Cegah Karhutla Way Kambas, Firman Soebagyo Dorong Penguatan Deteksi Dini

3 hours ago 1

Jakarta -

Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mendorong perubahan pola penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, dengan lebih mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.

Menurut Firman, pengendalian karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi harus dilakukan sejak potensi kebakaran dapat diantisipasi.

"Hari ini kita lihat langsung. Prinsipnya harus kita balik. Jangan 'padam setelah terjadi', tapi 'cegah duluan'. Karena mencegah itu jauh lebih murah, lebih cepat, dan menyelamatkan nyawa satwa dan manusia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Firman menilai penguatan pencegahan penting mengingat Way Kambas merupakan kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa dilindungi, seperti gajah, badak Sumatera, dan harimau Sumatera. Karena itu, sistem pengendalian karhutla harus mampu melindungi kawasan sekaligus mencegah kebakaran mengancam keselamatan satwa dan masyarakat di sekitar taman nasional.

Menurut Firman, terdapat sejumlah pembelajaran dari sistem penanganan karhutla di negara lain yang dapat disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Dalam konteks Way Kambas, Firman menekankan tiga langkah yang perlu berjalan berkesinambungan, yakni mencegah kebakaran sejak awal, mendeteksi titik api dengan cepat, serta mengerahkan kekuatan secara bersama ketika kebakaran terjadi.

"Kuncinya cuma tiga: cegah duluan, deteksi cepat, dan bergerak bareng. Ini yang harus segera kita terapkan di Way Kambas," ujar Firman.

Untuk memperkuat pencegahan, Firman mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat di desa penyangga serta penguatan upaya pencegahan di kawasan taman nasional. Sementara pada aspek deteksi dini, pemanfaatan kamera pemantau dan drone dinilai dapat membantu menemukan titik api lebih cepat sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

Selain pencegahan dan deteksi dini, Firman meminta pengelola TNWK memperhatikan kesiapan penyelamatan satwa apabila terjadi karhutla. Ketersediaan jalur evakuasi satwa, embung air di zona inti, serta standar operasional prosedur (SOP) penyelamatan dinilai perlu dipastikan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.

"Way Kambas ini ASEAN Heritage Park. Ini rumah terakhir Badak Sumatera," kata Firman.

"Kalau Way Kambas terbakar, kita kehilangan warisan dunia. Negara wajib hadir penuh di sini," sambungnya.

Terakhir, Firman menambahkan Komisi IV DPR RI akan mengawal kebutuhan penguatan sarana dan prasarana pencegahan serta deteksi dini karhutla di TNWK. Dukungan tersebut, menurutnya, perlu dipastikan dalam pembahasan anggaran agar pengendalian karhutla tidak hanya bersifat responsif, tetapi mampu mencegah kebakaran sejak awal.

Tonton juga video "Polri Tetapkan 112 Tersangka Karhutla, Modusnya Buka Lahan"

(akd/akd)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |