Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian politik menyelimuti Venezuela setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan pemimpin negara itu, Nicolás Maduro. Pernyataan Trump tersebut memicu kekosongan kekuasaan di Caracas dan membuka spekulasi luas mengenai siapa yang akan mengisi tampuk kepemimpinan di negara Amerika Selatan itu.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan operasi besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya. Ia menambahkan bahwa sejak November lalu dirinya telah memperingatkan bahwa masa jabatan Maduro sebagai presiden tinggal menunggu waktu.
Penangkapan tersebut langsung menimbulkan tanda tanya besar mengenai suksesi kekuasaan. Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat potensial untuk menggantikan Maduro, meski jalur menuju kursi presiden diperkirakan akan sarat ketidakpastian dan tarik-menarik kepentingan.
Berikut sejumlah calon pemimpin baru Venezuela apabila rezim Maduro benar-benar berakhir usai ditangkap dan diadili di AS, sebagaimana dikutip dari Newsweek:
Maria Corina Machado
Peraih Nobel Perdamaian 2025 itu memimpin partai oposisi Vente Venezuela dan secara telak memenangkan pemilihan pendahuluan presiden pada 2023. Namun, ia sebelumnya dilarang maju sebagai kandidat presiden oleh Mahkamah Agung Venezuela.
Christopher Sabatini, peneliti senior di lembaga think-tank Chatham House di London, mengatakan kepada Newsweek bahwa Machado merupakan pilihan utama Washington dan banyak kalangan Demokrat di dunia. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jalan menuju kekuasaan tidak akan mudah.
"Ada banyak hambatan di jalurnya karena ia telah mengatakan tidak akan menerima pemerintahan sementara. Ia menginginkan pemerintahan yang sah dan terpilih secara demokratis mengambil alih kekuasaan, tetapi itu bukan jalur yang jelas menuju kekuasaan," kata Sabatini.
Menurut dia, elite rezim Maduro, yang banyak di antaranya berada di bawah sanksi AS, akan berupaya sekuat tenaga mempertahankan posisi mereka.
"Tidak benar-benar menjadi kepentingan mereka untuk menyingkir dan membiarkan Maria Corina Machado masuk ke istana presiden, terutama karena ia sendiri telah berbicara tentang memastikan keadilan bagi mereka yang melakukan pelanggaran HAM atau terlibat dalam kegiatan ilegal," ujarnya.
Sabatini juga mempertanyakan sejauh mana pemerintahan Trump bersedia menggunakan tekanan diplomatik atau bahkan militer untuk membuka jalan bagi Machado.
Edmundo González
Kandidat oposisi ini secara luas diyakini memenangkan pemilihan presiden 2024. Partai Maduro mengeklaim kemenangan dan Mahkamah Agung mengesahkan kembali Maduro sebagai presiden, sebuah keputusan yang menuai kecaman internasional, termasuk dari Washington.
Surat perintah penangkapan kemudian diterbitkan terhadap González, yang akhirnya melarikan diri ke Spanyol karena khawatir akan keselamatannya. Menurut Sabatini, kepresidenan González hanya mungkin terwujud jika pemerintahan Maduro runtuh sepenuhnya atau melalui proses negosiasi.
"Namun jalur menuju kekuasaan dengan sisa-sisa pemerintahan Maduro yang masih ada, yang saling bersaing untuk menggantikannya, sama sekali tidak sederhana," katanya.
Delcy Rodríguez dan Jorge Rodríguez
Berdasarkan konstitusi, wakil presiden berada di urutan pertama dalam garis suksesi. Rodríguez dikenal memiliki hubungan dengan elite ekonomi, investor asing, dan kalangan diplomatik.
Namun Sabatini menilai ia bukan kandidat yang diinginkan oleh oposisi Demokrat. Bersama saudaranya, Jorge Rodríguez, ketua Majelis Nasional, Delcy Rodríguez dinilai sangat terlibat dalam praktik represi, kecurangan pemilu, dan unsur korupsi rezim Maduro.
Delcy Rodríguez sendiri juga berada di bawah sanksi Amerika Serikat. "Pertanyaannya adalah seberapa besar toleransi pemerintahan Trump untuk membiarkan sisa-sisa pemerintahan Maduro tetap bertahan?" ujar Sabatini.
Vladimir Padrino López dan Diosdado Cabello
Selain figur sipil, sejumlah tokoh militer juga masuk dalam bursa calon pengganti. Salah satunya adalah Jenderal Vladimir Padrino López, perwira tertinggi angkatan bersenjata Venezuela yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia Maduro dan berperan dalam menekan aksi-aksi protes oposisi.
Nama lain adalah Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, seorang pensiunan letnan yang dekat dengan pendahulu Maduro, Hugo Chávez.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































