Jakarta -
Sebanyak 60% kapal feri di lintasan Merak-Bakauheni nganggur alias tak beroperasi. Penyebabnya, dua pelabuhan itu kekurangan dermaga.
Jumlah kapal feri yang tersedia di lintasan terpadat di Indonesia itu saat ini mencapai 72 kapal. Sekitar 43 kapal yang ada tidak beroperasi selama arus mudik-balik Lebaran 2026.
"Tadi saya sudah banyak diskusi mengenai kenapa sampai terjadi antrian yang begitu panjang. Di saat-saat itu juga kapal ini tidak semuanya bisa beroperasi. Bahkan tadi sudah dikatakan bahwa dari 72 kapal itu kalau secara reguler hanya bisa dioperasikan 28 kapal. Karena kita kurang banget dermaganya. Jadi hanya kita hanya punya tujuh. Sedangkan di setiap dermaga beroperasi empat kapal, berarti ada lebih dari 60% itu tidak bisa dioperasikan," kata anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, di Pelabuhan Merak, Selasa (31/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyaknya kapal yang tidak bisa beroperasi, kata Bambang, menyebabkan kepadatan saat arus mudik-balik Lebaran 2026. Penambahan dermaga dinilai menjadi solusi untuk mengurai kepadatan di Pelabuhan Merak-Bakauheni yang setiap tahun berulang.
"Padahal di saat situasi yang seperti ini. Nah, ini butuh satu evaluasi daripada ASDP, perusahaan-perusahaan pelayaran, terus terutama juga regulator dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kemenhub untuk segera mengantisipasi kesulitan pengusaha atau perusahaan pelayaran ini atau pelayaran ya itu untuk bisa beroperasi. Kalau misalnya ada penambahan dermaga, satu pasang dermaga itu bisa mengantisipasi empat unit kapal," ujarnya.
Menurutnya, penambahan satu pasang dermaga baru di Pelabuhan Merak-Bakauheni misalnya, bisa mengoperasikan 8 unit dari 43 unit kapal nganggur atau sekitar 35 persen.
"Jadi kalau dua pasang dermaga, maka akan jadi 8 unit kapal, 8 unit kapal itu tentu bisa menambah kapasitas dari 28 kapal adalah sekitar 35% kira-kira. Sehingga apa? Bila ASDP ini selalu setiap tahun mengalami kenaikan sekitar antara 8 sampai 10% rata-rata. Maka sampai tahun ketiga keempat itu sudah bisa mengantisipasi apa itu bila terjadi lonjakan dan sebagainya," ujarnya.
(whn/whn)

















































