Dulu Dosen, Kini Leny Jadi Guru Mandarin Sesama Napi Lapas Perempuan Bandung

9 hours ago 3
Bandung -

Leny (42) sudah hampir dua tahun menjalani masa pidana di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat (Jabar). Sebelum masuk lapas, warga negara Indonesia (WNI) berdarah Tionghoa itu menghabiskan waktu sekitar 28 tahun hidup di China. Ia mengaku pernah bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di Beijing.

"Saya WNI, cuma sudah lama tinggal di China, 28 tahun. Sebagai dosen di Universitas Beijing," kata Leny saat ditemui detikcom di Lapas Perempuan Bandung, Jumat (21/8/2026).

Kemahiran bahasa Mandarin tersebut kini ia bagikan kepada warga binaan atau narapidana (napi) perempuan lainnya. Ia mempelopori dibukanya kelas bahasa Mandarin di lapas tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Leny mulai membuka kelas Mandarin pada 2025. Awalnya, hanya 12 orang yang bergabung.

Ia sengaja menerapkan metode pembelajaran yang ringan dan berfokus pada percakapan sehari-hari. Menurutnya, metode tata bahasa (grammar) sudah tertinggal dan tidak praktis.

"Saya buka kelas untuk having fun teman-teman, lebih banyak bermain karena yang saya ajarkan lebih ke conversation. Saya tidak menuntut teman-teman harus bisa huruf hanzi. Saya tulis hanzi dan mereka tulis pinyin," jelasnya.

Leny juga mengajarkan pelafalan, angka, cara memperkenalkan diri, hingga lagu berbahasa Mandarin. Ia menghindari materi yang terlalu rumit karena menilai warga binaan sudah menjalani berbagai kegiatan yang melelahkan setiap hari.

"Kalau kita belajar grammar terus akan jenuh," ujar Leny.

Leny mengatakan metode belajarnya berhasil menarik minat napi lainnya. Jumlah peserta kelas Mandarin yang berdurasi satu jam tersebut meningkat menjadi sekitar 50-60 orang pada Maret 2025.

"Tanpa diumumkan, mereka akan datang dengan sendirinya karena senang dengan kelasnya," ucap Leny.

Terjerat Kasus Penipuan

Leny dipenjara lantaran terjerat kasus penipuan dengan modus memberangkatkan siswa sekolah ke China serta membuka tempat kursus bahasa Mandarin secara ilegal. Terkait pemberangkatan siswa untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, ia mengklaim telah berulang kali melakukannya, termasuk ke Taiwan, Australia, dan Singapura.

Menurut versi Leny, pembayaran kepada sekolah di China seharusnya dilakukan oleh salah seorang sekretarisnya di Indonesia, sementara ia hanya memantau bisnis dari Beijing. Namun, uang yang dibayarkan para orang tua siswa ke tempat kursus Leny ternyata tidak disetorkan oleh sekretarisnya ke sekolah di China.

Lapas perempuan di Bandung (Audrey Santoso/detikcom)Foto: Lapas perempuan di Bandung (Audrey Santoso/detikcom)

"Tindak pidananya, sekretaris saya belum membayarkan ke sekolah yang di China. Sementara yang di China sudah mendapat kabar kalau anak-anak saya akan datang tanggal sekian, tetapi anak-anak tidak datang ke sekolah sana pada hari H," cerita Leny.

"Saya kira semua pembayaran sudah beres, ternyata salah satu sekretaris saya tidak membayarkan. Jadi dia menggelapkan, saya pasang badan," sambung Leny menyampaikan versinya mengenai perkara tersebut. Majelis hakim kemudian menjatuhkan vonis 4 tahun 6 bulan penjara kepadanya.

Peserta Kelas Mandarin Menurun, Kenapa?

Pada Januari 2026, kelas Mandarin di Lapas Perempuan Bandung mendapat pengajar sosial dari gereja. Leny kemudian memilih mundur dari peran utama dan hanya mendampingi.

Namun, menurutnya, sesama rekan napi merasa metode pembelajaran tersebut terlalu teoritis, salah satunya berfokus pada pembahasan nada (tone) dalam bahasa Mandarin. Leny menilai metode itu kurang cocok dengan kondisi warga binaan yang sudah menjalani banyak kegiatan sebelum masuk kelas.

"Metode pembelajarannya lebih merosot sekarang, jauh, karena mungkin mempelajarinya teori banget, misalnya nada satu dan nada empat. Jadi laoshi-nya masih pakai metode yang dulu," imbuh dia.

