Cilacap -
Pria asal Cilacap, Sairan, merupakan mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Dia memilih kembali ke kawasan Nusakambangan dan melamar bekerja di kolam budi daya ikan sidat, yang sedang dikembangkan di pulau penjara tersebut.
Sairan mengaku alasannya kembali ke Nusakambangan karena faktor masyarakat yang menstigma dirinya, sehingga dia susah mencari pekerjaan. Budi daya Ikan Sidat memang jadi kegiatan pembinaan yang sehari-hari Sairan dilakoninya sebelum akhirnya bebas dari masa pidana.
"Saya kembali lagi bekerja di tambak sidat ini karena saya mungkin susah mendapatkan kerjaan di luar sana, karena stigma mantan napi. Dan mungkin saya dianggap negatif di mata masyarakat, sehingga saya memutuskan kembali ke sini lagi untuk bekerja. Harapannya, saya bisa bekerja lebih lama di sini dan mendapatkan ilmu perikanan," ungkap Sairan kepada detikcom, Senin (23/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, sebagai tulang punggung keluarga, tak mungkin dia menganggur setelah sekian lama menjalani masa hukuman di Nusakambangan. Pertimbangannya kembali ke Nusakambangan dan melamar sebagai pekerja kolam budidaya ikan sidat juga karena upah yang ditawarkan dinilai mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
"Saya tulang punggung keluarga, saya harus mencukupi kebutuhan hidup. Alhamdulillah upah di sini cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarga di rumah," kata Sairan.
Sairan, eks narapidana yang memilih bekerja di kolam Sidat Nusakambangan, usai bebas dari masa pidana. (dok. UPT Pemasyarakatan Nusakambangan)
Lantas berapa upah yang didapat Sairan sebagai pekerja di kolam budidaya Ikan Sidat usai bebas dari Nusakambangan? "Upahnya Rp 2,5 juta perbulan," jawab Sairan.
Sairan tak menampik nominal upah tersebut menggiurkan, meski sedikit di bawah upah minimum regional (UMR) Cilacap. Diketahui UMR Cilacap pada 2026 sekitar Rp 2,7 juta.
"Saya senang setelah keluar dari Nusakambangan, saya masih diterima kembali di sini untuk membantu budidaya Sidat, dan saya bisa mendapatkan upah untuk menghidupi keluarga dan saudara-saudara saya," ujar Sairan.
Selain Upah, Dapat Ilmu Berharga
Dia menyampaikan keputusannya kembali ke Nusakambangan sebagai pekerja juga mendapat dukungan dari keluarganya. Karena tak hanya dapat upah, imbuh Sairan, tetapi juga dapat ilmu yang mungkin dapat dia praktikkan secara mandiri.
"Ilmu yang saya dapatkan bisa saya terapkan nanti di daerah saya, agar saya bisa bantu masyarakat daerah saya untuk budidaya Sidat atau jenis ikan lain. Agar saya bisa membawa daerah saya maju. Jadi untungnya kerja di sini dapat ilmu dan upah. Keluarga sangat men-support saya kembali lagi sebagai pekerja di Nusakambangan," jelas Sairan.
Sairan menuturkan harapannya memajukan daerah atau kampungnya bertujuan untuk mengikis citra buruk yang melekat di seorang mantan narapidana. "Orang-orang sekitar waktu saya pertama kali bebas, ya ada saja pandangan negatif, tapi saya ingin buktikan saya bisa membuat imej saya lebih baik lagi," tambah dia.
Sairan bercita-cita memiliki kolam budidaya Ikan Sidat usai memperoleh ilmu perikanan di sarana pembinaan budidaya Sidat, Nusakambangan. (dok. UPT Pemasyarakatan Nusakambangan)
Di kolam ikan sidat saat masih berstatus narapidana, Sairan belajar mengolah pakan hingga mengatur air kolam. Kini usai direkrut menjadi tim budidaya ikan sidat, ia ditugasi mengawasi air hingga kelistrikan kolam tiap malam.
"Saya pertama mengikuti program budi daya sidat dari lapas Batu. Lalu belajar mengolah pakan, manajemen air dan budi daya sidat di tambak. Saat ini saya di tambak sidat mengontrol air, saya piket malam, mengontrol kelistrikan. saya bekerja dari pukul 16.00 sampai 04.00 WIB," sebut Sairan.
Inspirasi Buka Kolam Sidat Sendiri
Di balik rasa betahnya di Nusakambangan, Sairan berharap bisa berada di tengah masyarakat dan mendapat perlakuan seperti warga pada umumnya. Sairan berharap masyarakat memandang eks narapidana tak hanya dari sisi negatif.
"Saya berharap masyarakat juga tak menilai kami mantap warga binaan pemasyarakatan dari luarnya saja. Mungkin kami masih ada sisi positifnya. Saya akan membuktikan saya itu bisa, saya mampu mengembalikan citra baik saya. Saya bekerja di tambak sidat ini, saya akan membuktikan pada masyarakat," tegas Sairan.
Terakhir, dia berharap pembinaan dengan arah pemberdayaan dan kemandirian bagi narapidana diperbanyak dan terus dikembangkan oleh pihak Pemasyarakatan. Sebagai mantan napi, dia merasa sangat terbantu dengan mengikuti ikut program kemandirian ketahanan pangan yang hadir sejak era Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
"Saya berharap ke depannya program-program di lapas, seperti ketahanan pangan ini, semoga lebih banyak lagi, bisa membuka lapangan pekerjaan. Ini sangat membantu saya untuk bisa diterima kembali di masyarakat. Kolam sidatnya lebih maju lagi, bisa berkembang," tutur dia.
Ikan sidat dari kolam Lapas Nusakambangan diolah layaknya makanan khas Jepang (Audrey Santoso/detikcom)
Dia mengaku bangga dapat berkontribusi pada program ketahanan pangan di lapas. Dengan serius menyerap ilmu budi daya ikan sidat, Sairan bercita-cita kelak dapat membuka kolam budidaya sendiri di rumahnya.
"Saya bangga saya bisa membantu program ketahanan pangan pemerintah. Saya harap saya bisa menyerap ilmu lebih banyak lagi di sini agar saya bisa membuka budidaya sendiri di rumah. Agar saya bisa merubah nasib lebih baik lagi," pungkas Sairan.
Ketahanan Pangan di Lapas
Sejak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenppas) berada dalam 'rumah baru', yakni Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), aktivitas ketahanan pangan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) menggeliat di lapas-lapas dan rutan-rutan. Geliat aktivitas ini tak lepas dari arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto yang menggagas dua hal tersebut sebagai bagian dari pembinaan para warga binaan pemasyarakatan alias narapidana (napi).
Pada Kamis, 15 Januari 2026, Ditjenpas Kemenimipas menggelar panen raya serentak se-Indonesia komoditas pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Berikut hasil Panen Raya Serentak Kemenimipas periode Januari 2026:
- Sektor pertanian dan perkebunan: padi, jagung, holtikultura, singkong, kelapa, komoditas perkebunan lainnya. Total 99.930 kg.
- Sektor peternakan: ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, bebek, kambing, domba. Total 4.019 kg.
- Perikanan: ikan Lele, Nila, Patin, Gurame, Mujaer; udang Vaname. Total 19.608 kg.
Jumlah keseluruhan hasil Panen Raya Serentak se-Indonesia Ditjenpas Kemenimipas: 123.557 kg.
Kemenimipas juga menjadikan Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), sebagai proyek percontohan kegiatan pembinaan di bidang ketahanan pangan dan UMKM.
(aud/jbr)


















































