetapi juga tua," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Hal itu dikatakan Fadli Zon saat hadir sebagai pembicara kunci dalam Sarasehan Kebudayaan Nusantara bertema 'Kebudayaan Pancasila sebagai Daya Hidup Bangsa Menuju Peradaban Nusantara Berkelanjutan' yang diselenggarakan oleh Yayasan Bambu Indonesia di Cibinong, Bogor, Minggu (1/3).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli menyebutkan temuan mutakhir yang memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa berperadaban panjang, yakni publikasi dalam jurnal Nature pada 21 Januari 2026 tentang penemuan lukisan purba tertua di dunia berusia 67.800 tahun di Muna, Sulawesi Tenggara.
Temuan tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa peradaban Nusantara telah hadir sejak puluhan ribu tahun silam.
"Karena itu, Indonesia tidak cukup disebut sebagai nation state, melainkan juga sebagai civilizational state, yaitu negara peradaban," tegasnya.
Fadli menekankan bahwa budaya harus menjadi masa kini dan masa depan Indonesia. Negara-negara maju, katanya, tidak hanya melindungi budaya, tetapi juga mengembangkannya menjadi kekuatan strategis melalui cultural and creative industry (CCI) dan ekonomi berbasis kekayaan intelektual.
"Budaya adalah sumber daya strategis sekaligus soft power diplomasi, di bidang budaya kita memiliki fondasi yang sangat kokoh," tegasnya.
Dalam konteks kebangsaan, Fadli menegaskan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya bangsa yang digali oleh para pendiri bangsa. Ia menyatakan bahwa Pancasila bukan sekadar lima sila, melainkan hasil perenungan mendalam atas sejarah panjang peradaban Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, yang menjadi salah satu pembicara menyebutkan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus menempatkan kebudayaan sebagai pemersatu dalam visi pembangunan daerah melalui tagline 'Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas'.
Ia menyampaikan bahwa Kalimantan Timur telah memiliki Taman Budaya yang dimanfaatkan oleh seluruh etnis sebagai ruang ekspresi dan interaksi budaya.
Seno Aji juga menegaskan jejak peradaban tua di wilayahnya melalui keberadaan Kerajaan Kutai abad ke-4 yang dibuktikan dengan Prasasti Yupa di Muara Kaman, serta kesinambungan sejarahnya dari Kutai Martadipura hingga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Saat ini, terdapat 56 warisan budaya Kalimantan Timur yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan, baik benda maupun takbenda, termasuk pengakuan terhadap kuliner khas daerah.
Ia berharap sarasehan ini terus berkembang menjadi forum kebudayaan berskala nasional yang memperkuat sinergi antardaerah dalam memajukan kebudayaan Indonesia.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, yang juga menjadi pembicara, dalam paparannya menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap pembangunan kebudayaan di Jawa Barat, termasuk fasilitasi penetapan naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian sebagai Memory of the World UNESCO pada April tahun lalu.
Ia menegaskan bahwa pembangunan kebudayaan di Jawa Barat menjadi prioritas utama melalui dua fokus utama, yakni penguatan karakter generasi muda berbasis nilai filosofis leluhur, termasuk konsep generasi Pancawaluya: cager, bager, bener, pinter, singer, serta pelestarian lingkungan melalui pengendalian alih fungsi lahan.
Sarasehan Kebudayaan Nusantara ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, akademisi, budayawan, serta seluruh elemen masyarakat dalam menjadikan kebudayaan sebagai arus utama pembangunan nasional.
Melalui penguatan nilai-nilai Pancasila, pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya, serta pembinaan sumber daya strategis dan kekuatan diplomasi, Kementerian Kebudayaan berkomitmen mendorong terwujudnya peradaban Nusantara yang berkelanjutan.
Semangat kolaborasi yang terbangun dalam forum ini diharapkan menjadi energi bersama untuk memastikan kebudayaan tetap hidup, relevan, dan menjadi daya hidup bangsa Indonesia.
Sarasehan Kebudayaan Nusantara juga dihadiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi RI Periode 2014-2016, Yuddy Chrisnandi; Menteri Perdagangan RI Periode 2019-2020, Agus Suparmanto; Wali Kota Bogor Deddy Rahim; Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa; Rektor UNAS, El Amry Bermawi Putera; Ajudan Presiden RI, Anton Palaguna; Wakil Direktur SIBER Polda Jawa Barat, AKBP Mujianto; Kepala BNN RI, Komjen. Pol. Suyudi Ario Seto; tokoh dan pemuka agama Ubaidila Anwar; Budayawan Jatmika Nagamiharja; serta seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat.
Mendampingi Menteri Kebudayaan antara lain Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara; dan Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Syamsul Hadi.
(prf/ega)


















































