Jakarta -
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen untuk mempercepat pembangunan bandar antariksa nasional di Pulau Biak, Papua. Komitmen itu ditunjukkan melalui penguatan kerjasama dengan perusahaan antariksa Rusia, Roscosmos.
Penguatan kerjasama dilakukan saat kunjungan Kepala BRIN, Arif Satria ke markas Roscosmos di Rusia pada Rabu (8/4). Kolaborasi dengan Roscosmos menjadi langkah strategis dalam mendukung ambisi Indonesia membangun pelabuhan antariksa pertama di Asia Tenggara.
Saat meninjau Glavkosmos, Arif Satria juga menjajaki peluang kerja sama lebih lanjut, khususnya dalam aspek komersialisasi layanan antariksa. Menurutnya, pembangunan bandar antariksa di Biak membutuhkan kolaborasi global, terutama dengan negara yang memiliki pengalaman dan teknologi maju di sektor antariksa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena sekarang kami berencana membangun Bandar Antariksa di Pulau Biak, Papua dan tentu saja salah satu yang terbaik dari teknologi ruang angkasa adalah Rusia. Rusia adalah salah satu mitra kami dalam mengembangkan ekosistem antariksa kami,"ujar Arif Satria dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Adapun Biak dipilih karena letaknya yang dekat dengan garis ekuator. Hal itu memberikan keunggulan teknis dan efisiensi energi dalam peluncuran roket ke berbagai jenis orbit satelit.
Biak juga mempunyai ruang terbuka ke Pasifik sehingga roket tingkat awal bisa jatuh di laut lepas. Selain itu, ketersediaan infrastruktur dasar seperti pelabuhan dan bandara di Biak juga menjadi keunggulan tersendiri karena memudahkan distribusi dan transportasi komponen roket yang diproduksi di lokasi lain.
Arif Satria pun optimis kemitraan dengan Roscosmos dapat mempercepat pewujudan cita-cita Indonesia, yaitu memiliki pelabuhan antariksa pertama kalinya di Asia Tenggara.
"Kami percaya bahwa Rusia dengan pengalaman dan teknologi canggih barunya dapat membantu Indonesia dalam mencapai impian kami untuk menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki pelabuhan antariksa,"ujarnya.
Lebih jauh, Arif Satria menegaskan pembangunan bandar antariksa bukan semata proyek infrastruktur, tetapi bagian dari strategi besar membangun ekosistem antariksa nasional yang berdampak pada ekonomi.
"Karena ekosistem ruang angkasa sangat penting, ketika kita berbicara tentang ekosistem ruang angkasa, kita tidak hanya berbicara tentang roket. Tetapi ekosistem meningkatkan perekonomian, jadi bukan hanya fasilitas umum, tetapi juga untuk kegiatan ekonomi," katanya.
Melalui penguatan kerja sama ini, Arif Satria berharap pembangunan bandar antariksa di Biak dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan industri berbasis teknologi tinggi sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia di bidang antariksa.
"Kami berharap kapasitas kami semakin kuat, meningkatkan kemampuan kami dalam menciptakan ekosistem ruang angkasa," ujarnya.
Lihat juga Video: Prabowo Lanjut ke Prancis Bertemu Macron Usai dari Rusia
(ega/ega)


















