Dari sebelumnya sekitar 50-60 orang setiap kelas berlangsung, jumlah napi yang mengikuti kelas Mandarin turun menjadi sekitar 9 orang. Leny akhirnya kembali ikut mendampingi kelas dan membujuk teman-temannya agar kembali belajar bahasa Mandarin.

"Saya sempat tidak masuk kelas karena saya pikir sudah ada guru dari luar. Ternyata sejak ganti guru, jumlah warga binaan yang ikut merosot jadi sembilan orang," ungkapnya.

"Kalau sekarang saya berusaha membujuk-bujuk masuk kelas dengan meyakinkan ke teman-teman kalau saya juga ada di kelas," lanjut Leny.

Tak Cuma Mengajar Mandarin

Kemampuan yang dibawa Leny dari China tidak hanya bahasa Mandarin. Ia juga mempelajari pijat refleksi dari kegiatan ekstrakurikuler selama bersekolah di Negeri Tirai Bambu.

"Selain bahasa Mandarin, kebetulan memang waktu tinggal di China saya terapis pijat refleksi. Terus kan kalau kita di China pasti pelajaran seperti itu, siklus darah dan lain-lain," terang Leny.

Lapas Perempuan Bandung memiliki fasilitas salon. Leny kemudian ikut membagikan pengetahuannya mengenai pijat refleksi kepada warga binaan lain.

Leny sendiri juga mengikuti berbagai kegiatan di luar keahliannya. Saat masa pengenalan lingkungan (mapenaling), ia diperkenalkan dengan kegiatan membuat kue hingga membatik.

"Di sini ada pelatihan bakery, bikin marble cake, dan lain-lain yang kalau di luar kita harus mengeluarkan uang buat dapat ilmunya. Di sini semua gratis," ungkap Leny.

Bukan Lapas, Tapi Sekolah

Selama dua tahun berada di Lapas Perempuan Bandung, Leny menemukan fakta bahwa penjara yang ia huni tidak seseram tayangan di film atau yang dibayangkan sebelumnya. Ia merasa dihargai dan mendapatkan lingkungan pertemanan yang sehat.

"Di sini ternyata benar-benar menghargai manusia yang bersalah. Di sini tidak toxic atau kayak nge-judge kamu sudah melakukan hal yang tidak bisa diperbaiki. Di sini ibu wali kita merangkul, mendengarkan semua kisah kita, memberi masukan," tutur Leny.

Menurut Leny, banyaknya kegiatan turut membantunya menjalani keseharian selama berada di dalam lapas. "Di sini kita banyak kegiatan karena kalau tidak, ya kita akan terbelenggu dengan pikiran yang stuck," tambah dia.

Bagi Leny, Lapas Perempuan Bandung memberinya banyak pelajaran baru tentang kehidupan. Leny bahkan menyebut suasana di Lapas Perempuan Bandung lebih baik daripada penjara-penjara yang pernah ia kunjungi saat bekerja sebagai penerjemah (penerjemah/translator).

"Ini bukan kayak penjara, ini kayak sekolah saja. Teman kita macam-macam. Tapi saya bisa merasakan kalau kosakata penjara mengerikan, ya. Kami tidak merasakan sih di sini," ujarnya.

Leny pernah membagikan salah satu kegiatan Lapas Perempuan Bandung kepada kenalannya di China. Saat itu, para napi Lapas Perempuan Bandung menyuguhkan pertunjukan tarian kolosal dan Leny meminta kenalannya menyaksikan kegiatan tersebut melalui YouTube.

"Kata mereka, 'Itu bukan penjara. Kamu bohong ya dipenjara?'. Karena benar-benar kayak konser kan," tutur Leny sambil tertawa.

"Di China (penjara) tidak begitu. Singapura punya penjara juga tidak begini. Saya kan pernah jadi translator, napi benar-benar dijaga, benar-benar tidak ada ruang gerak sama sekali, tidak ada kegiatan sama sekali, nothing, zero," imbuh dia.

Ia menyebut Lapas Perempuan Bandung sebagai tempat untuk belajar sekaligus mengevaluasi perilaku yang membuatnya berhadapan dengan hukum. Bagi Leny, Lapas Perempuan Bandung adalah sekolah.

"Makanya saya bilang ini bukan penjara, tapi ini sekolah kepribadian untuk membuat karakter saya semakin tahu saat kaki berpijak dan tangan melakukan apa. Saya harus tahu supaya terhindar dari urusan aparat penegak hukum," pungkas Leny.

(aud/isa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |