Cek Huntara Desa Tunyang, Tito Puji Penataan Lingkungan-Kualitas Bangunan

5 hours ago 4

Jakarta -

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian meninjau langsung perkembangan hunian sementara (huntara) di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kemarin.

Dalam kunjungannya, Tito mengapresiasi percepatan pembangunan huntara yang mengalami kemajuan signifikan hanya dalam waktu dua bulan. Ia mengaku terkejut melihat perubahan kondisi di lokasi yang sebelumnya masih berupa lahan kosong.

"Saya datang dua bulan lalu bersama Pak Bupati dan Pak Wagub, saat itu lokasi ini masih tahap awal. Sekarang sudah berubah total. Ini luar biasa," ujar Tito dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tito menilai salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan huntara adalah ketersediaan lahan yang memadai. Ia menyebut dukungan pemerintah daerah, khususnya Bupati Bener Meriah yang menyediakan lahan datar, turut membantu percepatan pembangunan.

"Di banyak daerah, mencari lahan datar untuk huntara sangat sulit karena kondisi perbukitan. Di sini, lahan sudah siap sehingga pembangunan bisa cepat dilakukan," tambahnya.

Saat ini, huntara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh menjadi contoh penataan hunian layak bagi penyintas. Huntara ini tidak hanya cepat dibangun, tetapi juga memenuhi standar kenyamanan bagi penghuninya.

Berbeda dari huntara di daerah lain, kawasan huntara Tunyang dinilai unggul dari sisi penataan lingkungan. Permukaan tanah yang relatif datar dan berbatu membuat area hunian tidak becek, bahkan saat hujan. Selain itu, akses jalan di dalam kawasan telah diperkeras, sehingga memudahkan mobilitas warga.

"Penataan seperti ini penting, karena huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tapi juga ruang hidup yang harus layak," papar Tito.

Tito menambahkan, kualitas fisik bangunan huntara di lokasi tersebut juga telah memenuhi standar dasar hunian. Setiap unit dilengkapi fasilitas yang mendukung kebutuhan sehari-hari, sementara fasilitas umum dibangun secara terintegrasi dalam satu kawasan.

Ketersediaan dapur umum, toilet, dan kamar mandi, ruang berkumpul, hingga tempat ibadah menunjukkan pendekatan pembangunan huntara tidak lagi bersifat darurat semata, melainkan mulai mengarah pada konsep hunian yang manusiawi dan berkelanjutan.

Selain itu, keberadaan ruang terbuka seperti area bermain anak dan fasilitas olahraga turut memperkuat fungsi sosial kawasan. Hal ini membuat huntara tidak terasa sempit atau membatasi aktivitas warga.

Tito menyampaikan model huntara tersebut dapat menjadi rujukan dalam pembangunan huntara di wilayah lain, terutama di daerah dengan kondisi geografis yang menantang.

Namun, ia menegaskan huntara tetap bersifat sementara. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) agar masyarakat dapat segera memiliki tempat tinggal permanen.

"Kita ingin memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak, sambil menunggu huntap selesai dibangun," pungkasnya.

(ega/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |