Bingung THR Cepat Habis? Pakai Cara Ini Biar Makin Gak Boncos

12 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Tunjangan Hari Raya (THR) selalu jadi booster untuk masyakarat berbelanja kebutuhan lebaran atau bisa juga dialokasikan untuk tabungan sampai investasi.

Bagi yang menerima THR, engalokasikan dan mengelola dana dengan bijak menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi di kondisi ekonomi yang sedang tak menentu saat ini.

Lebaran tahun ini diawali dengan daya beli masyarakat yang lemah, bahkan selama dua bulan beruntun kita mengalami deflasi (month to month/mtm) pada Januari dan Februari 2025. Secara tahunan (year on year/yoy), Februari juga mengalami deflasi sebesar  0,09%.

Deflasi secara tahunan bahkan pertama kali terjadi lagi sejak 25 tahun. Ditambah tekanan defisit fiskal, laju penurunan suku bunga terhambat yang membuat efek suku bunga masih terasa, mata uang terdepresiasi, sampai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi.

Dari global, tantangan juga masih berlanjut, seperti Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang kembali berulah dengan menetapkan tarif balas dendam ke 160 negara, termasuk Indonesia.

Hal itu potensi menekan laju inflasi dunia lebih panas dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi hingga menyebabkan resesi.

Banyaknya ketidakpastian saat ini membuat kita harus lebih bijak dalam mengelola keuangan, baik dalam hal menabung, investasi, sampai pengeluaran.

Di sini ada beberapa tips yang bisa kita lakukan agar kita bisa menabung sampai mengalokasikan investasi dengan cara yang lebih bijak :

1. First Thing First : Mindset Sisihkan, Jangan Sisakan!

Mindset adalah fondasi utama dalam mencapai kesuksesan, dan salah satu pola pikir yang harus diterapkan adalah mendahulukan yang penting. Dalam hal keuangan, misalnya, banyak orang memiliki kebiasaan menggunakan uang untuk berbagai keperluan terlebih dahulu, lalu menyisihkan sisanya untuk tabungan.

Padahal, cara yang lebih bijak adalah dengan menyisihkan tabungan dan investasi di awal sebelum menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Dengan mindset "sisihkan, jangan sisakan," kita membentuk disiplin finansial yang lebih kuat dan memastikan bahwa tujuan jangka panjang tetap tercapai tanpa terganggu oleh pengeluaran yang tidak terencana.

2. Sesuaikan aset investasi dengan risiko toleransi

Berikutnya, adalah sesuaikan aset investasi yang mau kita alokasikan dari sebagian dana atau tabungan kita dengan risiko toleransi yang kita punya.

Toleransi risiko mengacu pada sejauh mana seorang investor siap menghadapi fluktuasi pasar dan potensi kerugian dalam portofolio investasinya.

Beberapa faktor yang memengaruhi toleransi risiko antara lain usia, tujuan keuangan, pendapatan, pengalaman investasi, serta kondisi psikologis dalam menghadapi ketidakpastian pasar.

Investor yang masih muda biasanya memiliki toleransi risiko lebih tinggi karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk memulihkan kerugian dibandingkan dengan mereka yang mendekati masa pensiun.

Selain itu, seseorang yang memiliki penghasilan stabil dan aset yang cukup cenderung lebih berani mengambil risiko dibandingkan mereka yang memiliki tanggungan besar atau penghasilan tidak tetap.

Bagi mereka yang memiliki toleransi risiko rendah atau konservatif, instrumen seperti emas, deposito, obligasi pemerintah, dan reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan karena cenderung lebih stabil dengan risiko minimal.

Investor dengan toleransi risiko menengah atau intermediate bisa mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap, obligasi korporasi, atau saham dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan (blue chip stocks).

Sementara itu, bagi investor dengan toleransi risiko tinggi atau agresif, aset seperti saham, cryptocurrency, atau properti dapat memberikan potensi keuntungan besar meskipun memiliki volatilitas tinggi.

3. Selalu Cicil Beli! Jangan All In

Di kondisi pasar yang sedang tidak tentu saat ini, strategi beli investasi saat ini lebih disarankan untuk cicil beli, atau lebih dikenal dengan metode dollar-cost averaging (DCA).

Namun, perlu dicatat, di kondisi saat ini, beli dengan metode DCA, akan lebih efektif di combine dengan analisis teknikal, supaya kita dapat momentum harga beli yang lebih tepat untuk mengoptimalkan peluang cuan.

Dengan cara ini, risiko akibat volatilitas pasar dapat dikurangi karena investor tidak terpaku pada satu harga beli tertentu. Misalnya, jika seseorang ingin berinvestasi di saham atau reksa dana, membelinya secara bertahap akan membantu mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dibandingkan membeli semuanya saat pasar sedang tinggi atau rendah.

Sebaliknya, strategi all-in sangat berisiko karena tidak ada yang bisa memprediksi pergerakan pasar dengan pasti. Jika seorang investor mengalokasikan seluruh dananya sekaligus dan pasar tiba-tiba mengalami penurunan tajam, nilai investasinya bisa anjlok dalam sekejap. Namun, dengan mencicil pembelian, investor tetap memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang harga murah saat pasar sedang turun, sekaligus menghindari tekanan psikologis akibat volatilitas tinggi.

Oleh karena itu, strategi "Selalu Cicil Beli! Jangan All In" adalah cara cerdas untuk mengelola risiko dan membangun portofolio investasi yang lebih stabil dan berkelanjutan.

4. Don't put all egg in one basket

Do not put all your eggs in one basket. Diversification is the key to reducing riskWarren Buffett

Dalam konsep investasi, peribahasa ini menekankan pentingnya diversifikasi, yaitu menyebarkan investasi ke berbagai aset atau instrumen keuangan untuk mengurangi risiko kerugian.

Jika seluruh modal hanya ditempatkan dalam satu jenis investasi, seperti saham dari satu perusahaan, maka ketika perusahaan tersebut mengalami penurunan nilai, seluruh investasi bisa ikut merugi. Sebaliknya, dengan membagi investasi ke berbagai sektor, kelas aset, atau wilayah geografis, kerugian pada satu area dapat diimbangi dengan keuntungan dari area lainnya.

Diversifikasi juga membantu investor menghadapi ketidakpastian pasar. Misalnya, selain berinvestasi di saham, seseorang bisa mengalokasikan dananya ke obligasi, properti, atau aset lain yang memiliki tingkat risiko berbeda.

Dengan strategi ini, portofolio investasi menjadi lebih stabil dan potensi pertumbuhan jangka panjang lebih terjamin. Inilah sebabnya mengapa investor sukses seperti Warren Buffett selalu menyarankan untuk tidak menaruh seluruh modal dalam satu keranjang, melainkan menyebarkannya secara strategis.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(tsn/tsn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |